<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976</id><updated>2012-01-29T06:35:06.105-08:00</updated><category term='elegi  kehidupan'/><category term='sebuah imajenasi'/><category term='ketika pikiran ada wajahnya'/><category term='efek masa kini'/><category term='mengkritisi karya anak negri'/><category term='musim ramadannya para artis'/><category term='kata hati'/><category term='cletukan otak'/><category term='karya untuk nasehat'/><category term='mutiara kata untuk kehidupan'/><title type='text'>lengkapi sejarah hidup dg "MENULIS"</title><subtitle type='html'>PEnulis Fiksi ISlami... harapan ITU MASIH ada!!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-4537075036276752841</id><published>2012-01-29T06:00:00.001-08:00</published><updated>2012-01-29T06:00:48.966-08:00</updated><title type='text'>“Sebuah Keteladanan”:  itu yang dibutuhkan pendidikan karakter</title><content type='html'>Bukan sebuah rahasia jika pendidikan Indonesia sering dikait-kaitkan dengan penanaman pendidikan karakter, baik dari tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi sekalipun. Memang keberadaannya sudah mengemuka. Terbukti, dalam rancangan pembelajaran pun sudah dimasuki bumbu-bumbu yang berbau pendidikan karakter. Dalam beberapa seminar pendidikan pun tak sedikit yang mengangkat tema yang tengah hits di kalangan pendidikan.&lt;br /&gt;Tapi, apakah pendidikan karakter itu masih berbau teori dari sebuah program besar Pak menteri untuk kebaikan bangsa? Ataukah sudah berwujud nyata menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda kita agar lebih berkarakter dalam memainkan peran pelajar dalam pembangunan? Jika diteliti lebih detail bagaimana kondisi saat ini masyarakat bangsa kita, maka akan menemui banyak hambatan dalam merealisasikan program brilian itu. Yang ada hanyalah sebuah wacana tanpa aji yang jelas bagi sasaran yang diinginkan.&lt;br /&gt;Program pendidikan karakter itu suatu ide yang sangat baik, semestinya juga harus baik dalam merancang konsep dan grand desaingnya agar berwujud subur di lahan hasilnya. Lantaran ciri kaum pelajar yang rata-rata masih remaja cenderung meniru, itulah khasnya. Mereka kerap meniru idola-idola dunia dengan berbagai dandanan unik hingga mengubah pula dandanan pemuda kita. Sungguh disayangkan jika program pendidikan karakter itu tidak dikaitkan dengan model idola teladan yang bisa dijadikan kiblat dalam mencontoh dan meniru bagaimana seharusnya memainkan peran karakter dalam program pak menteri itu.&lt;br /&gt;Kembali pada pelajar yang menjadi tujuan utama pendidikan karakter. Saat ini, mereka tidak hanya butuh teori yang akan menambah beban pikiran mereka, tapi yang dibutuhkan sekarang ialah sebuah keteladanan itu. Seperti sebuah ilustrasi yang ada di lingkungan kantor, bahwa seorang bawahan tidak akan melakukan pekerjaan jika tak ada perintah dari atasan. Jika seorang pemimpin memberi perintah dan contoh selayak yang diharapkan, maka bawahan pun otomatis akan melakukan itu dengan usaha dan kapasitasnya masing-masing bawahan.&lt;br /&gt;Sama halnya ketika program pendidikan karakter itu diterapkan, sosok teladan wajib ada sebagai model manusia yang bisa dicontoh siswa dalam mewujudkan pendidikan karakter dalam kesehariannya. Lantas pertanyaannya, siapakah yang cocok dijadikan teladan? dan apakah di Indonesia saat ini sudah ada sosok yang dimaksud?&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa bangsa ini punya banyak publik figur baik dari jajaran artis sampai kalangan pejabat pemerintahan. Satu diantara mereka bisa berpotensi menjadi teladan pendidikan berkarakter. Namun, ketika kembali melihat kondisi artis dan pejabat saat ini, sedikit yang mendapat sorotan kamera karena keteladanan mereka. Kebanyakan yang diekspose dari artis hanya kemewahan gaya hidup dan problematika yang sangat tak cocok dengan kaidah pendidikan karakter. Apalagi yang kerap muncul di berbagai media adalah berita tentang pejabat Indonesia yang sering tersandung kasus penggelapan uang dan saling suap antar elemen pejabat. Ataupun artis yang kerap ganti pasangan karena alasan yang tak masuk diakal. Yang ada hanya rasa tanda tanya besar melengkung di batin para pelajar, perangai mana yang pantas dicontoh dari mereka. Ironis sungguh.&lt;br /&gt;Pemerintah khususnya depertemen pendidikan nasional seyogyanya memakai model teladan dalam program pendidikan karakter. Mencari sosok yang berpotensial dalam merealisasikan program yang terbilang baru bagi pendidikan Indonesia. Sosok-sosok itu semestinya mulai dimunculkan di kalangan pejabat yang lebih pantas lantaran merekalah kaum intelektual, kaum yang mengambil kebijakan untuk hajat hidup banyak orang.&lt;br /&gt;Namun, melihat fenomena yang ada di jajaran pejabat negeri ini, bagaimanakah kabar keteladanan yang sampai saat ini sudah disumbangkan bagi pendidikan Indonesia? Mereka ramai-ramai dengan isu yang kerap mengotori wajah politik demokrasi bangsa ini, tidak lain dan tidak bukan adalah korupsi. Pendidikan karakter tidak hanya didengung-dengungkan sebagai program perbaikan karakter pelajar Indonesia, tapi apakah pejabat negeri ini sudah berkarakter sesuai tempatnya?  Ini yang perlu dievaluasi oleh pendidikan kita. Jangan hanya dimainkan dalam lingkungan pendidikan berupa teori saja, tapi lebih efektif jika prakteknya dilengkapi dengan sosok-sosok teladan yang patut dijadikan contoh bagaimana sejatinya menerapkan pendidikan karakter. &lt;br /&gt;Para pejabat negeri ini haruslah banyak bercermin. Anda semua adalah publik figur bangsa yang seharusnya memiliki karakter yang bisa dijadikan cerminan bagi para pelajar dalam mewujudkan pendidikan karakter yang sesungguhnya. Sekali lagi, para pelajar tak butuh teori saja dalam mengamalkan makna pendidikan karakter, namun mereka lebih butuh teladan yang langsung bisa dicontoh. Itu sebenarnya yang terpenting._w@fuyu_&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-4537075036276752841?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/4537075036276752841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=4537075036276752841' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/4537075036276752841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/4537075036276752841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2012/01/sebuah-keteladanan-itu-yang-dibutuhkan.html' title='“Sebuah Keteladanan”:  itu yang dibutuhkan pendidikan karakter'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-5056427614569731326</id><published>2011-08-30T12:24:00.000-07:00</published><updated>2011-08-30T12:24:32.596-07:00</updated><title type='text'>Semoga kembali "Fitri"</title><content type='html'>takbir berkumandang dari tiap-tiap menara masjid di seluruh pelosok dunia, mungkin tak hanya malam ini, malam kemaren pun demikian, lantaran perbedaan yang tak menjadi pembatas ukhuwah islamiyah umat muslim di bumi Allah ini. Subhanallah... semua bibir melantunkan kebesaran Allah Azza wa Jalla, semoga tidak hanya bibirnya yang bergetar, tapi hatinya pun ikut bergetar karena keimanan yang membuih. selepas sebulan kita diberikan bulan yang luar biasa dasyatnya. limpahan kesempatan pahala, rahmat, makbulnya sebuah do'a, maupun terbukanya peluang tobat yang bisa dilakukan siapa saja bagi hati-hati muslim yang dikehendaki-Nya. saat ini tibalah hari fitri. &lt;br /&gt;pertanyaan pun muncul dalam diri ini. fitri itu apakah hanya sebuah ucapan tanpa makna yang jika dihembuskan seperti kapas yang beterbangan tanpa bobot yang membuatnya memiliki kualitas, ataukah benar-benar menjadi kenyataan bagi jiwa yang "fitri" karena telah menghapus dosanya ketika ramadhan dilengkapi dengan saling membuka pintu maaf waktu lebaran tiba?? entahlah,, hanya setiap person lah yang tahu bagaimana kondisi "fitri" itu disematkan didirinya, selain itu ALLAH Maha Mengetahui atas masing-masing diri hamba-Nya.&lt;br /&gt;pada kesempatan ini, sang penulis blog juga menginginkan fitri itu sejatinya terpatri dalam hati dengan iman yang sungguh. Maaf lahir batin atas kesalahan yang pernah membekas dalam buku sejarah saya--Wafuyu.Say----:-))&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-5056427614569731326?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/5056427614569731326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=5056427614569731326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/5056427614569731326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/5056427614569731326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2011/08/semoga-kembali-fitri.html' title='Semoga kembali &quot;Fitri&quot;'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-6077162717137262710</id><published>2011-05-06T09:28:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T09:30:21.819-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>ASLM.... waahhhh lma tdk posting.. jd kangennn!!!&lt;br /&gt;baca yukk, cerpen hasil ukiran penaQ... udh terbitt cukup lama sichh,&lt;br /&gt;tp  pa2 ya.... mongggo silakan membaca hidangn maniss ini...&lt;br /&gt;sukron katsir....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-6077162717137262710?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/6077162717137262710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=6077162717137262710' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/6077162717137262710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/6077162717137262710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2011/05/aslm.html' title=''/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-8670003183243361700</id><published>2011-05-06T09:26:00.001-07:00</published><updated>2011-05-06T09:28:12.549-07:00</updated><title type='text'>cerpen_DESEMBER</title><content type='html'>BISMILLAH….&lt;br /&gt;15 desember 2010. 13.26, di mushala FIS UNESA&lt;br /&gt;“Di sebuah persimpangan…"&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hujan di siang ini memang sudah reda. Tapi ajinya masih membuat keadaan di perempatan jalan tepat dimana aku sekarang berada, tengah macet total. Mobilku kaku terdiam tak mampu bergerak sedikitpun. Sungguh malang diriku. &lt;br /&gt;Di sini, sesaat memori otakku membukakan satu peristiwa silam yang begitu menyakitkan. Benar-benar menyakitkan. Suasana di persimpangan seperti ini telah mengingatkanku pada runtuhnya pondasi kepecayaanku pada calon suami yang sudah sangat ku kenal. Hatiku tercabik-cabik bagaikan daging segar yang masih menjadi santapan harimau Sumatra di kebun binatang. Perih rasanya, sampai-sampai air mata yang susah untuk keluar dari mataku terpaksa menetes deras seperti banjir kiriman jakarta dari puncak bogor.&lt;br /&gt;Singkat cerita, Kala itu aku sungguh semangat menemani adikku untuk membeli buku ke sebuah toko buku terbesar di Surabaya. Adik dengan lihainya menyetir mobil yang baru ayah beli. Adik memang masih baru belajar, tapi kehebatannya patut diacungi jempol. Dia cerdik dalam menyiasati kemacetan dengan mampu menyari-nyari celah jalan yang mudah untuk dimanfaatkan. Namun dalam benakku tetap saja bersemayam rasa takut yang luar biasa ketika adik sedikit kehilangan kendali saat menyalip mobil pickup hitam yang mengangkut beberapa bahan bangunan. Lantas, saat hujan rintik-rintik yang kemudian berlanjut dengan petir menyambar disertai angin yang cukup kencang membuat kita harus berhenti mendadak di depan sebuah minimarket yang logonya kental dengan gambar lebah. Sekitar lima menit berlalu, aku pun menggantikan untuk menyetir. Adik berdalih sudah lelah dan takut akan jalanan yang mulai licin. Akhirnya di tengah perjalanan, aku dan adik harus terhenti lagi lantaran macet yang melanda. Aku kebingungan. Adik hanya bisa memaksa untuk cepat-cepat sampai ke tempat tujuan.&lt;br /&gt;Mobilku hanya bisa diam tak mampu bergerak sedikitpun. Mau ku arahkan ke kiri, terhalang oleh satu mobil kijang berwarna merah yang memiliki nasib yang sama dengan mobilku.  Jika ke kanan, sebuah sepeda motor matik warna hijau terlihat di depan. Lantas, kekesalanku bertambah ketika lampu merah mulai merona. Ku diamkan tanganku sejenak. Ku lihat adik sebentar, dia sudah terlelap tidur. Nampak sekali raut kantuknya. Ku biarkan dia dengan memandangi kendaraan yang terdampar di depan dan di samping kanan kiri mobilku. Saat ku lirik sepintas mobil xenia berwarna silver yang kacanya sengaja dibuka oleh si pengendaranya, aku terenyak. Wajah si pengendara itu tak asing bagiku. Samar-samar ku tebak, lelaki itu  seperti sosok yang satu bulan lagi akan menjadi teman hidupku. Ku tatap dalam-dalam, ternyata benar…dia Arman. Seorang ikhwan yang sudah mengikat hatiku. Pikirku tiba-tiba muncul sebuah tanda tanya yang besar. Dia mau kemana dengan mobil elok itu?. Tak lama, nampak seorang perempuan berkacamata di sampingnya. Ku mencoba mencari celah agar jelas menyelidiki apa yang sebetulnya terjadi pada calon suamiku itu. Ku melihatnya tanpa satu kedipan, ingin mengetahui sinya-sinyal aneh yang mungkin ku tangkap dari gerak-gerik keduanya. Mereka lama ku perhatikan, tapi tak dapat sedikitpun sinyal-sinyal yang ku maksud. Hanya ku lihat Arman mengasihkan handphone ke perempuan itu dengan sikap yang biasa. Terlihat biasa, tapi aku semakin penasaran. Siapa sebenarnya perempuan cantik itu?. &lt;br /&gt;Setelah kejadian aneh itu, Arman tak lagi menanyakan perkembangan persiapan pernikahan kita. Telepon genggamku hanya diam tak sekalipun terdengar suara tanda pesan darinya. Jiwaku sunyi jika keadaan terus seperti ini. Peristiwa tak lazim di persimpangan jalan kala itu begitu membuat aku terus berpikir dan bertanya-tanya, siapa sebenarnya perempuan cantik yang ada di dalam mobil bersama Arman? Benakku menggaungkan berjuta kemungkinan terburuk yang tak ku inginkan. Rasa cemburu tiba-tiba memenuhi otakku yang berlanjut pada hatiku yang kian sempit dari rasa ikhlas atas apa yang akan terjadi nanti. &lt;br /&gt;Dua hari selepas itu, ayah nampak marah sesaat setelah menerima telpon dari seseorang. Aku mendengar suara ayah yang keras dari balik pintu kamar. Satu sms langsung mendarat di nomerku.&lt;br /&gt;kak, kluar sana!!!&lt;br /&gt;Ayah marah2 gr2&lt;br /&gt;dpt telpn dr bang Arman.&lt;br /&gt;aku terperanjat membaca sms itu. Tak banyak basa-basi, aku pun langsung keluar kamar dan menemui ayah. “Ayah, ada apa ?” suaraku pelan lantaran masih dihinggapi gemetar yang luar biasa. “APA KAU SUDAH MATANG-MATANG MEMUTUSKAN INGIN MENIKAH DENGAN LELAKI TAK BERTANGGUNG JAWAB ITU. HAH !!!!” teriak ayah sangat keras hingga membuat mataku meneteskan air mata. Hatiku sudah bisa membaca pikiran ayah.&lt;br /&gt;“Maksud ayah apa?”&lt;br /&gt;“Benar-benar kurang ajar anak itu.......” gerutu ayah sambil menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;“Ayah, apa yang sebenarnya terjadi?”&lt;br /&gt;Kulihat pula Ibu semakin terisak dengan tangisannya. Aku tambah yakin dengan perkiraanku tentang pernikahan ini yang kemungkinan akan…gagal !&lt;br /&gt;“Tiba-tiba Arman telpon Ayah. Dan dia dengan mudahnya membatalkan pernikahan denganmu.”&lt;br /&gt;Wajahku terpaku mendengar ucapan ayah. Serasa tersambar petir aku waktu itu. Terkejut bukan main. Bibirku termangu tak mampu mengutarakan apapun. Otakku penuh dengan isakan kesedihan. Dan hatiku, berteriak tak karuan. Aku benci dengan keadaan seperti ini. Arman telah merusak sebentuk kebahagiaan yang sudah terlanjur tebangun di istana jiwaku dan jiwa keluargaku. Dia pun telah menghancurkan rencana indah keluargaku tentang pernikahan ini, pernikahan yang sejatinya sebagai bentuk ibadah. Aku hanya diam seribu bahasa dan aliran air mata ini sekedar menjadi pelampiasan pedih yang sudah tergambar jelas di tiap lekuk wajahku. Ku lihat ayah langsung pergi setelah itu. Dan Ibu, beliau juga sepertiku. Naluri seorang perempuan memang terlukis seperti ini, hanya bisa menangis dan menangis.&lt;br /&gt;Astaghfrullah, aku sampai tak sadar kalau lampu hijau sudah menyala cukup lama, pantas saja klakson mobil belakang berkali-kali terdengar memekakkan telingaku. Akhirnya, mobil yang ku kendarai saat ini melaju juga meski tubuhku masih kaku.&lt;br /&gt;Di persimpangan itu, telah membuka kembali luka lamaku yang masih belum kering. Udara keikhlasan masih terlalu sibuk untuk menyejukkan hatiku.  Dia masih berpaling dari beningnya suara nurani. Jujur, aku memang masih terluka. Kerap suasana macet di persimpangan Kota Surabaya membuat luka itu kembali menganga dengan perihnya yang hebat. Seperti teriris belati yang tajam.  Tempat yang selalu ku hindari karena ku benci adalah persimpangan jalan dengan macet yang membuatku harus terdiam dan lagi-lagi harus teringat momen pahit itu.  Apalagi dengan ditambah rintikan hujan yang besar. Wah….entah bagaimana jadinya sebentuk hatiku yang mulai rapuh itu.&lt;br /&gt;Alhamdulillah ….&lt;br /&gt;Gresik… 22 Januari 2011. 11.36&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-8670003183243361700?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/8670003183243361700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=8670003183243361700' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/8670003183243361700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/8670003183243361700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2011/05/cerpendesember.html' title='cerpen_DESEMBER'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-7841128358408770050</id><published>2011-05-06T09:23:00.000-07:00</published><updated>2011-05-06T09:25:30.220-07:00</updated><title type='text'>cerpen_NOVEMBER</title><content type='html'>15 nov 2010&lt;br /&gt;Bismillah…&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di Sebuah Senja....&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anugrah yang terindah…&lt;br /&gt;Yang kini ku anggap…&lt;br /&gt;Satu mulai semua hidup yang baru……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepuk tangan pun terdengar menggema di aula pertemuan salah satu SMA swasta elit di kota Bandung setelah lagu terakhir berkumandang dari grup nasyid “fathir Voice”. Hampir semua wajah anggota nasyid tersebut memerah malu-malu. Lantas, sebuah suara berat membawa kelima punggawa dakwah di SMA Negeri 2 Bandung itu kembali ke tempat duduk di bagian belakang.&lt;br /&gt;Setelah mereka duduk, lima kotak makan siang tiba-tiba menghampiri, muka Sigit nampak semangat isyarat perutnya sedari tadi berdendang ria ingin dijamah oleh sesuap makanan sekali pun.&lt;br /&gt;“Mangga(1)… dimakan nasinya…!!!” ujar salah seorang panitia ikhwan dengan senyum mengembang ketika menyuguhkan beberapa kotak nasi dan bingkisan. &lt;br /&gt;“Ooohh…hatur nuhun(2) ya akhi..” balas Sigit dengan riangnya.&lt;br /&gt;“sama-sama…”&lt;br /&gt;Mereka pun tak perlu banyak basa-basi untuk menyantap rezeki di siang bolong seperti ini. Apalagi Sigit, lekuk senyumnya semakin lebar ketika yang terlihat di kubangan kotak nasi berwarna putih ialah ayam panggang. Selang beberapa detik, handphone Erfan bergetar hingga suaranya terdengar beberapa rekan di sebelahnya. Erfan pun mengambil benda kecil itu di tas ranselnya. Tulisan “abi” di layar HP-nya spontan membuat perasaanya tumbuh sejuta akar pertanyaan.&lt;br /&gt;“ Hallo Assalamualaikum…”&lt;br /&gt;“ Wa alaikum salam. Erfan, bisa pulang agak cepat ?”&lt;br /&gt;“ Ada apa yah ?”&lt;br /&gt;“ Sudahlah, lakukan apa yang ayah suruh. Ayah mohon…tut…tut…tut….”&lt;br /&gt;Tak lama suara ayah di seberang sana menghilang. Pesan urgent tadi malah membuatnya semakin terjerat pada zona aman untuk terus menebak. Tapi untuk kali ini Erfan tak sekali pun bernafsu main tebak-tebakan.&lt;br /&gt;Akhirnya, ia pun meminta izin kepada keempat temannya yang masih asyik menikmati makanan. “ Lho Fan, ini nasinya nggak kamu bawa aja pulang ?”&lt;br /&gt;‘ nggak, kamu kasihkan bang Dadang aja… atau… ke pak Ruri!!! ah, tafadhol kalian aja deh. Afwan, ane nggak ikut rapat, ada pesan urgent dari ayah….!! Assalamualaikum…”&lt;br /&gt;“ Wa alaikum salam..” balas mereka serentak sambil melihat langkah Erfan yang tergopoh-gopoh.&lt;br /&gt;“ Kenapa tuch Erfan, kayaknya ada kepentingan mendadak”&lt;br /&gt;“ Husnudzon aja, siapa tahu dia dibelikan ayahnya rumah baru “ celetuk Araz menimpali prasangka Reza.&lt;br /&gt;“ Amin Ya Robb…” koor terdengar pelan dari mulut ketiga pemuda(Araz, Reza, dan Furqan) yang masih basah oleh air minum terkecuali Sigit. Ia tengah sibuk dengan tulang belulang yang masih tebal terbalut daging ayam. Bibirnya memerah karena sambalnya terlalu pedas untuk ukuran dia.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Erfan deg-deg’an ketika kakinya memasuki rumahnya. Tak nampak siapa pun, hanya suara TV yang terdengar menggema membuatnya ingin mengambil posisi duduk di depan TV yang keberadaanya ada di ruang tengah. Namun, langkahnya terhenti kala suara lembut menyapanya. Jabat tangan pun ia ulurkan khusus untuk wanita sholehah di depannya.&lt;br /&gt;“ Lagi nunggu ayah ya..?”&lt;br /&gt;“ Iya Bu. Beliaunya sudah pulang”&lt;br /&gt;“ Sudah, tapi masih sholat.. tunggu aja di depan TV “&lt;br /&gt;Perasaan Erfan kian tak mampu menahan untuk menyimpan segudang tanya ini. Ia pun tak ingin berlarut-larut terjebak dalam keadaan seperti ini. Suara TV yang membahana ia manfaatkan untuk melepas perasaan aneh itu. Tak berselang lama saat konsentrasinya memusat ke layar monitor televisi, tubuh ayahnya tiba-tiba mendekati dirinya.&lt;br /&gt;Suaranya yang besar membuatnya nampak gemetar. Entah apa yang terjadi kali ini. Ia juga merasa tak mengerti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanpa berceloteh ngalor-ngidul, perkataan ayahnya to the point. Kalimat terakhir yang diucapkan benar-benar membuatnya tak berkutik. Erfan terdiam seraya menunduk sedih.&lt;br /&gt;“……..ya…kita harus pindah ke Jakarta...”&lt;br /&gt;Lantas, kedua pasang anak dan bapak itu terpenjara dalam keheningan siang, meski suara salah bersatu program berita di TV tetap berkoar. Akhirnya pertanyaan pria paruh baya itu memecah suasana sunyi itu, “Tidak apa-apa kan nak, kita pindah?”&lt;br /&gt;Erfan hanya termangu bingung. Ia tak berdaya untuk menolak keputusan ayahnya yang ada kaitannya dengan masa depannya nanti. Anggukan pelan terpaksa ia lakukan walau berat rasanya hati ini mengorganisir kepala untuk mengiyakan itu. “Berat sungguh....”rintihan batinnya. Beberapa menit setelah itu, kakinya ia gerakkan untuk meninggalkan ruangan yang tiba-tiba senyap dan menggerahkan jiwa.&lt;br /&gt;Pria berkacamata itu hanya bisa memandangi Erfan yang spontan pergi dengan memperlihatkan wajah melan kholisnya. Beliau sebenarnya tak tega jika harus mengorbankan keluarganya berbondong-bondong pindah demi pekerjaan yang bersemayam di pundaknya.&lt;br /&gt;Di dalam kamar, Erfan terjerembab dalam lamunan. Konflik batin membuat wajahnya kusut. Selain itu, kepalanya pun mulai terasa pening, meski hal seperti ini hampir tak pernah melandanya. Langit-langit kamar entah kenapa menari-nari sendiri di depan pelupuk matanya. Pandangannya kabur dan tubuhnya spontan terjatuh ke tempat tidurnya. Erfan masih sadar, walaupun badannya tak berdaya untuk bangkit. Pikirnya tetap memusat pada perkataan ayahnya yang hampir membuatnya pinsan. Ia pun tak mengerti entah mengapa hal demikian menjadikan kondisi jiwanya yang semakin tak terkendali. Otaknya tiba-tiba memutar rekaman singkat hasil analisanya tentang fakta yang kemungkinan terjadi jika ia sekeluarga jadi pindah ke Jakarta dan meninggalkan seluruh kenangan yang tergores di kota parahyangan Bandung. Mungkin, teman-teman satu kelasnya akan sering bertanya, “Kenapa pindah Fan?, nggak rugi ninggalin kita-kita?? Kan SMA tinggal setahun doank Fan?....”&lt;br /&gt;Atau mungkin, rekan-rekan seperjuangan di Rohis terkejut harus kehilangan salah satu punggawa dakwahnya. Dan mungkin, dirinya akan menangisi sisa-sisa kenangan selama perjalanannya menjadi orang terpenting di tim nasyid andalan Rohis SMAN 2 Bandung, Fathir Voice pun mungkin harus mencari sosok yang akan menggantikannya, mungkin....&lt;br /&gt;Kepalanya tambah pusing. Tubuhnya gemetar, tak mampu menahan gejolak hatinya yang membuat otaknya terpaksa memikirkan hal-hal yang kian amburadul jika dihiraukan.&lt;br /&gt;Ini mungkin terlihat terlalu berlebihan, atau mungkin nampak dramatis, toh hanya pindah ke kota metropolitan seperti Jakarta. Tidak separah dengan kehilangan sebuah nyawa manusia. Namun, di balik wajahnya yang tegar tersembunyi naluri yang lemah ketika menghadapi hal sepele seperti ini, harus siap memiliki lingkungan baru yang mungkin bisa ia ikuti atau bahkan tidak sama sekali. Entahlah...&lt;br /&gt;Setelah perang batin yang menggoyahkan ketahanan tubuhnya, matanya tak sanggup menahan kokohnya kelopak yang sedikit basah oleh air rindu pada beberapa teman-teman SMA-nya sesama aktivis dakwah. Ia benar-benar begitu lemah.&lt;br /&gt;Sekitar satu jam Erfan tertidur pulas bersama seragam batik birunya. Ia tak menyadari sama sekali. Dengan tubuh yang masih lunglai dan mata yang tetap memerah, ia bangkit dan melangkah ke kamar mandi untuk membasahi beberapa bagian tubuhnya sesuai rukun syah wudlu. Dengan hentak kaki yang pelan, dari kejauhan pandangan ibunya terus merekam bagaimana lekuk bibir Erfan yang nampaknya sukar untuk melengkung. Beliau membiarkan anak muda itu diam beberapa jam hari ini. Esoknya, baru ia dekati dengan segudang kata-kata bijak yang siap untuk ditancapkan di hati anandanya yang sangat ia dambakan. Dan keputusan pindah rumah tetap goal meski Erfan terlihat tak setuju.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di sekolah, Erfan terlihat tenang. Matanya yang merah sudah nampak pudar. Terdengar namanya mengudara di salah satu lorong sekolahnya tepat berada di lantai dasar.&lt;br /&gt;“Fan, ini file contoh proposal acara mabit tahun lalu. Mungkin setelah ini kamu bisa mengkopinya. Di folder organisasi, buka saja...kemudian ada file proposal mabit, nah itu?” ujar perempuan salah satu teman Rohisnya yang baru-baru ini memakai kerudung lebar sambil menyerahkan flashdisk berwarna hitam.&lt;br /&gt;“oh ya...sukron” tanggapnya dengan arah pandangan ke bawah.&lt;br /&gt;Perempuan tadi pun pergi sesudah membalas ucapan terima kasihnya. Di posisi yang sama, Erfan kembali terdiam. Dia baru saja ingat satu lagi amanah di kegiatan Rohis yang akan diadakan satu bulan ke depan. Jabatan sekretaris telah menumpu di pundak kurusnya. Lantas, bagaimana kelanjutan kinerjananya jika dalam satu minggu ini, ia dan sekeluarga akan menyiapkan segala hal yang berurusan dengan kepindahannya ke Jakarta ?.&lt;br /&gt;“Gawat...ini gimana jadinya ?” ucapnya sembari menampakkan wajah gelisah.&lt;br /&gt;Tak lama, Araz dan Reza datang mengagetkan Erfan yang berdiri terpaku sedari tadi dengan memegang sebuah benda kecil berisi data-data penting milik teman akhwatnya tadi.&lt;br /&gt;Suara keras memanggil nama Erfan tak ayal membuat beberapa siswa di sekitar tempat itu melihat dengan sorot mata aneh.&lt;br /&gt;“kamu kok ngelamun Fan, lagi mikiran apa aja sih ?”&lt;br /&gt;“Belum ngerjain tugas Fisika ?”timpal Araz menyambung guyonan Reza.&lt;br /&gt;“oh...nggak. Aku, aku...”&lt;br /&gt;“Kamu kenapa to Fan?” celetuk Reza melihat Erfan yang agak aneh pagi ini.&lt;br /&gt;Nampak lama Erfan diam dengan menatap pohon-pohon mangga di depannya. Dan kedua ikhwan itu hanya bisa melihat lelaki kurus di depannya dengan paras bertanyaa-tanya.&lt;br /&gt;Lantas, dengan suara tak setegas biasanya, Erfan berkata sesuatu yang membuat Araz dan Reza penasaran.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ketika suasana langit sudah menampakkan senjanya yang begitu indah dan sinar matahari yang mulai meredup akan waktu petang yang telah menantinya. Hampir seluruh murid SMAN 2 Bandung keluar dari kelas masing-masing setelah suara bel pertanda pelajaran hari ini sudah rampung, begitu halnya dengan Araz dan Reza. Kedua pemuda yang sama-sama berjenggot tipis itu telah nangkring dengan santainya di kantin yang sedari tadi menunggu Erfan untuk mengatakan sesuatu. Hal-hal lucu sudah memenuhi pikiran keduanya, Araz dengan asyik bermain dengan alam khayalnya yang berupa perkiraan bahwa dirinya dengan Reza akan dapat traktiran spesial entah itu di kantin ini atau di suatu rumah makan yang wah....??? entahlah. Pikir Araz dengan gaya nyengirnya. Lain hal yang terjadi di dunia imajenasi Reza, malah dalam otaknya sudah terbangun menara dugaan yang sulit untuk dipercaya, “Mungkin...si Erfan akan berkata jujur kalau dirinya sudah berniat mengkhitbah(3) adiknya... “. Hanya sebatas itu hatinya berucap, kemudian tiba-tiba muncul kembali ingatannya perihal guyonan Erfan saat memuji keelokan wajah adiknya beberapa bulan yang lalu ketika Erfan berkunjung ke kediamannya. Tapi itu hal yang tak mungkin untuk keadaan seperti ini. Cengengesan hanya terlukis dari lekuk bibir Reza.&lt;br /&gt;Tak berselang lama, Erfan datang bersamaan dengan Sigit dan Furqon. Kemudian kelimanya duduk melingkar menghadap satu meja berwarna putih yang disitu terdapat satu botol caos dan kecap, satu mangkuk kecil yang penuh dengan sambel serta satu wadah tempat tusuk gigi.&lt;br /&gt;“Mak jah!!! Enam bakso dan enam es teh ya...”teriak Erfan saat dirinya tiba di kerumunan siswa yang terkenal sebagai punggawa nasyid SMA N 2 Bandung itu. &lt;br /&gt;“Tuh kan, bener apa yang ku duga. Kita semua ditraktir...”seloroh Araz membuat semuanya tertawa dengan lepas. Namun, Erfan hanya tersenyum melihat semua wajah kelima sahabatnya yang cerah dengan suara tawa yang renyah. Hatinya merasa tak mampu membayangkan bagaimana raut muka saban lelaki yang ada di hadapannya ketika sesaat ucapan perpisahan keluar dari mulutnya. Pasti air muka mereka akan berubah drastis. Hingga dia sengaja membawa dirinya tertawa sepuas-puasnya sampai kubangan bakso di mangkoknya habis dan hanya menyisakan dua alat distribusi makanan ke lubang mulut, alias sendok dan garbu. Begitu juga halnya yang terungkap dari lima orang hanif itu. Dan kini tinggal nasib es teh yang tak semua berhasil terteguk ke seluruh tenggorokan laskar fathir voice.&lt;br /&gt;Setelah cukup lama Erfan berusaha menahan sesuatu yang akan diutarakannya siang ini, akhirnya untaian kata bernuansa sedih itu terucap juga. ”Oiya....ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua”, tiba-tiba semua mata tertuju pada Erfan dan serentak suara teredam dengan perkataannya.&lt;br /&gt;“Besok, hari minggu...aku beserta keluargaku akan pindah ke Jakarta”&lt;br /&gt;Spontan wajah Sigit, Araz, Reza, dan Furqan tertegun. Mata mereka tak berkedip sama sekali. Tubuh mereka pun nampak kaku.&lt;br /&gt;“Pindah ke Jakarta Fan?”celetuk Furqan terkejut.&lt;br /&gt;“Emmm...iya...!!! mungkin ini kabar buruk yang sebetulnya aku juga tak berharap demikian. Ini keputusan yang sangat sulit untuk aku terima. Sulit sekali. Kalian tahu... yang membuat berat untuk pindah, adalah kalian. Berat untuk meninggalkan kalian.”&lt;br /&gt;Tiba-tiba Erfan terdiam, lantas tertunduk. Air mata Araz tak dinyana keluar juga. Dia langsung memeluk Erfan yang kebetulan duduk di sampingnya. Sigit hanya menatap Erfan yang keberadaannya agak jauh dengannya. Wajah Furqan hanya memelas kemudian telapak tangannya menepuk pundak Erfan yang saat itu mencoba untuk tegar. Sementara itu, Reza menahan tangisnya dengan membasuhkan kedua telapak tangannya ke mukanya. Sungguh terasa sakit dari apa yang dirasakan keenam remaja alim itu.&lt;br /&gt;Araz benar-benar cengeng kala itu. Ia tak mampu menghentikan genangan air mata yang terus-terusan memenuhi kelopak matanya. Ia sungguh lemah sejak ucapan Erfan sengaja terucap.&lt;br /&gt;Semuanya terdiam. Hanya suara parau sambil memanggil-manggil nama Erfan terdengar dari bibir Araz. Nampak hanya dia yang teramat sangat kehilangan. Namun semuanya sama-sama kehilangan Erfan yang juga banyak andil dalam dakwah di SMAN 2 dan keberhasilan tim nasyid  Fathir Voice yang saat ini masih tetap eksis di wilayah Bandung. Nama grup nasyid Fathir kian mengudara karena loyalitas Erfan juga dan rekan-rekan lainnya. “ Ini benar-benar sulit untuk dimengerti.” Desah batin seorang Araz. Ia memang cukup dekat dengan Erfan, pantas saja ia sangat terpukul dengan berita ini.&lt;br /&gt;Erfan menjadi merasa bersalah akan ucapan yang baru mereka dengar dari mulutnya. Entah kesalahan dari cara menyampaikannya atau isi perkataannya yang susah untuk dipahami kenyataannya.&lt;br /&gt;Senja ini, kelima punggawa fathir voice harus ikhlas melepaskan suara Erfan sebagai vokal utama di saat-saat mereka menjajal kemampuan di depan umum atau pada sesi latihan. Senja yang kelam bagi mereka. Pemandangan langit Senja yang awalnya terlihat cerah dan begitu menarik mata setiap sosok yang memperhatikannya, tiba-tiba tergantikan dengan suasana menakutkan bagi mata yang memandangnya. Senja yang menjadi detik-detik terakhir mereka memandang wajah Erfan. Wajah teduh yang dilengkapi dengan pesona satu lesung pipi kecil jika senyum ia kembangkan. Berat sangat dirasakan kelima lelaki itu. Mungkin hanya air mata hati yang bisa tertetes dari pelupuk jiwa mereka terdalam, dan bukan air dari mata yang tertahan di kelopak mata teguh mereka. Hanya Araz yang tak sanggup menahan kokohnya pertahanan kesedihan itu. Kesedihan akan kehilangan sesosok sahabat terdekat mereka. Sahabat di saat perjuangan dakwah tengah gencar-gencarnya diluncurkan, sahabat di saat suara emas mereka sedang menjadi idola kawula muda pejuang rohis di seluruh sudut kota mode Bandung.&lt;br /&gt;Keteguhan yang nampaknya dibutuhkan oleh semuanya. Keteguhan Erfan untuk rela dan tanpa beban lagi meninggalkan semua kenangan di sekolah yang telah membesarkannya. Keteguhan lima ikhwan tadi yang harus ikhlas melepaskan Erfan untuk berani mengepakkan rona dan warna hidupnya di Jakarta, sekalipun itu kota besar yang tak sedikit tersembunyi terjal akan perjuangan hidup panjang di usia mudanya. Senja ini, perasaan ikhlas yang mau tak mau harus keenam pemuda hanif itu sejukkan dan redamkan di kalbu mereka masing-masing.&lt;br /&gt;Di senja ini...sungguh raib akan kebahagiaan dan berat sungguh untuk menuturkan pada dunia.&lt;br /&gt;25 nov.2010&lt;br /&gt;Alhamdulillah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-7841128358408770050?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/7841128358408770050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=7841128358408770050' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/7841128358408770050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/7841128358408770050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2011/05/cerpennovember.html' title='cerpen_NOVEMBER'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-2512895722704265632</id><published>2010-08-20T17:44:00.000-07:00</published><updated>2010-08-20T17:44:12.228-07:00</updated><title type='text'>Renungan untuk Aktivis Dakwah</title><content type='html'>&lt;object style="background-image:url(http://i1.ytimg.com/vi/LYwlslJfzCM/hqdefault.jpg)"  width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/LYwlslJfzCM?fs=1&amp;amp;hl=en_US"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/LYwlslJfzCM?fs=1&amp;amp;hl=en_US" width="425" height="344" allowScriptAccess="never" allowFullScreen="true" wmode="transparent" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-2512895722704265632?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/2512895722704265632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=2512895722704265632' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/2512895722704265632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/2512895722704265632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2010/08/renungan-untuk-aktivis-dakwah_20.html' title='Renungan untuk Aktivis Dakwah'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-204757832880453025</id><published>2010-08-20T17:03:00.000-07:00</published><updated>2010-08-20T17:29:07.397-07:00</updated><title type='text'>Kini, Palangkaraya pun menjadi sorotan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iXdip2RAZZo/TG8apgCG0YI/AAAAAAAAADI/QgGTnmd4xG8/s1600/5.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 256px; height: 177px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iXdip2RAZZo/TG8apgCG0YI/AAAAAAAAADI/QgGTnmd4xG8/s320/5.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5507650169573134722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semenjak wacana pemindahan Ibukota gencar disiarkan media, tiba-tiba pusat dari Propinsi Kalimantan Tengah itu jadi perhatian khalayak negeri ini. Ya, Palangkaraya tak ubahnya menjadi pilihan banyak kalangan untuk memindah lokasi Ibukota Republik Indonesia. &lt;br /&gt;Motivasi itu pun bermula dari inisiatif Presiden pertama kita, yakni Ir. Soekarno. Banyak pihak memandang Palangkaraya memiliki beberapa nilai plus untuk dijadikan Ibukota sebuah Negara. &lt;br /&gt;Palangkaraya terletak di tengah-tengah wilayah NKRI dan memiliki posisi yang strategis sebagai pusat pemerintahan. Selain itu, kota yang menjadi bagian dari pulau Kalimantan ini mengapung di atas kulit bumi yang tidak terdapat patahan lempeng. Hal lain yang menjadi kelebihan Palangkaraya adalah, kota ini tidak dilewati oleh rangkaian gunung api dunia, baik dari jalur sirkum pasifik maupun sirkum mediteran.&lt;br /&gt;Sehingga, jika prediksi bencana alam berupa gempa bumi, seperti gempa tektonik ataupun gempa vulkanik, Kalimantan dan terkhusus Kota Palangkaraya sendiri, tidak menjadi wilayah rawan akan hal tersebut. &lt;br /&gt;Dan bagaimana sekarang pemerintah dalam menanggapi wacana ini, semoga menjadi pertimbangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-204757832880453025?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/204757832880453025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=204757832880453025' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/204757832880453025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/204757832880453025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2010/08/kini-palangkaraya-pun-menjadi-sorotan.html' title='Kini, Palangkaraya pun menjadi sorotan'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iXdip2RAZZo/TG8apgCG0YI/AAAAAAAAADI/QgGTnmd4xG8/s72-c/5.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-9179589987479752598</id><published>2010-03-13T02:00:00.004-08:00</published><updated>2010-03-13T02:08:33.625-08:00</updated><title type='text'>Geografi pada kenyataannya</title><content type='html'>Geografi, mata pelajaran ini sempat akan dihapus dari daftar penentu UNAS siswa SMA jurusan Ilmu Sosial yang keberadaannya sedikit terdengar miris. Keberadaanya pun agak tidak diutamakan di sekolah menengah baik menengah atas maupun menengah pertama. Lebih miris lagi bahwa pelajaran ini hanya menjadi pelengkap kurikulum dan guru yang memberi materi berasal dari lulusan yang bukan murni geografi. Sehingga sang pengajarnya pun tidak professional seperti yang diharapkan.&lt;br /&gt;Namun, dibalik kemalangan nasib geografi yang seakan dianaktirikan itu sebenarnya mengandung sejuta manfaat yang orientasinya pada kecintaan alam serta pengenalan masyarakat sebagai penghuni bumi. Jika saja geografi jadi salah satu mata pelajaran utama dan jamnya diperbanyak, maka pengetahuan pelajar tentang wilayah-wilayah NKRI yang diungkap melalui penyajian peta, potensi alam Indonesia yang banyak diutarakan pada sumber daya alam ataupun seluk beluk geosfer yang tersaji sepenuhnya, akan sanggup menggulingkan kekrisisan pemahaman generasi muda tentang tanah airnya saat ini. Serta, mampu meminimalisasi kemungkinan masyarakat awam acuh pada pengembangan kekayaan alam Indonesia yang begitu luar biasa. Orang asing pun tidak akan lagi dengan mudah membodohi penduduk nusantara jika kita benar-benar tahu potensi dan ketahanan alam Indonesia melalui pelajaran geografi yang pada dasarnya akan menguliti kandungan wilayah bumi dan semesta ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-9179589987479752598?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/9179589987479752598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=9179589987479752598' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/9179589987479752598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/9179589987479752598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2010/03/geografi-pada-kenyataannya.html' title='Geografi pada kenyataannya'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-6495440094068287465</id><published>2010-03-13T02:00:00.003-08:00</published><updated>2010-03-13T02:05:48.017-08:00</updated><title type='text'>Aku ingat luar biasanya Ibu</title><content type='html'>Aku masih ingat. Dulu, ibu selalu memarahiku jika hujan tiba, entah itu hujan lebat atau hanya hujan biasa, aku masih berkeliaran di luar rumah mencari kesenangan bersama temen-teman sebayaku. Ibu juga selalu marah jika aku selalu membangkang ketika ogah-ogahan potong rambut. Atau, ketika ibu menasehatiku dengan serius tapi tiba-tiba aku menyelanya tanpa sopan-santun, atau mungkin aku sering tidak percaya terhadap apa yang beliau bicarakan karena lebih percaya pada omongan orang lain dari topik yang sedang dibicarakan. Aku masih ingat betul bagaimana raut muka ibu ketika marah, wajahnya merah padam serta nada suara yang agak meninggi yang kerap terdengar hingga ke telinga tetangga. Aku memang sering melakukan kesalahan, kelalaian ataupun kebodohan yang membuatku di mata Ibu sebagai anak yang biasa saja dan tidak sepertia apa yang beliau harapkan. Dulu, aku dan kakak selalu berada di bawah pantauannya di saat bapakku pergi merantau ke Surabaya demi memenuhi kebutuhan kami di desa. Ibu sekaligus berusaha menjadi bapak yang tanggung jawabnya lebih besar. Dengan keadaan rumahku yang banyak kekurangan di mana-mana, entah itu atap yang bocor ketika hujan atau seringnya sarang rayap muncul berturut-turut di sebelah tembok yang tepat berada di tepian lantai rumah kayuku. Aku sering iba melihat ibu yang dengan susah payahnya berkorban melindungi kita dari hujan lebat yang membuat atap rumahku seperti langit yang menumpahkan air di mana-mana, di setiap sudut runah. Karena aku masih kecil, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa melihat ibu yang lalu lalang bersama kakak mencari wadah yang mampu menampung air hujan agar tidak membanjiri rumahku yang kala itu masih berlantaikan tanah. Ironisnya, meski ibu dan kakak sudah berusaha menghalangi air hujan tadi, lantainya tetap saja basah, becek dan perasaan tidak nyaman mau tidak mau memenjara aku, kakak serta ibu dengan kondisi rumah yang seperti dataran banjir. Aku benar-benar tidak nyaman, sungguh tidak nyaman. Dan aku sangat percaya, bahwa ibu lebih tidak nyaman. Namun, kekuatan dan ketegaran yang penuh terlihat dari kedua mata ibu.&lt;br /&gt;Dan aku masih menyimpan memori dalam otakku sebuah perjuangan ibu dahulu yang besar kepada kami. Misalnya saja, saat kakak menginjak bangku SMA,waktu itu kakak yang bersekolah di sebuah SMU Muhamadiyah di Kecamatan kami yang jaraknya jauh  dari rumah. Dan di kala musim penghujan yang hujannya datang di sore hari, petaka datang tak diundang ke benak ibu. Ibu merasa was-was luar biasa ketika kakak tak kunjung pulang. Lantas dengan jiwa besarnya, ibupun tanpa pikir panjang dengan mengambil sepeda tetangga dan dikayuhnya untuk memastikan keberadaan kakak di maghrib yang lama-kelamaan kian gelap. Tak hanya sekali Ibu menemui keadaan seperti ini, bahkan hampir di tiap hari di waktu penghujan datang. Meski saat itu aku kecil dan masih sangatlah polos, tapi aku mampu membaca ketabahan yang tercermin dari tiap derap langkahnya mengambil keputusan.&lt;br /&gt;Saat aku SD dulu. Aku pernah merasakan keharuan ketika berpisah sementara dengan ibu. Waktu itu aku diberi amanah oleh sekolah bersama teman-teman saya untuk mengikuti perkemahan selama tiga hari di sebuah desa yang cukup jauh dari desa kami, sehingga guru kami berpesan agar para orang tua tidak perlu susah-susah untuk menjenguk kami di bumi perkemahan itu. Aku pun spontan mendoktrin ibu agar tak usah melihatku. Namun, kenyataan berjalan lain, tiba-tiba di suatu siang kala perkemahan sudah menemui hariku, ibu berjalan mendatangi tenda kami dengan menjinjing satu bungkus makanan yang sebelumnya aku tidak tahu itu apa. Aku pun terkejut bukan kepalang saat aku menemui beliau. Yang kukatakan pertama saat beliau menatapku adalah kata-kata dengan nada marah-marah.&lt;br /&gt;“Bu…, kenapa kesini??” Ibu hanya terdiam melihatku dengan sorot kerinduan di matanya. &lt;br /&gt;“Ibu kangen Yu, sama kamu. Tadi malam ibu tidak bisa tidur.” Kata-katanya datar, namun entah mengapa aku jadi terharu sendiri. &lt;br /&gt;“Aku kan sudah bilang sama ibu, ibu nggak usah jauh-jauh kesini. Tadi ibu dianterin siapa?”      &lt;br /&gt;“Dianterin cak Jainun. Ini ada jeruk makan sana sama teman-temanmu.”ujarnya sedari menyerahkan sebungkus jeruk kepadaku.&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, ibu diajak bicara oleh beberapa guruku. Tapi, tidak berselang lama, ibu jadi agak pendiam. Wajahnya melas melihat keadaan sekitar. Ku tatap matanya dalam-dalam, aku melihat sirat kesedihan yang terpancar tanpa kesadarannya. &lt;br /&gt;“Ibu sekarang pulang saja.” Beliau pun memandangku dengan gurat keanehan.”Ya sudah, ibu pulang saja.”&lt;br /&gt;Mata ibu spontan memerah, sepertinya ingin menangis. Tapi aku tak menampakkan tanda-tanda selayaknya beliau. Aku malah menggiringnya untuk pulang. Mungkin aku kejam saat itu. Hanya memberi kesempatan sekian menit untuk melepas kerinduannya padaku. Entah mengapa kala itu paradigmaku membentuk suatu pemikiran bahwa ibu tak boleh menjengukku. Ibu jangan datang ke bumi perkemahan itu. Dan paradigma sadis itu membuat hati ibu hancur berkeping-keping. Akhirnya, sesaat setelah itu,ibu pun pergi dengan tangisan hati yang mendalam. Bibir kecilku telah membawanya pada jeritan hati yang tak pernah beliau sangka sebelumnya, niatnya ingin menemuiku untuk melenyapkan rasa kangen yang membuncah padaku, ternyata berakhir dengan kepedihan yang melilit jantungnya. Maafkan aku ibu, aku telah menyakiti hatimu.&lt;br /&gt;Saat ibu sudah pergi, aku pun kebelakang tenda untuk  mencuci piring. Di situ, entah apa yang sedang terjadi dengan diriku. Tiba-tiba aku menangis, meneteskan air mata penyesalan yang luar biasa. Di tempat itu aku baru menyadari, kalau sosoknya sudah tak nampak lagi di depan kedua mataku. Aku benar-benar menyesal. Aku hanya bisa menjatuhkan tetesan penyesalan tentang kebodohan yang ku perbuat di depan ibuku sendiri, ibu yang sembilan bulan telah mengasihiku dalam susah payahnya, dalam peluh pengorbanannya serta dalam naungan rindu tulusnya yang tidak akan pernah bertepi hingga kapanpun. &lt;br /&gt;Tapi, aku tetap menganggap ibu adalah ibu yang luar biasa. Kerja kerasnya tak akan luntur hingga tubuhnya masih kuat untuk menopang segala jenis amanah yang membebani pundaknya. Ketika memasuki masa-masa akhir di SD, bibir ibu sedikit bisa terangkat dan melengkung dengan manisnya wajah yang beliau persembahkan. Hal Ini berawal ketika kakak sudah dipinang oleh seorang laki-laki yang hampir tiga tahun menjadi wali kelasku saat SD dulu. Ya…,kakak menikah dengan guru SDku. Meski begitu, beban ibu masih saja menggelantung di pundaknya yang kerap menimbulkan air mata di setiap munajat malamnya. Pernikahan kakak yang seharusnya diliputi perasaan bahagia, ternyata membuat perasaan ibu kalang kabut. Ada suatu omong-omongan yang mengganjal di hati ibu dan itu sudah menyebar di masyarakat. Lantaran memikirkan hal itu, air mata beliau sering jatuh seraya gelisah yang memadati ruang hatinya. Namun sejalan dengan waktu tak mungkin kembali lagi, isu yang berkembang di masyarakat lama-kelamaan hilang dan beban ibu pun tak lagi terasa. Ibu senantiasa memohon pada-Nya tentang segala hal yang menjadi benalu dalam pikirnya, termasuk masalah tadi yang amat membuat tidur beliau berhari-hari tak nyenyak. &lt;br /&gt;Dan, pengorbanan ibu tidak berhenti begitu saja. Ibu semakin terlihat perjuangannya ketika naluri bersekolahku sangat tinggi. Yang kulihat  perjuangan ibu begitu besar adalah di waktu aku duduk di bangku SMA. Peluhnya terasa mengalir amat deras seiring do’a tulusnya untukku. Dengan penghasilan bapak yang pas-pasan, peran ibu pun menjadi dominan. &lt;br /&gt;Ku ingat sungguh ketika ibu semangat menerima pekerjaan sebagai buruh tani di setiap hari-harinya, tapi ibu juga tidak melepas tanggung jawabnya merawat sawah yang merupakan warisan dari nenek dulu. Pekerjaan buruh tani yang mungkin dianggap remeh orang lain, ternyata malah berpotensi menjadi jembatan bagi beliau untuk menyekolahkanku. Gaji sepuluh ribu perak hanya beliau terima dalam setengah hari. Dan setengah hari itu, ibu harus bertarung dengan panas, keringat yang menggerahkan tubuh serta rasa penat yang kian menggangu ketika lelah mulai menempel di setiap persendian kaki dan tanganya. Di waktu malam pun tiba, sering ku dengar keluhan dari bibir tebalnya dan ku lihat guratan keletihan yang mengantongi raut tuanya. Juga tak jarang ku perhatikan di waktu senja menjemput berjuta bintang di langit malam, rasa pening akan beban hidup juga tergambar jelas dari gerak-gerik tubuhnya yang lemas.&lt;br /&gt;Ku ingat betul kebiasaan ibu ketika bangun pagi-pagi mendahului kokokan ayam jantan bersahut-sahutan, ibu bangun bukan dengan kesejukan mata yang terpancar, melainkan dengan kepenatan agenda harian yang menuntutnya untuk terus produktif dan tegas dalam memahami waktu. Meski berat, tapi ibu tetap bersemangat. Lantas pagi pun mengajaknya untuk terus bergerak dan bergerak, tanggung jawab masak di setiap pagi-paginya memaksa beliau untuk tahan banting meski tubuhnya tengah memeluk keletihan, apalagi ketika saya dituntut mengikuti kegiatan yang mau tidak mau mengharuskan saya membawa bekal ke sekolah. Itu yang membuat beliau harus bangun sejak fajar masih terlalu dini untuk muncul. Segala macam bahan masakan yang sudah dipreparekan juga dengan lihai diolahnya. Meski peluh bercucuran, otot dan urat kencang dengan jelas terlihat hingga menunjukkan begitu besar pengorbanan beliau padaku. Setelah siap hidangan pagi, ibu pun tidak lantas berhenti begitu saja. Beliau memang sungguh luar biasa, sepetak sawah juga telah menunggunya di saban mentari merotasi hingga siang jua datang dengan lamban.&lt;br /&gt;Ibu memang selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga, termasuk juga aku. Aku masih ingat kala aku terpaksa pulang sampai menjelang maghrib. Dengan tubuh yang sangat lemah dan kepenatan yaang mulai menyempitkan semangat diri. Ibu datang dengan senyum seraya perintah lewat tuturnya yang hangat dari bibirnya. ”Yu...mandinya dengan air hangat ya...?”ternyata beliau sudah menyiapkan air hangat untuk aku mandi. Itu yamg membuat aku selalu tersenyum dengan satu pepatah, ”Kalau mandi di malam hari pakai air dingin, nanti kena rematik” ya...aku sedikit tersenyum dengan kata-kata ibu itu. Tapi di balik itu, ibu ingin memberikan perlindungan untuk aku maupun untuk semuanya. &lt;br /&gt;Ibu memang sangat protektiv, karena sifat protektiv itulah ibu sangat memperhatikan dan menyayangi kami. Mungkin dengan naluri keibuannyalah, tindak tanduknya yang protektiv tadi muncul dengan sendirinya dalam bentuk respon di setiap kejadian yang terjadi di sekitar. Ya...terkadang respon itu terasa berlebihan padaku, sehingga memicu image”Anak mami”melekat erat padaku. Sebenarnya...agak risih sih, tapi lama-kelamaan aku menyadari kalau kata-kata itu benar-benar ku butuhkan seiring kecilnya kesempatan bersama beliau dan memandang wajahnya yang bersahaja. Mataku hanya bergelut dengan keseharian di sekolah yang terkadang menyita waktu. Tapi aku sangat bangga ketika diberi julukan ”Anak mama”, ketika aku membutuhkannya, ibu tanpa pamrih membantuku dengan tangan suciya. Contohnya saja ketika aku terjatuh sakit. Ibu tanpa segan langsung membawaku ke bidan untuk mengecek keadaanku. Dan disaat itulah peran ibu sangat ku butuhkan. Banyak petuah yang keluar dengan sendirinya demi kesehatanku yang tengah drop. Dan siapa lagi yang dengan tulus memberikan itu, hanya Ibulah yang bisa semuanya. Hanya Ibu dan hanya Ibu  dengan kendali di bawah kekuasaan-Nya.&lt;br /&gt;Selepas aku SMA, tidak hanya aku yang merasa kebingungan atas kemanakah arah aku selanjutnya setelah jenjang pendidikan 12 tahun ku tunaikan. Dalam hati kecilku selalu menyerukan ”Ingin kuliah...ingin kuliah...ingin kuliah...”. Bukannya aku terlalu berambisi, tapi dorongan niat yang kuat memacuku untuk segera menamatkanku sebagai seorang mahasiswa. Tapi dibalik itu semua, ada sesuatu yang mengganjal di hati ibu. Pertanyaan-pertanyaan sering muncul mendatangkan duri yang mengganggu hati ibu. Seperti satu pertanyaan mengharukan ini ”Apa aku punya tabungan untuk menguliahkan anakku ini?? Darimana nanti uang yang aku dapatkan jika anakku benar-benar kuliah. Darimana?? Aku tak punya bekal apa-apa untuk aku jual. Meski ada sawah, tak bisa dengan mudah mendatangkan uang di genggamanku” uraian perasaan ibu membuat hatiku sungguh iba. Satu momem di mana jiwa Ibu merasa perih ketika mendengar tanpa sengaja perbincangan dua orang Ibu wali murid ketika acara purnawisma (keluusan) berlangsung di sekolahku. Salah satu Ibu itu berkata ”Sampeyan sudah menyiapkan tabungan berapa untuk anak sampeyan kuliah??”, Ibu yang satunya menjawab ”Ya...kira-kira sepuluh jutaan...”. Spontan kata-kata tadi menyusup sendirinya ke hati Ibu. Pertanyaan kembali muncul, ”Lantas sudah berapa nominal yang sudah kupersiapkan untuk kuliah anakku”. Ya Allah, sugguh pertanyaan yang amat ironis di tengah-tengah krisis finansial yang melilit ekonomi keluarga kami meski kakak terkadag mumbuka tangan untuk membantu. Dan dengan kesungguhannya berdo’a, akhirnya aku diberikan kemudahan bisa diterima di sebuah negeri Universitas di Surabaya. Hingga saat ini, Ibu masih menjadi sososk yang begitu luar biasa. Dari aku tertidur pulas dalam gendongan perut buncitnya sampai sekarang aku bisa sedikit demi sedikit meraih bintang kehidupan yang cemerlang walau belum berwujud sebuah materi di hadapannya. Ibu, ku selalu ingat jamahan tangan darimu yang tanpa lelah, pengorbanan hati dan pikiran yang tak pernah kering serta nasehat-nasehat mutiara yang membangun semagat jiwa ini. Ibu, kau benar-benar luar biasa. Aku akan selalu ingat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-6495440094068287465?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/6495440094068287465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=6495440094068287465' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/6495440094068287465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/6495440094068287465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2010/03/aku-ingat-luar-biasanya-ibu.html' title='Aku ingat luar biasanya Ibu'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-575402438605059732</id><published>2010-03-13T02:00:00.002-08:00</published><updated>2010-08-20T17:27:54.170-07:00</updated><title type='text'>Aku ingat luar biasanya Ibu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iXdip2RAZZo/TG8dYSYZB1I/AAAAAAAAADQ/4SNUYEyrKMc/s1600/6.jpeg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 159px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iXdip2RAZZo/TG8dYSYZB1I/AAAAAAAAADQ/4SNUYEyrKMc/s320/6.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5507653172385613650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat. Dulu, ibu selalu memarahiku jika hujan tiba, entah itu hujan lebat atau hanya hujan biasa, aku masih berkeliaran di luar rumah mencari kesenangan bersama temen-teman sebayaku. Ibu juga selalu marah jika aku selalu membangkang ketika ogah-ogahan potong rambut. Atau, ketika ibu menasehatiku dengan serius tapi tiba-tiba aku menyelanya tanpa sopan-santun, atau mungkin aku sering tidak percaya terhadap apa yang beliau bicarakan karena lebih percaya pada omongan orang lain dari topik yang sedang dibicarakan. Aku masih ingat betul bagaimana raut muka ibu ketika marah, wajahnya merah padam serta nada suara yang agak meninggi yang kerap terdengar hingga ke telinga tetangga. Aku memang sering melakukan kesalahan, kelalaian ataupun kebodohan yang membuatku di mata Ibu sebagai anak yang biasa saja dan tidak sepertia apa yang beliau harapkan. Dulu, aku dan kakak selalu berada di bawah pantauannya di saat bapakku pergi merantau ke Surabaya demi memenuhi kebutuhan kami di desa. Ibu sekaligus berusaha menjadi bapak yang tanggung jawabnya lebih besar. Dengan keadaan rumahku yang banyak kekurangan di mana-mana, entah itu atap yang bocor ketika hujan atau seringnya sarang rayap muncul berturut-turut di sebelah tembok yang tepat berada di tepian lantai rumah kayuku. Aku sering iba melihat ibu yang dengan susah payahnya berkorban melindungi kita dari hujan lebat yang membuat atap rumahku seperti langit yang menumpahkan air di mana-mana, di setiap sudut runah. Karena aku masih kecil, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa melihat ibu yang lalu lalang bersama kakak mencari wadah yang mampu menampung air hujan agar tidak membanjiri rumahku yang kala itu masih berlantaikan tanah. Ironisnya, meski ibu dan kakak sudah berusaha menghalangi air hujan tadi, lantainya tetap saja basah, becek dan perasaan tidak nyaman mau tidak mau memenjara aku, kakak serta ibu dengan kondisi rumah yang seperti dataran banjir. Aku benar-benar tidak nyaman, sungguh tidak nyaman. Dan aku sangat percaya, bahwa ibu lebih tidak nyaman. Namun, kekuatan dan ketegaran yang penuh terlihat dari kedua mata ibu.&lt;br /&gt;Dan aku masih menyimpan memori dalam otakku sebuah perjuangan ibu dahulu yang besar kepada kami. Misalnya saja, saat kakak menginjak bangku SMA,waktu itu kakak yang bersekolah di sebuah SMU Muhamadiyah di Kecamatan kami yang jaraknya jauh  dari rumah. Dan di kala musim penghujan yang hujannya datang di sore hari, petaka datang tak diundang ke benak ibu. Ibu merasa was-was luar biasa ketika kakak tak kunjung pulang. Lantas dengan jiwa besarnya, ibupun tanpa pikir panjang dengan mengambil sepeda tetangga dan dikayuhnya untuk memastikan keberadaan kakak di maghrib yang lama-kelamaan kian gelap. Tak hanya sekali Ibu menemui keadaan seperti ini, bahkan hampir di tiap hari di waktu penghujan datang. Meski saat itu aku kecil dan masih sangatlah polos, tapi aku mampu membaca ketabahan yang tercermin dari tiap derap langkahnya mengambil keputusan.&lt;br /&gt;Saat aku SD dulu. Aku pernah merasakan keharuan ketika berpisah sementara dengan ibu. Waktu itu aku diberi amanah oleh sekolah bersama teman-teman saya untuk mengikuti perkemahan selama tiga hari di sebuah desa yang cukup jauh dari desa kami, sehingga guru kami berpesan agar para orang tua tidak perlu susah-susah untuk menjenguk kami di bumi perkemahan itu. Aku pun spontan mendoktrin ibu agar tak usah melihatku. Namun, kenyataan berjalan lain, tiba-tiba di suatu siang kala perkemahan sudah menemui hariku, ibu berjalan mendatangi tenda kami dengan menjinjing satu bungkus makanan yang sebelumnya aku tidak tahu itu apa. Aku pun terkejut bukan kepalang saat aku menemui beliau. Yang kukatakan pertama saat beliau menatapku adalah kata-kata dengan nada marah-marah.&lt;br /&gt;“Bu…, kenapa kesini??” Ibu hanya terdiam melihatku dengan sorot kerinduan di matanya. &lt;br /&gt;“Ibu kangen Yu, sama kamu. Tadi malam ibu tidak bisa tidur.” Kata-katanya datar, namun entah mengapa aku jadi terharu sendiri. &lt;br /&gt;“Aku kan sudah bilang sama ibu, ibu nggak usah jauh-jauh kesini. Tadi ibu dianterin siapa?”      &lt;br /&gt;“Dianterin cak Jainun. Ini ada jeruk makan sana sama teman-temanmu.”ujarnya sedari menyerahkan sebungkus jeruk kepadaku.&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, ibu diajak bicara oleh beberapa guruku. Tapi, tidak berselang lama, ibu jadi agak pendiam. Wajahnya melas melihat keadaan sekitar. Ku tatap matanya dalam-dalam, aku melihat sirat kesedihan yang terpancar tanpa kesadarannya. &lt;br /&gt;“Ibu sekarang pulang saja.” Beliau pun memandangku dengan gurat keanehan.”Ya sudah, ibu pulang saja.”&lt;br /&gt;Mata ibu spontan memerah, sepertinya ingin menangis. Tapi aku tak menampakkan tanda-tanda selayaknya beliau. Aku malah menggiringnya untuk pulang. Mungkin aku kejam saat itu. Hanya memberi kesempatan sekian menit untuk melepas kerinduannya padaku. Entah mengapa kala itu paradigmaku membentuk suatu pemikiran bahwa ibu tak boleh menjengukku. Ibu jangan datang ke bumi perkemahan itu. Dan paradigma sadis itu membuat hati ibu hancur berkeping-keping. Akhirnya, sesaat setelah itu,ibu pun pergi dengan tangisan hati yang mendalam. Bibir kecilku telah membawanya pada jeritan hati yang tak pernah beliau sangka sebelumnya, niatnya ingin menemuiku untuk melenyapkan rasa kangen yang membuncah padaku, ternyata berakhir dengan kepedihan yang melilit jantungnya. Maafkan aku ibu, aku telah menyakiti hatimu.&lt;br /&gt;Saat ibu sudah pergi, aku pun kebelakang tenda untuk  mencuci piring. Di situ, entah apa yang sedang terjadi dengan diriku. Tiba-tiba aku menangis, meneteskan air mata penyesalan yang luar biasa. Di tempat itu aku baru menyadari, kalau sosoknya sudah tak nampak lagi di depan kedua mataku. Aku benar-benar menyesal. Aku hanya bisa menjatuhkan tetesan penyesalan tentang kebodohan yang ku perbuat di depan ibuku sendiri, ibu yang sembilan bulan telah mengasihiku dalam susah payahnya, dalam peluh pengorbanannya serta dalam naungan rindu tulusnya yang tidak akan pernah bertepi hingga kapanpun. &lt;br /&gt;Tapi, aku tetap menganggap ibu adalah ibu yang luar biasa. Kerja kerasnya tak akan luntur hingga tubuhnya masih kuat untuk menopang segala jenis amanah yang membebani pundaknya. Ketika memasuki masa-masa akhir di SD, bibir ibu sedikit bisa terangkat dan melengkung dengan manisnya wajah yang beliau persembahkan. Hal Ini berawal ketika kakak sudah dipinang oleh seorang laki-laki yang hampir tiga tahun menjadi wali kelasku saat SD dulu. Ya…,kakak menikah dengan guru SDku. Meski begitu, beban ibu masih saja menggelantung di pundaknya yang kerap menimbulkan air mata di setiap munajat malamnya. Pernikahan kakak yang seharusnya diliputi perasaan bahagia, ternyata membuat perasaan ibu kalang kabut. Ada suatu omong-omongan yang mengganjal di hati ibu dan itu sudah menyebar di masyarakat. Lantaran memikirkan hal itu, air mata beliau sering jatuh seraya gelisah yang memadati ruang hatinya. Namun sejalan dengan waktu tak mungkin kembali lagi, isu yang berkembang di masyarakat lama-kelamaan hilang dan beban ibu pun tak lagi terasa. Ibu senantiasa memohon pada-Nya tentang segala hal yang menjadi benalu dalam pikirnya, termasuk masalah tadi yang amat membuat tidur beliau berhari-hari tak nyenyak. &lt;br /&gt;Dan, pengorbanan ibu tidak berhenti begitu saja. Ibu semakin terlihat perjuangannya ketika naluri bersekolahku sangat tinggi. Yang kulihat  perjuangan ibu begitu besar adalah di waktu aku duduk di bangku SMA. Peluhnya terasa mengalir amat deras seiring do’a tulusnya untukku. Dengan penghasilan bapak yang pas-pasan, peran ibu pun menjadi dominan. &lt;br /&gt;Ku ingat sungguh ketika ibu semangat menerima pekerjaan sebagai buruh tani di setiap hari-harinya, tapi ibu juga tidak melepas tanggung jawabnya merawat sawah yang merupakan warisan dari nenek dulu. Pekerjaan buruh tani yang mungkin dianggap remeh orang lain, ternyata malah berpotensi menjadi jembatan bagi beliau untuk menyekolahkanku. Gaji sepuluh ribu perak hanya beliau terima dalam setengah hari. Dan setengah hari itu, ibu harus bertarung dengan panas, keringat yang menggerahkan tubuh serta rasa penat yang kian menggangu ketika lelah mulai menempel di setiap persendian kaki dan tanganya. Di waktu malam pun tiba, sering ku dengar keluhan dari bibir tebalnya dan ku lihat guratan keletihan yang mengantongi raut tuanya. Juga tak jarang ku perhatikan di waktu senja menjemput berjuta bintang di langit malam, rasa pening akan beban hidup juga tergambar jelas dari gerak-gerik tubuhnya yang lemas.&lt;br /&gt;Ku ingat betul kebiasaan ibu ketika bangun pagi-pagi mendahului kokokan ayam jantan bersahut-sahutan, ibu bangun bukan dengan kesejukan mata yang terpancar, melainkan dengan kepenatan agenda harian yang menuntutnya untuk terus produktif dan tegas dalam memahami waktu. Meski berat, tapi ibu tetap bersemangat. Lantas pagi pun mengajaknya untuk terus bergerak dan bergerak, tanggung jawab masak di setiap pagi-paginya memaksa beliau untuk tahan banting meski tubuhnya tengah memeluk keletihan, apalagi ketika saya dituntut mengikuti kegiatan yang mau tidak mau mengharuskan saya membawa bekal ke sekolah. Itu yang membuat beliau harus bangun sejak fajar masih terlalu dini untuk muncul. Segala macam bahan masakan yang sudah dipreparekan juga dengan lihai diolahnya. Meski peluh bercucuran, otot dan urat kencang dengan jelas terlihat hingga menunjukkan begitu besar pengorbanan beliau padaku. Setelah siap hidangan pagi, ibu pun tidak lantas berhenti begitu saja. Beliau memang sungguh luar biasa, sepetak sawah juga telah menunggunya di saban mentari merotasi hingga siang jua datang dengan lamban.&lt;br /&gt;Ibu memang selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga, termasuk juga aku. Aku masih ingat kala aku terpaksa pulang sampai menjelang maghrib. Dengan tubuh yang sangat lemah dan kepenatan yaang mulai menyempitkan semangat diri. Ibu datang dengan senyum seraya perintah lewat tuturnya yang hangat dari bibirnya. ”Yu...mandinya dengan air hangat ya...?”ternyata beliau sudah menyiapkan air hangat untuk aku mandi. Itu yamg membuat aku selalu tersenyum dengan satu pepatah, ”Kalau mandi di malam hari pakai air dingin, nanti kena rematik” ya...aku sedikit tersenyum dengan kata-kata ibu itu. Tapi di balik itu, ibu ingin memberikan perlindungan untuk aku maupun untuk semuanya. &lt;br /&gt;Ibu memang sangat protektiv, karena sifat protektiv itulah ibu sangat memperhatikan dan menyayangi kami. Mungkin dengan naluri keibuannyalah, tindak tanduknya yang protektiv tadi muncul dengan sendirinya dalam bentuk respon di setiap kejadian yang terjadi di sekitar. Ya...terkadang respon itu terasa berlebihan padaku, sehingga memicu image”Anak mami”melekat erat padaku. Sebenarnya...agak risih sih, tapi lama-kelamaan aku menyadari kalau kata-kata itu benar-benar ku butuhkan seiring kecilnya kesempatan bersama beliau dan memandang wajahnya yang bersahaja. Mataku hanya bergelut dengan keseharian di sekolah yang terkadang menyita waktu. Tapi aku sangat bangga ketika diberi julukan ”Anak mama”, ketika aku membutuhkannya, ibu tanpa pamrih membantuku dengan tangan suciya. Contohnya saja ketika aku terjatuh sakit. Ibu tanpa segan langsung membawaku ke bidan untuk mengecek keadaanku. Dan disaat itulah peran ibu sangat ku butuhkan. Banyak petuah yang keluar dengan sendirinya demi kesehatanku yang tengah drop. Dan siapa lagi yang dengan tulus memberikan itu, hanya Ibulah yang bisa semuanya. Hanya Ibu dan hanya Ibu  dengan kendali di bawah kekuasaan-Nya.&lt;br /&gt;Selepas aku SMA, tidak hanya aku yang merasa kebingungan atas kemanakah arah aku selanjutnya setelah jenjang pendidikan 12 tahun ku tunaikan. Dalam hati kecilku selalu menyerukan ”Ingin kuliah...ingin kuliah...ingin kuliah...”. Bukannya aku terlalu berambisi, tapi dorongan niat yang kuat memacuku untuk segera menamatkanku sebagai seorang mahasiswa. Tapi dibalik itu semua, ada sesuatu yang mengganjal di hati ibu. Pertanyaan-pertanyaan sering muncul mendatangkan duri yang mengganggu hati ibu. Seperti satu pertanyaan mengharukan ini ”Apa aku punya tabungan untuk menguliahkan anakku ini?? Darimana nanti uang yang aku dapatkan jika anakku benar-benar kuliah. Darimana?? Aku tak punya bekal apa-apa untuk aku jual. Meski ada sawah, tak bisa dengan mudah mendatangkan uang di genggamanku” uraian perasaan ibu membuat hatiku sungguh iba. Satu momem di mana jiwa Ibu merasa perih ketika mendengar tanpa sengaja perbincangan dua orang Ibu wali murid ketika acara purnawisma (keluusan) berlangsung di sekolahku. Salah satu Ibu itu berkata ”Sampeyan sudah menyiapkan tabungan berapa untuk anak sampeyan kuliah??”, Ibu yang satunya menjawab ”Ya...kira-kira sepuluh jutaan...”. Spontan kata-kata tadi menyusup sendirinya ke hati Ibu. Pertanyaan kembali muncul, ”Lantas sudah berapa nominal yang sudah kupersiapkan untuk kuliah anakku”. Ya Allah, sugguh pertanyaan yang amat ironis di tengah-tengah krisis finansial yang melilit ekonomi keluarga kami meski kakak terkadag mumbuka tangan untuk membantu. Dan dengan kesungguhannya berdo’a, akhirnya aku diberikan kemudahan bisa diterima di sebuah negeri Universitas di Surabaya. Hingga saat ini, Ibu masih menjadi sososk yang begitu luar biasa. Dari aku tertidur pulas dalam gendongan perut buncitnya sampai sekarang aku bisa sedikit demi sedikit meraih bintang kehidupan yang cemerlang walau belum berwujud sebuah materi di hadapannya. Ibu, ku selalu ingat jamahan tangan darimu yang tanpa lelah, pengorbanan hati dan pikiran yang tak pernah kering serta nasehat-nasehat mutiara yang membangun semagat jiwa ini. Ibu, kau benar-benar luar biasa. Aku akan selalu ingat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-575402438605059732?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/575402438605059732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=575402438605059732' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/575402438605059732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/575402438605059732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2010/03/aku-ingat-luar-biasanya-ibu_13.html' title='Aku ingat luar biasanya Ibu'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iXdip2RAZZo/TG8dYSYZB1I/AAAAAAAAADQ/4SNUYEyrKMc/s72-c/6.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-942602793490772996</id><published>2010-03-13T02:00:00.001-08:00</published><updated>2010-03-13T02:04:44.259-08:00</updated><title type='text'>London I’m Coming</title><content type='html'>London…London…&lt;br /&gt;Ingin ku kesana…&lt;br /&gt;London…London…&lt;br /&gt;Sesaat lagu ini baru masuk ke gendang telingaku mengiringi otakku yang bekerja menekan bibirku agar lancar bicara ala-ala bule tulen yang biasa melancong ke Pulau Dewata Bali dengan sedikit menumpuk harapanku untuk berhasil besok. Yap…tinggal hitungan jam tubuhku bersiap mengepak jalan pikiranku guna bersahabat menancapkan angan-angan terpendam di langit-langit biru London. &lt;br /&gt;Memang angan-angan itu teraneh selama aku hidup. Selama itupun aku tak kunjung sukses pergi melanglangbuana ke daratan Britania Raya. Aku masih ingat, dulu kala aku duduk di bangku sekolah strata SMP, Pak Ruyan pernah bercerita tentang London yang indah. Tentang megahnya pusat Inggris Raya yang penuh dengan tata kota yang menakjubkan mata.&lt;br /&gt;Aku pun beranjak. Ku sunyikan suasana dan suara musik yang mendebur sudut kamarku. Lagu Hijrah ke London milik The Changcuters perlahan senyap menemani sunyinya malam ini. Mataku terpaksa masuk terbasahi oleh kelopak yang terasa berat seakan terpancung oleh beban seberat lima puluh kilogram. Lama-kelamaan tubuhku penuh pegal yang mendera. Entah berapa juta butir-butir persoalan yang masuk terpaksa ku pikirkan.&lt;br /&gt;Akhirnya yang kulihat hanya hitam menggelayut bersama lembaran kantuk yang menghalus. Segala sesuatu yang mengunci dalam jendela otakku serasa hilang ditelan cepat oleh naluri kesunyian hati. Pelan-pelan malam demi malam diiringi oleh kumpulan embun sejuk mendatangkan pagi yang damai.&lt;br /&gt;Ketika ku bangun dari ketenangan tempat tidur, serasa ku sangat kecewa. Rencana matang yang ku tulis dalam hati dan ku panjatkan sebelum tidur, harus pupus lantaran waktu yang menjeratku dalam kedinginan. Ku ingin bangun di tengah malam itu. Awal pagi atau sebelum subuh mataku siap mengucap harapan indah seraya membersihkan dosa dan melantunkan selaksa do’a dengan sholat bersimpuh pada-Nya. Aku tak sempat mencurahkan hatiku pada Rabb, Dzat yang benar-benar sempurna. Ku ingin Dia tahu lebih jauh tentang harapanku siang nanti, meski Dia lebih tahu soal seluk beluk hatiku dan pikiranku. Namun, semoga aku mampu menggenggam anugrah terindah dalam hidupku. Menggenggam mimpi yang tak sekedar mimpi, merenggut semangat yang tak hanya terbukti dalam bibir semata.&lt;br /&gt;Lantas, penuh daya ku bangun dari kemalasan yang sempat terlintas dan secepatnya kupudarkan segalanya yang menghambat nyali diri ini. Ku segerakan menjamah air wudlu dan mengambilnya, kemudian shalat subuh di atas sajadah merah pemberian ayah di masa kecilku dulu. Akhirnya, ku bergegas menyiapkan satu stel baju rapi plus jilbab putih bercorak kupu-kupu yang baru dibelikan Ibu kala lebaran lalu. Menghias wajah walau tak perlukan sepotong lipgloss dan sebotol parfum impor dari luar negeri. Hanya bermodal bedak bubuk yang sering dipakai Ibu dan semprotan minyak wangi yang kubeli di sebuah toko tua milik Pak Ling di depan gang rumahku. &lt;br /&gt;Sebelum ku melangkahkan kaki keluar rumah, ku membelokkan tujuan untuk shalat dhuha terlebih dahulu. Mengucap sejuta harapan yang melecutkan keyakinanku pagi ini, “Bismillah, ikhtiar ini akan di mulai..!!!” Suara hatiku membisik. Dengan segenggam harap turun dari naluri Ibu, ku sempatkan mencium punggung tangannya dan ku berjalan keluar dengan diawali panjatan do’a keluar rumah serta keinginan besar siang nanti. Langkahku serasa ringan terdorong keinginan setinggi langit dan sejauh mendaki Gunung Himalaya di India. Kususuri tepian gang rumahku menuju jalan raya yang telah menungguku hadir di sana seraya bercengkrama dengan suasana pagi yang masih menghangatkan mata.&lt;br /&gt; Sesampainya, tak menyangka mikrolet yang sedikit lusuh akibat puluhan penumpang duduk berdesak-desakan sejenak berhenti di depanku. Kardus-kardus besar jua telah menumpuk di atap mikrolet tadi. Maksud hati ingin menolak, tapi supirnya malah tersenyum lebar padaku. Dengan berat hati, aku pun naik meski tak nyaman diri. Selama perjalanan melewati kesibukan kota, tubuhku seakan kaku akan posisiku yang entah bagaimana harus kugambarkan. Setelah perjalanan hampir satu jam, akhirnya ku tiba juga di tempat tes beasiswa yang membuka kesempatan untuk bersekolah ke Inggris yang jua amat ku harapkan.&lt;br /&gt;Hawa panas yang menyelimuti dinding-dinding hati ternyata tak sejalan dengan hawa dinginnya di ruangan tes saat ini. Perasaan takut, gelisah dan tak tenang mendekat kala soal tes ada di genggaman. Melihat ujung kertas dari bagian atas sampai bawah, kosakata bahasa inggris terus nampak tak bercelah. Mataku kerap berkedip tak percaya. Do’apun refleks tercipta dari pusat otak dan terus teryakini dalam hati hingga terpanjatkan dari bibir yang penuh keinginan besar. Lantas, tanpa pikir panjang tanganku bergerak cepat setelah pikirku berputar tangkas menyelesaikan soal demi soal. Walau sukar bagiku, dengan susah payah ku gali semua potensi diri guna merampungkan soal-soal yang tak gampang dicerna pikiran.&lt;br /&gt;Selesainya, akupun mengucap Alhamdulillah meski kesulitan acap datang tak diundang selama dua kali enam puluh menit berlangsung. Setelah itu, setelah satu setengah istirahat dan waktu menunggu yang telah amat menyebalkan bagiku, kini tes wawancara yang menjadi bagian penting dalam jadwal hari ini akhirnya tiba juga. Sesekali ku biarkan otakku bernafas bebas. Ku keluarkan beban pikirku yang memberatkan. Mencoba tenang dengan menghirup udara dalam-dalam, menghilangkan keletihan badan yang terus melekat pada tulang-tulang dan persendian.&lt;br /&gt;Sejalan dengan detik yang tak pernah berhenti berputar di lingkar waktu yang abadi, tiba saatnya momen yang sanggup mengkokohkan batu-bata keberanianku. Tapi, sesekali nyaliku menciut lantaran getaran nadi-nadi dalam jantungku bekerja ekstra mengalirkan darah, urat-urat yang kuat pada telapak kaki serasa terbakar api ketakutan yang merasuk hingga ke tulang betis dan tulang keringku yang hingga kini menegakkan tubuhku. Pelan-pelan kurebahkan badan ini di atas tempat duduk yang berada di depan satu meja yang kulihat beberapa tumpuk berkas yang tengah dibaca seseorang berkacamata seraya menyeruput secangkir kopi hangat. &lt;br /&gt;Dibacanya sekitar dua tiga menit paragraf tulisanku yang mengekspresikan keinginan agar bisa terbang ke London, merasakan nikmatnya menimba ilmu di negeri bertanah kapur itu. Sesaat setelah itu, beliau memandangku lekat-lekat. Lantas menatap plafon ruang di gedung bertingkat yang berhiaskan beberapa lampu neon berjajar rapi di atap putih halus itu.&lt;br /&gt;Aku hanya diam melihat beliau yang bertingkah semaunya. Tiba-tiba suaranya yang serak menggaung di telingaku. “Pramesti Hamida Alsyifa. Luar biasa. Esaimu ini runtut, padat, berisi serta tajam dalam mengekspresikan setiap keinginanmu yang besar itu.”&lt;br /&gt;Sejenak keadaan diam, ruangan hampa tanpa suara. Perasaanku sedikit tersanjung dengan ucapan pria paruhbaya itu. Namun secara mendadak, timbul suasana hati yang agak gelisah sesaat beliau mengeluarkan nada ragu dari bibirnya. “Tapi sayang, ada sedikit keganjalan dalam esai ini yang patut dipertanyakan.”&lt;br /&gt;Aku tersentak. Penuh daya aku meluapkan anganku untuk berkhayal ke London dan aku merasa tak ada keganjalan sedikitpun. Semuanya kutulis dengan kejelian otakku yang terus bekerja dengan kemampuan hingga pentium empat. Aku selalu meneliti setiap kata yang kutulis, berfikir agar rangkaian kataku terdengar indah seindah rangkaian kata tulisan Khalil Gibran. Merapikan runtutan kalimat yang rapi dengan kuatnya dasar pemikiran seperti runtutan kalimat demi kalimat dalam tulisan Habiburrahman El Shirazy yang begitu ekstensif. Menajamkan gambaran saban kata agar mampu membangun visualisasi dalam pikiran pembaca selayak karangan non fiksi Andrea Hirata yang sarat dengan ketelitian kata pelukisan ekspresi.&lt;br /&gt;Sementara itu, kulirik sedikit papan nama berdasar warna hitam bertuliskan Dr. H. Abdullah Syahrial, M.Si. tergletak di atas meja. Penampilannya bersahaja dengan paras yang teduh nan sejuk itu. Dari suasana diam yang tercipta cukup lama, akhirnya terdengar juga perkataan beliau yang menemukan titik kelemahan dari esaiku yang terbentang dalam bahasa inggris itu. “Di tulisanmu ini kamu menyebutkan, bahwa kamu ingin merasakan keramahan kaum muslim di London. Kamu juga ingin mengembangkan potensi Islam di sana. Sedangkan kamu tahu sendiri, Islam bisa disebut kaum minoritas. Begitu juga di London, muslim di kota itu cukup sedikit. Kalau kamu ingin merasakan kenikmatan Islam yang lebih maksimal, mengapa kamu tidak saja melanjutka kuliah ke Mesir, Malaysia ataupun negara timur tengah yang mempunyai banyak Universitas berkualitas dunia. Warga muslim di sana juga cukup dominan?”.  &lt;br /&gt;Pernyataannya cukup menyudutkanku. Pernyataannya pula membuat otakku terpenjara. Namun, perlahan bibirku mengajak berterus terang sesuai uraian pikiran yang telah memaparkan sesuatu yang ingin ku katakan. “Mengembangkan potensi Islam itu tidak mengharuskan sanggup direalisasikan di area atau Negara yang mayoritas Islam. Kalaupun di London tidak dominan masyarakat muslimnya, niat saya ini tidak akan surut memperjuangkan agama saya. Agama yang selama ini dilihat sebelah mata oleh orang-orang non-muslim.&lt;br /&gt;Anda tentu masih ingat kejadian yang sudah cukup lama beredar, Islam diinjak-injak oleh film pendek buatan politisi Belanda di suatu situs internet. Saya pribadi sebagai muslim merasa sangat sakit hati. Islam sering dikait-kaitkan dengan teroris.” Aku terdiam spontan setelah berbicara panjang lebar.&lt;br /&gt;“Maka dengan ambisiku ini, Insya Allah aku akan berusaha menolong Islam di London, meski hasil usahaku nanti mungkin tak akan besar, tak akan menghapus sepenuhnya pikiran negatif orang-orang non-muslim sedunia tentang Islam.” Lanjutku berbicara seraya melihat keseriusannya mendengarkan ucapanku.&lt;br /&gt;“Tapi niat kamu tidak segenapnya bukan karena masalah itu kan?”. Pria itu berusaha menjebak.&lt;br /&gt;“Tentu saja bukan karena itu, kita hidup tidak hanya untuk memenuhi tuntutan akhirat. Namun juga untuk dunia. Keduanya harus dijalankan dengan seimbang. Mengejar pendidikan emas di London, sekaligus menambah keimanan diri pada-Nya. Apalagi London adalah kota yang indah. Inggris  seperti istana Eropa. Dengan itu pula, seyogyanya menjadikan hati kita terus bertaut pada rasa syukur yang luar biasa pada Yang Maha Sempurna, Allah azza wa jalla yang telah menciptakan otak berlian pada kaum bangsawan sana, kaum bangsawan dengan segala kekayaan potensi membangun arsitektur megah nan elok di tiap sudut kota London. Subhanallah, Allah lah Yang Maha Hebat, Allah jualah yang menjadi dalang kepandaian sumber daya manusia di sana dan juga menjadi kreator hebat pada alam Inggris yang mempesona.” Suasana tiba-tiba jadi hening. Beliau tersenyum tipis melihat mataku yang nampak tergenang air mata keharuan yang mendadak menjamah hatiku.&lt;br /&gt;“Baik, Mungkin itu saja yang bisa saya gali dari kamu,”&lt;br /&gt;Kata-kata itu terakhir ku dengar darinya. Kesahajaannya ku lihat terus melekat di seluruh lekuk wajahnya yang tak lagi muda. Isyarat pun diberikannya padaku menandai berakhirnya sesi wawancara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bulan kemudian…&lt;br /&gt;Sebuah surat bersampul coklat muda tergletak di bawah pintu rumahku yang sepi sepertinya tak berpenghuni. Dengan membenarkan jilbab, aku lekas meraih satu bendel surat tebal itu. Ku buka dengan perlahan diiringi detak jantungku yang kian berdebar cepat diikuti desiran tangan yang penuh kekuatan. Setiap kata yang menyatu dalam kalimat ku baca dengan jelinya setengah mati. Kuserapi makna tiap paragraf dengan sarat konsentrasi.&lt;br /&gt;Bibirku sejalan melengkung sembari terasa getaran hebat dari kedua tanganku yang tiba-tiba dingin diiringi aliran air mata kebahagiaan. Tak kuduga sebelumnya, sepucuk surat yang tengah digenggaman ini berisi pemberitahuan soal beasiswa berharga itu.. Ku baca berulangkali, kulihat dengan teliti urutan sepuluh nama yang berhasil menancapkan impian emasnya di atap luas Inggris Raya. &lt;br /&gt;Nafasku cepat, aliran darahku bagai dikejar setan. Tak tahan suhu tubuhku naik tinggi. Spontan kegembiraanku kuluapkan sesaat setelah namaku jelas ku dengar dari bibirku sendiri. “Pramesti Hamida Alsyifa…, selamat!!! anda berhasil menjadi mahasiswi di Universitas London (London of University). Dimohon kehadirannya…….” Belum sempat kubaca semuanya, teriakanku mendadak lepas dari genggaman lidah dengan suara lantang menyudut dan mengudara di saban telinga mendengar. Sesosok anak kecil bersepeda roda tiga tertawa cekikikan melihatku tersenyum lebar. Sebuah mobil hampir berhenti kala melihatku melonjak-lonjak layaknya anak gadis yang tengah gila.&lt;br /&gt;Lantas, mobil itu kembali melaju saat ku diam dari tingkahku yang aneh. Senyum simpulku ku persembahkan pada penumpang mobil itu sambil terus menggenggam surat penghantarku untuk terbang ke Negara sepak bola itu.&lt;br /&gt;Entah bagaimana ku bisa meluapkan kegiranganku tiada tara ini. “LONDON…I’M COMING…!!!” Hanya ucapan keras ini ku bisa bergejolak riang menerima satu paket hadiah kehidupan yang benar-benar ku tak menyangka. Tak sia-sia do’a demi do’a ku lantunkan sepanjang satu bulan terakhir ini. Kesabaran dan keyakinan besar telah membuahkan nyanyian hati yang penuh bunga-bunga harapan, dan harapan ini akan terus mengembang di sepanjang jejak kehidupan berjalan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-942602793490772996?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/942602793490772996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=942602793490772996' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/942602793490772996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/942602793490772996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2010/03/london-im-coming.html' title='London I’m Coming'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-5872254084019573252</id><published>2009-10-27T23:48:00.000-07:00</published><updated>2009-10-27T23:49:58.214-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>BERANI MALU KARENA MATERI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Jika Dewi Sandra dengan "Kapan lagi bilang I love You", maka Anang Hermansyah kini tengah mempopulerkan hits "Separuh jiwaku pergi". Kedua artis itu memang sungguh bisa memanfaatkan keadaan. Disaat para media mengekspose hidupnya yang tengah genting, karirnya pun tengah melambung dengan lagu yang memiliki latar belakang kisah hidupnya yang menyedihkan. Memang sungguh ironis, kenapa kisah hidup yang merupakan aib dalam keluarganya mesti dipublikasikan melalui lagu yang pemasarannya lebih mudah. Apakah cuma karena materi yang mereka kejar melalui larisnya lagu-lagu tadi, atau ada maksud lain dari peluncuran single yang bertepatan dengan peliknya konflik rumah tangganya?. Hingga mereka tidak sedikitpun malu dengan melubernya aib keluarga dengan sebuah lagu melow curahan ?.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-5872254084019573252?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/5872254084019573252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=5872254084019573252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/5872254084019573252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/5872254084019573252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2009/10/berani-malu-karena-materi-jika-dewi.html' title=''/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-2429874854244832656</id><published>2009-09-08T22:54:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T22:55:27.891-07:00</updated><title type='text'>opini</title><content type='html'>Ketika tim kreatif tak lagi kreatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara TV saat ini memang tak hanya satu macam yang bisa disaksikan. Program berita, musik, sinetron, infotaiment bahkan reality show telah menjamur dengan berbagai judul dari beberapa TV swasta di Indonesia. Dengan banyaknya acara tersebut, masyarakat dipusingkan dengan berbagai alternative tontonan yang tak monoton pada satu jenis saja. Namun, di tengah kemeriahan kreatifitas para lakon dibalik layar TV, ada satu hal yang dirasa ganjal bila diperhatikan. Satu hal yang mengarah pada menumpuknya judul dengan genre yang sama. Ketika satu program muncul di sebuah stasiun TV swasta dan program itu laris di pasaran, maka program tersebut akan ditiru oleh TV swasta yang lain. Ini menandakan bahwa tim kreatif TV tidak lagi mengandalkan kreatifitasnya untuk menghasilkan acara-acara yang lebih variatif dan fres. Hanya mengedepankan kadar komersil yang dapat diserap oleh mereka yang bekerja sebagai pengelola acara TV. Selain itu, terkadang pada suatu waktu layar TV hanya disesaki oleh satu acara yang itu-itu saja. Lama-kelamaan masyarakat akan bosan dengan tontonan yag tidak menyuguhkan keragaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-2429874854244832656?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/2429874854244832656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=2429874854244832656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/2429874854244832656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/2429874854244832656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2009/09/opini_08.html' title='opini'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-6973423990258299278</id><published>2009-09-08T22:52:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T22:53:43.936-07:00</updated><title type='text'>opini</title><content type='html'>Mana Penegakan Keadilan di Negeri Kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Prita Mulyasari mengemuka ketika dirinya terseret kasus hukum terkait pencemaran nama baik sebuah Rumah Sakit swasta di Tanggerang karena tulisannya yang berisi sebuah keluhan saat Prita berobat di Rumah Sakit tersebut. Ironis, bila kita melihat peristiwa di atas, yang seakan mengingatkan kita pada penegakan HAM di Indonesia yang tidak terealisasi dengan baik. Para petinggi hukum kita seolah memperlihatkan sempitnya ruang dalam kebebasan menyatakan pendapat. Padahal, Hak seseorang untuk berbicara dan mengeluarkan opini merupakan hak asasi manusia yang harus dilindungi Negara. Artalyta saja yang jelas-jelas bersalah dalam kasus suap BLBI hanya diganjar 5 tahun penjara, namun mengapa Prita yang seorang ibu rumah tangga yang ingin mengungkap buruknya sistem pelayanan publik di Indonesia harus mendapatkan hukuman 6 tahun penjara. Ini benar-benar tidak adil, Indonesia mesti bercermin soal penegakan hukum, termasuk kasus-kasus HAM yang banyak merugikan masyarakat tak berdosa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-6973423990258299278?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/6973423990258299278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=6973423990258299278' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/6973423990258299278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/6973423990258299278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2009/09/opini.html' title='opini'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-3812520038744083831</id><published>2009-05-06T23:39:00.000-07:00</published><updated>2009-05-06T23:40:45.159-07:00</updated><title type='text'>opini</title><content type='html'>Pejabat kita dibutakan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pembunuhan Direktur PT. Putra Rajawali Banjaran (PRB), Nasrudin Zulkarnaen maret lalu harus menyeret nama beken di podium teratas KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Saat ini Antasari yang menjadi ketua nonaktif KPK tersebut disinyalir menjadi otak dari pembunuhan terencana itu. Motif pembunuhan yang masih terdengar ke permukaan adalah cinta segitiga antara kedua pejabat tersebut dengan seorang gadis 22 tahun yang tercatat sebagai  mahasiswi STIMIK Raharja Tangerang jurusan manajemen komputer, Rani Juliani. Pertemuan Antasari dan Nasrudin dengan Rani berawal di sebuah padang golf modern Tanggerang. Rani yang lebih cantik diantara semua caddy di padang golf tersebut  membuat kedua petinggi tersebut tertarik. Dan peristiwa cinta segitiga tersebut harus berujung dengan kematian. Memang sungguh ironis bila kita melihat fenomena yang saat ini menjadi topik terlaris di media. Hanya karena wanita dan cinta buta, Antasari harus rela menghapus segala kewibawaannya di KPK dan Nasrudin mesti pergi ke lain dunia. Semoga saja kejadian seperti ini tak lagi terdengar dari pejabat-pejabat negara yang notabene memiliki keintelektualan yang patut diperhitungkan oleh masyarakat luas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-3812520038744083831?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/3812520038744083831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=3812520038744083831' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/3812520038744083831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/3812520038744083831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2009/05/opini.html' title='opini'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-3570331188681623692</id><published>2009-03-27T20:57:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T21:16:24.549-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sebuah imajenasi'/><title type='text'>cerpen</title><content type='html'>PAHLAWAN KESIANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Krriiiinnggg.........” suara dering jam beker yang ada di kamar Refand. Ternyata, tak disadari hari sudah larut pagi. Matahari cerahnya sudah nangkring di ufuk timur. Refand membuka matanya dengan segera dan terasa paksa. Sesaat Refand terhentak, matanya melotot dengan raut wajah yang terlihat gelisah.&lt;br /&gt;“Ya ampun!!!udah jam 7”gerutunya penuh kecewa.&lt;br /&gt;Refand pun tak ingin lama-lama di ranjangnya. Ia segera beranjak dari keberadaannya dan ia pun dengan tangkas melompat ke kamar mandi. Dari kamar mandi, Refand langsung bergegas siap-siapdengan segala kebutuhannya pagi ini.&lt;br /&gt;“Tap…tap…tap…!!!” dengan sigap Refand langsung pergi ke sekolah tanpa harus belok ke ruang makan, karena dia sudah menemuai keadaan yang amat genting. Hanya jabatan singkat tangan sang ibu membuat Refand ingin cepat-cepat bertatap muka dengan wajah sekolah yang masih ada dalam pikiran.&lt;br /&gt;“Aduh!! gawat, pasti aku telat nih!!” batinnya menggumam seraya berlari mengejar waktu yang jadi musuh bebuyutannya pagi ini. Dia berlari dan cepa-cepat berlari, namun sesaat langkah Refand terhenti, ketika ia melihat pria yang sudah lanjut usia. Pria renta itu mengalami kesulitan menyebrangi jalan yang terasa sesak akan keramaian. Hatinya terketuk tuk membantukakek-kakek yang sudah tak berdaya untuk menapak jalanan itu. Dia langsung memegang pundak pria tua tersebut dengan berkata”Mari kek saya bantu” sang kakek pun tersenyum simpul. Lantas, Refand membantunya meniti trotoar yang terlihat kepadatan ibukota. Perlahan dekapkaki kakekl dan Refand melewati zebracros yang di kedua sampingnya terlihat kendaraan-kendaraan terhenti karena lampu merah sudah menyala.&lt;br /&gt;Setelah tiba di tujuan, yang ada di seberang jalan . Refand tak sadar, waktu sudah terlalu siang untuk ia berangkat ke sekolah. Dia pun langsung cepat-cepat pergi meninggalkan pria renta tadi.”Maaf kek. Aku pergi dulu ya…”&lt;br /&gt;“Tri-ma-ka-sih-ya…”ujar kakek terletup-letup.&lt;br /&gt;“Iya kek!”balas Refand dengan tergopoh-gopoh dan berlari dengan laju yang melebihi ljukuda liar. Akhirnya Refand tiba juga dengan mata terpejam dan nafas yang tertatih-tatih disertai penuh harap agar ia masih bisa masuk ke dalam sekolahnya.&lt;br /&gt;Namun sungguh malang, sesaat matanya terbuka, ia melihat pintu gerbang sudah dalam keadaan tertutup.”Astagfirullahhaladzim!! aku benar-benar telat!!”seru Refand sembari menepuk keningnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-3570331188681623692?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/3570331188681623692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=3570331188681623692' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/3570331188681623692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/3570331188681623692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2009/03/cerpen.html' title='cerpen'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-2847928981190213357</id><published>2009-03-27T20:54:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T20:57:05.809-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cletukan otak'/><title type='text'>artikel</title><content type='html'>KITA LEBIH BERUNTUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri Indonesia yang kaya ini banyak bibir yang masih bisa tertawa, tersenyum, memuji dan mengagumi. Di sini pula diri ini masih tebal akan perlindungan. Masih tenang memikirkan kehidupan esok. Masih tak merasa was-was menatap waktu yang terus berjalan ke depan. Masih bebas bermain ke sana ke mari tanpa dikejar-kejar rasa ketakutan yang mendalam. Masih nyenyak tidur dan menikmati lezatnya makanan tiap kali kita menyantap hidangan tanpa perasaan gelisah, gugup dan khawatir.&lt;br /&gt;Tapi, kita tidak pernah tahu bagaimana goyahnya rasa ketenangan banyak saudara islam kita di negeri seberang Palestina. Mereka seperti semut-semut yang dengan gampang dilenyapkan seketika berjuta nyawa melayang di tengah kebiadapan tentara Israel. Segudang teriakan, tangisan serta rintihan terus bergemuruh dari warga sipil Palestina yang tengah dikepung oleh bombardiran iblis Israel. Telah sering kita saksikan bagaimana sejarah perang 2 negara tetangga itu di televisi. Hampir sepertiga korban tak berdosa serangan Israel adalah anak-anak. Anak-anak dengan melan kholisnya melihat tanah airnya luluh lantah menyatu tanah dengan kepedihan tiada tara. Mereka tak pernah mudah mendapatkan ilmu yang semestinya mereka dapatkan seperti anak-anak di belahan dunia lainnya. Bibir mereka pun seolah amat sulit tuk dilengkungkan kembali. Hanya air mata yang setia menemani malam-malam tiada ketenangan.&lt;br /&gt;Mungkin salah satu dari mereka sudah tiada nafas, tiada lagi kasih dari kedua orang tua, tiada pelukan dari kakak atau adik mereka yang senantiasa memberi cinta yang tulus. Masa depan mereka tiada guna untuk terus diukir. Tiada keleluasan dalam menatap cerah cita-cita mereka. Tiada harapan dan mimpi besar untuk dikepakkan di usia mereka mereka mendatang. Anak-anak kecil Palestina hanya bisa merenungi nasib tanpa bahagia sedikitpun. Tua, muda, remaja, anak-anak, bahkan bayi sekalipun harus menanggung penderitaan dari pertikaian 2 negara yang sudah di nashkan di Al qur’an.&lt;br /&gt;Kita sebagai rakyat Indonesia mungkin lebih beruntung daripada nasib anak-anak Palestina yang tengah dilanda konflik. Meski negeri ini juga tak lepas dari masalah, namun setidaknya kita bisa tersenyum, tertawa dan ada harapan untuk mencapai masa depan yang lebih cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUSAHNYA JADI REMAJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia remaja adalah tahap awal dari pengenalan dunia usia dewasa. Belajar untuk memulai kemandirian diiringi pencarian kualitas diri sebagai bekal di masa datang. Namun, banyak masyarakat yang terkadang menganggap remeh para remaja. Mereka hanya melihat dari sisi negatif yamg sering menjadi menu hangat permasalahansosial di berbagai media yang timbul akibat masih labilnya emosi dan daya pemikiran.&lt;br /&gt;Remaja dituntut memiliki kemampuan dan keseriusan dalam mempersiapkan kepemimpinan ataupun rasa tanggung jawab yang besar.Di usia itu, bakat dan minat disaring dari beberapa komunitas baik di luar maupun di dalam sekolah. Diharapkan sanggup mengembangkan potensi diri yang mungkin masih tersimpan rapat-rapat.. Melalui komunitas tersebut, para remaja bisa menggali dalam-dalam keutamaan bakat yang dimiliki demi kelangsungan hidup di waktu yang akan datang.&lt;br /&gt;Tak sedikit remaja yang lalai akan tanggung jawab untuk mengenal hidup lebih realistis. Mereka hanya menyatu dalam pemikiran hedonis, glamor, mewah, dan tanpa pertimbangan untuk menyerap hidup kebarat-baratan. Lingkungan tanpa sadar meminta kewajiban seorang remaja untuk terusa dapat mengikuti trend sesuai era yang ada. Banyak trend di kalangan remaja yang mampu membawa mereka ke dalam identitas ketidakpercayaan sebagai fase awal kehancuran mental untuk berbuat kebenaran.&lt;br /&gt;Beberapa tuntutan nihil makna dalam kehidupan remaja :&lt;br /&gt; Memiliki someone lebih dari teman alias pacar&lt;br /&gt;Yang satu ini sering dikait-kaitkan sebagai pengenalan kehidupan pranikah. Berhubung individu remaja yang kerap dihinggapi syndrom jatuh cinta, mereka berani meneruskan rasa tertarik kepada lawan jenis mereka tanpa tahu bahwa yang dilakukan hanya sekedar jalan pelurus menuju lubang kemaksiatan. Dan dalam dunia remaja, istilah pacaran  sering dihubung-hubungkan dengan anak gaul. Jika mereka ingin dikatakan anak gaul, pacaran pun dipilihnya tanpa dasar cinta dalam hati.&lt;br /&gt;Islam tak mengkategorikan dosa pada rasa tertarik kita pada lawan jenis. Hanya saja islam memiliki batasan-batasan dalam mengendalikan rasa tertarik itu dalam diri kita. Rasa tertarik(rasa kagum) tersebut adalah kewajaran dan merupakan bentuk kenormalan kita sebagai remaja yang melalui fase pubersitas. Namun sebagai remaja islam, kita harus pintar-pintar dam menghandle rasa istimewa itu. Memandangnya dengan lekat-lekat + nafsu ingin memilikinya bisa dikodekan sebagai bentuk dosa atau dosa mereka. Apalagi mengekspresikan rasa itu secara berlebihan. Sebagai manusia ciptaan-Nya, manusiawi bila rasa itu sering menghinggapi kita. Tinggal bagaimana kita bisa mengatur semua rasa suka, kagum, tertarikpada lawan jenis kita tanpa meninggalkan noda-noda dosa dalam diri kita.&lt;br /&gt; Jadi remaja super fashionable&lt;br /&gt;Fashion yang terus memetamorfosa setiap masanya akan menuntut remaja mengikuti itu semia. Dari pakaian ataupun aksesoris yang melengkapi menjadi daya tarik anak-anak muda untukdikenakan. Meski dengan budget melangit, mereka tetap bersikukuh melawan rasa keraguan untukmemilikinya. Hanya berdalih ingin di cap anak gaul. Mereka tak berpikir dampak negatif atau pengaruh sia-sia yang akan menimpa mereka. Terkadang pakaian eranya sudah menyepuh akan ditumpuk rapat-rapat dalam almari tanpa guna. Bagi yang berduit, tak apalah itu semua, tapi bagi remaja dengan keadaan ekonomi pas-pasan, rugi besar baginya. Ini pun yang menjadi faktor dimana remaja ingin diakui identitasnya melalui fashion yang selalu happening di masanya. Dan berhati-hatilah bagi remaja yang tak ingin terjerumus dalam dunia hedonis masa kini lewat cepatnya perkembangan dunia fashion tiap era dengan tetap berpegang teguh pada tali Allah.&lt;br /&gt; Menuntut remaja dengan IT tinggi&lt;br /&gt;Sama halnya dengan perkembangan dunia fashion yang cepat berganti masa, dunia IT juga tak kalah fantastis dalam sisi perputaran kualitasnya. Pengaruh pada remaja pun juga super besarnya. Bisa dikatakan kulitas remaja saat ini ditimbang melalui kemampuannya dalam pemahaman terhadap dunia teknologi dan informasi bukan kemampuannya dalam menguasai pelajaran di bangku pendidikan. Dari perkembangan dunia IT, remaja bisa memperoleh ilmu dari berbagai sumber yang tak sedikit. Sehingga, remaja tidak cenderung pada satu literatur  yang kandungannya mungkin sangatlah kurang. Namun, yang membuat ironis adalah efek buruk yang timbul tanpa sadar dari perkembangan  dunia IT, remaja hanya fokus pada kandungan dunia teknologi dan informasi yang mampu menjerumuskan pada lubang kemurkaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-2847928981190213357?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/2847928981190213357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=2847928981190213357' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/2847928981190213357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/2847928981190213357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2009/03/artikel.html' title='artikel'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-777080250721027452</id><published>2009-03-27T20:46:00.003-07:00</published><updated>2009-03-27T21:11:26.865-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kata hati'/><title type='text'>puisi</title><content type='html'>GAZA DI MALAMNYA...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaza… di malammu…&lt;br /&gt;Gelap…&lt;br /&gt;Hitam…&lt;br /&gt;Remuk redam bangunannya&lt;br /&gt;Menyatu tanah tak berguna… tak berupa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaza… di malammu…&lt;br /&gt;Gelap…&lt;br /&gt;Hitam…&lt;br /&gt;Malamnya bagaikan hutan belantara&lt;br /&gt;Ataukah…&lt;br /&gt;Selayak jurang penuh liang kematian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaza… di malammu…&lt;br /&gt;Hitam… dan gelap…&lt;br /&gt;Sunyi dari tawa dan canda mulutnya &lt;br /&gt;Mungkin tangisan akan menyimpul rekaman otaknya&lt;br /&gt;Pandangannya menyatu warna hitam…&lt;br /&gt;Tak ada lainnya…&lt;br /&gt;Mungkin hanya gencatan warna mengkilat &lt;br /&gt;Seakan jembatan pintu ajalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaza… di malammu…&lt;br /&gt;Hitam…dan gelap…&lt;br /&gt;Ku menatapmu… aku takut…&lt;br /&gt;Linangan darah menyengat hidungku dengan baumu&lt;br /&gt;Entah darah jiwa tak berdosa siapa ?&lt;br /&gt;Ku membayangkanmu… aku iba…&lt;br /&gt;Tangan kecilku tak mampu terangkat untukmu&lt;br /&gt;Hanya bibirku terangkat  tuk sanggup do’akan dari kejauhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaza… di malammu…&lt;br /&gt;Hitam… dan gelap…&lt;br /&gt;Esokkah kau akan ada ?&lt;br /&gt;Esokkah kau pasti berdiri ?&lt;br /&gt;Esokkah jahatnya masih mengintaimu ?&lt;br /&gt;Esokkah dunia kan bersamamu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaza… di malammu…&lt;br /&gt;Hitam… dan gelap…&lt;br /&gt;Masihkah kau punya kekuatan ?&lt;br /&gt;Masihkah kau mampu bertahan ?&lt;br /&gt;Masihkah kau berdaya dengan segala keadaan ?&lt;br /&gt;Masihkah sosokmu kan ku lihat di masa datang ?&lt;br /&gt;Gaza… di malamu…&lt;br /&gt;Hitam… dan gelap…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA ARTI MIMPI ITU ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bertanda sebelum aku menutup mata &lt;br /&gt;Tak berisyarat ketika ingin melepas lelah&lt;br /&gt;Peluhku hanya terasa dalam jiwa&lt;br /&gt;Jalani hariku yang biasa terkira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lelapku…&lt;br /&gt;Ku tersenyum kala ada wajahmu&lt;br /&gt;Berkata di tengah semu bayanganmu&lt;br /&gt;Bercanda saat suasana kabur malamku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lelapku…&lt;br /&gt;Hatiku bergetar dengan lekuk bibirnya&lt;br /&gt;Terasa punah dalam kesedihan dan lara&lt;br /&gt;Terasa indah pandanganelok matanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lelapku…&lt;br /&gt;Mimpi itu berkali hadir menjamuku&lt;br /&gt;Dan parasnya tak berhenti terusir&lt;br /&gt;Dari bunga tidurku yang tak ku mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa arti mimpi itu ?&lt;br /&gt;Ketika wajahmu datang tak ku inginkan &lt;br /&gt;Kala hadirmu muncul tak ku harapkan &lt;br /&gt;Saat parasmu menyelinap dalam keheningan malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh… sungguh kaya teka-tekihati ini&lt;br /&gt;Apakah aku ada rasa padanya ?&lt;br /&gt;Entah mimpi itu mengisyaratkan apa…?&lt;br /&gt;Entah rasa apa yang tumbuh tak ku duga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah arahkan hati ini…&lt;br /&gt;Agar zina tak mengalir dalam jiwa ciptaan-Mu itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYAIR SAHABAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat…&lt;br /&gt;Sahabat adalah setitik cahaya kasih pada satu jiwa yang mati&lt;br /&gt;Sahabat adalah setetes air murni di tengah gurun pasir tanpa tepi&lt;br /&gt;Sahabat adalah malaikat, bersayap, tersenyum, dan menggapai kita dari keputusasaan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat…&lt;br /&gt;Sahabat adalah bayangan semu yang mendekap aku dikala air mata bercucuran &lt;br /&gt;Sahabat adalah diary yang selalu tanpa pamrih jika hati ingin bicara &lt;br /&gt;Sahabat adalah hujan yang menyejukkan&lt;br /&gt;Sahabat adalah segalanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUJAN...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat hitam mengepul&lt;br /&gt;Satu awan tengah mengumpul&lt;br /&gt;Sesekali halilintar membelah langit&lt;br /&gt;Mengisyaratkan lautan air meneropong daratan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badai kencang mengguncang &lt;br /&gt;Tandai putusnya penopong awan hujan &lt;br /&gt;Roboh dan jatuh deras menyegarkan bumi&lt;br /&gt;Rintik-rintiknya menyatukan celah tanah kemarau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujudnya yang sejuk terkadang buatku menangis&lt;br /&gt;Memohon tak ada bahaya siang itu&lt;br /&gt;Mengharap petir dan angin jahat jauh dari mataku&lt;br /&gt;Meminta ampunan dengan adanya itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan… Kau rizki-Nya yang maha ku butuhkan &lt;br /&gt;Meski kau hanya setitik air&lt;br /&gt;Namun lidahku terus menjerit-jerit mengajakmu pergi&lt;br /&gt;Hujan… kau seakan buih rindu yang membuncah &lt;br /&gt;Berjuta paras menunggumu di tengah gersangnya pepohonan meranggas&lt;br /&gt;Hujan… kau seolah ratu yang dicari &lt;br /&gt;Kehidupan mati tanpamu, meski dengan setetes air yang kau beri&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-777080250721027452?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/777080250721027452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=777080250721027452' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/777080250721027452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/777080250721027452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2009/03/puisi_27.html' title='puisi'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-733734222609176338</id><published>2009-01-16T20:15:00.000-08:00</published><updated>2009-03-13T22:36:01.480-07:00</updated><title type='text'>Derby "Sadam" Romero come back!!!</title><content type='html'>Ingat nggak?? ma peran Sadam dalam film Petualangan Sherina 8 tahun silam. Potongan rambut berponi+karakter jail, nakal, manja abis ama ortunya adalahgambaran singkat tokoh bocah yang diperankan aktor cilik Derby sadam romero kala itu.&lt;br /&gt;     Tapi sekarang, metamorfosa terjadi pada remaja yang kini berusia 18 tahun. Karir yang sempat mati suri akhirnya bangkit di akhir 2008 lalu, dengan bermain sinetron stripping di SCTV+ngluarin album bertajuk duo derby bersama kyerbordis (Iras) rekan ayahnya. Di sinetron yang berjudul "kepompong" itu, namanya kembali naik ke permukaan setelah hampir sewindu ia vaccum dari dunia keartisan.&lt;br /&gt;     Di sinetron itu pula, Derby harus berperan sebagai Indra yang karakternya beda bgt ama karakter pribadinya. Di situ,Indra adalah salah satu anggota genk de rainbow&lt;br /&gt;-yang merupakan gabungan 5 remaja kelas 2 SMA di Jakarta dengan 4 cewek(Ariyani fitri sebagai Caca, Mika Tembayong sebagai Tasya, Dinda kirana sebagai Beby, Tania putri sebagai Helen) serta 1 cowok yakni Derby Romero sbg Indra. &lt;br /&gt;     Sinetron itu termasuk sinetron ringan dengan konflik yang tak terlalu berat. Setiap harinya hampir berganti episode beganti cerita. Alurnya pun dikemas anak remaja banget, lucu, dan nggak ngebosenin. Dengan didukung pendatang-pendatang baru, kepompong termasuk sinetron fres dan yang pasti beda banget ama sinetron-sinetron lainnya. Nilai plus juga terpatri pada makna ceritanya yang menjunjung tinggi rasa solider antar sahabat. So...kalau pengen lihat sinetron yang nggak ngebosenin, lihat saja kepompong...key...!&lt;br /&gt;     Selain karirnya yang mulai merangkak naik di dunia akting, Derby juga meretas kesuksesannya dengan meluncurkan the first album dengan menggandeng Iras sebagai kyeirbordis. Lagu gelora asmara yang sering terdengar di telinga kita adalah single pertama yang juga salah satu soundtrack sinetron kepompong. Dengan menjadi sounctrack sinetron, lagu itu pun lambat laun dikenal banyak khalayak dan menjadi hits di berbagai acara musik. Dan tak banyak yang, bahwa lagu gelora asmara pernah dipopulerkan oleh salah satu grup bandits Indonesia dengan aliran musik disco kala itu. Namun, untuk hits pertama dalam album Derby ini, lagu yang diciptakan sendiri oleh ayahnya yang juga merupakan music director itu dirubah aliran musiknya menjadi pop rock. Dengan dentingan musik yang khas dan didukung suara Derby yang serak2 basah, Tak ayal, gelora asmara oun happening di kalangan remaja.&lt;br /&gt;     Kesibukan yang tengah melanda Derby untuk saat ini, membuatnya sedikit mengurangi frekuensi pertemuannya dengan sang kekasih yang identitasnya belum diketahui oleh media.&lt;br /&gt;     Di sela2 kepadatan syutingnya, mahasiswa fakultas hukum Universitas Atmajaya semester 1 itu nyempetin ikut pelatnas atlet anggar. Dan ini membuktikan bahwa cowok kelahiran 8 Juni 1990 itu juga eksis di dunia non hiburan. Dan kini Derby"Sadam"Romero telah menjadi sosok remaja penuh pesona. Semoga saja karir cowok imut itu terus cemerlang dan tak pernah lelah menunjukkan prestasi2nya di kancah entertainer maupun non entertainer. Amin!!!...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-733734222609176338?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/733734222609176338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=733734222609176338' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/733734222609176338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/733734222609176338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2009/01/derby-sadam-romero-come-back.html' title='Derby &quot;Sadam&quot; Romero come back!!!'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-45985682296221180</id><published>2008-10-08T20:16:00.001-07:00</published><updated>2008-10-08T20:24:41.324-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mengkritisi karya anak negri'/><title type='text'>artikel</title><content type='html'>Sinetron Indonesia Bermoral Payah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Hampir diseluruh stasiun televisi Indonesia ,drama bergenre sinetron telah merajalela.Hanya satu dua saja stasiun tv yang telah meminimalkan sinema elektronika yang memang sudh menjadi asupan sehari-hari khalayak Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bahkan di setiap malam ada saja judul-judul sinetron yang berganti diaban jamnya.Dan terkadang kita sampai lupa waktu menampang di depan televise yang jelas-jelas perangkap iblisdi era moderen ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Para produser tv dan Production House (PH) hanya berdalih untuk bertujuan memberi hiburan semata yang terlalu bebas.Sehingga kebebasan itu diteruskan diteruskan pada kebablasan perilaku konsumen yang telah mengimitasi setiap perbuatan dan langkah kaki para pelaku sinetron yang memang tak banyak dalam kualitas edukasi dan social kehidupan yang mengarah pada titik positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Seringkali tertangkap adegan yang jelas-jelas mempengaruhi pemikiran sosok-sosok lugu sang penonton,seperti anak-anak yang masih dalam fase pembelajaran dan beradaptasi pada kehidupan yang akan ditempuh oleh mereka mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kekerasan yang acapkali ditampilkan,adegan-adeganyang tidak pada tempatnya kerap diperankan lakon-lakon sinetron,alur yang mudah ditebak dan kadang membingungkan serta ketidak kreatifan cerita yang dihadirkan dengan menduplikat kebanyakan film-film asing pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Itu semua adalah deretan-deretan kekurangan yang belum banyak ditangkap masyarakat awam.Meskipun tak sedikit yang sadar pada pandangan negative sinetron masa kini.Namun tetap saja mereka terhipnotis oleh hadirnya bintang-bintang cermlang yang selalu menghiasi sban sinetron yang ada.Hanya mengarah pada kepuasan hati belaka dan tak banyak menyerap kandungan baik yang terhempas oleh scenario drama dalam tv itu yang berkutat pada globalisasi dalam kapitalisme pandangan kehidupan budaya barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sampai kapan negeri kita tercinta mempertahankan kepekikan buruknya tayangan-tayangan sinetron yang tak berkualitas.Jika hiburan terus diincar,kapankan kita mau belajar memahami hidup dalam sandiwara dunia bila tahap pembelajarannya didapatkan dari sandiwara tv yang kadan tak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Mungkin kalau ingat pepatah orang arab,yakni “ waktu adalah pedang”,maka setiap detik demi detik jika hanya diisi menikmati tayangan sinetron Indonesia yang bermoral payah,mungkin bias saja pedang itu akan menyambar di kkehidupan kita kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kenapa harus mengimpor budaya diseberang sana,bila di tanah air masih punya segudang budaya yang patut dipelajari dan mampu ditransfer ke generasi-generasi penerus bangsa mendatang melaui sinetron-sinetron yang nantinya akn menjadi tayangan yang bermutu tinggi dan dapat dibanggakan negara sebagai asset penegak ideology bangsa.Bukan hanya sebagai asset kekayaan bagi sang produser dan lakon drama maupun didalamnya,jika yang dihasilkan tak mampu membentuk negeri yang mandiri dan berani bersaing di kancah internasional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-45985682296221180?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/45985682296221180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=45985682296221180' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/45985682296221180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/45985682296221180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2008/10/artikel_08.html' title='artikel'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-955041883559915050</id><published>2008-10-03T21:48:00.001-07:00</published><updated>2008-10-03T21:49:43.635-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mengkritisi karya anak negri'/><title type='text'>artikel</title><content type='html'>Jum’at, 3 oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laskar pelangi : Fenomena kedua setelah Ayat-ayat cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun ini tercatat ada 2 film yang cukup menghebohkan yang keduanya merupakan adaptasi dari novel-novel Best seller karya penulis-penulis besar tanah air. Ayat-ayat cinta~novel yang pernah mendapatkan penghargaan The most favorite book 2005 dan sebagai peraih pena award Novel terpuji Nasional 2005 telah menjadi fenomena di layar lebar lantaran novelnya telah dulu boming dan mendapat tempat tersendiri di hati pembacanya. Sehingga tak heran jika AAC difilmkan, para penggemarnya langsung antusias berduyun-duyun ke bioskop dengan tujuan yang sama yakni menyaksikan AAC yang divisualisasikan dalam bentuk akting yang menakjubkan.&lt;br /&gt;Sejalan dengan keberhasilan AAC, laskar pelangi jua ingin sefenomenal film yang dikutip dari novel tulisa Habiburahman .E. Dengan disutradarai Mira lesmana dan Riri riza, film laskar pelangi tak luput dari perhatian dari masyarakat yang begiru exited. Ini dibuktikan di sebuah studio bioskop di Surabaya, managernya mengatakan bahwa kurang dari 2 jam, tiketnya sudah habis untuk tiga jadwal pemutaran. Nampaknya film ini akan menjadi incaran banyak kalangan.&lt;br /&gt; Menilik keberhasilan novel laskar pelangi yang lebih dulu dikenal masyarakat, filmnya pun akan mendulang sukses yang sama. Ceritanya pun cukup menarik, di tengah keterbatasan semangat dan mimpi yang besar rakyat indonesia, novel ini menjadi inspirator bagi semua agar terus bersemangat dan menjauhkan kata menyerah dalam hidup. Andrea hirata mengungkapkan segala cerita yang unik, lucu, mengharukan dan hiruk pikuk semangat dari kelompok laskar pelangi yang sangat luar biasa. Mereka mencerminkan kehidupan yang terus bersyukur dalam hidup di bawah atap kemiskinan dan senantiasa tanpa raut malas mengejar mimpi walau keadaan sekolah yang sebenarnya tak layak ditempati.&lt;br /&gt;Novel tetralogi laskar pelangi inipun dilengkapi 3 novel di belakangnya yang ikut sukses dicari pembaca, diantaranya; Sang pemimpi, Edensor, dan Maryamah karpov. Dipastikan pula film laskar pelangi ini akan fenomenal layaknya AAC dulu. Tapi entah dalam perbandingan masyarakat bagaimana memandang kedua karya pembangun jiwa itu.&lt;br /&gt;Ke-12 bintang cilik anyar yang menghiasi layar laskar pelangi ini jua asli dari Belitong. Hal ini akan menambah apiknya film yang digarap 100% di pulau kaya timah itu. Inilah karya fiksi yang benar-benar luar biasa, laskar pelangi akan menjadi angin segar di tengah berbagai masalah yang memenjara langit-langit Indonesia. Semoga laskar pelangi sanggup membangun tumpuan keberhasilan anak negri untuk terus memperbaiki jati diri alami bangsa ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-955041883559915050?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/955041883559915050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=955041883559915050' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/955041883559915050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/955041883559915050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2008/10/artikel_2268.html' title='artikel'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-2262347559480739409</id><published>2008-10-03T21:36:00.000-07:00</published><updated>2008-10-03T21:37:23.144-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='efek masa kini'/><title type='text'>artikel</title><content type='html'>Jum’at, 3 oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak teknologi pada mentalIndonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, teknologi semakin cepat berkembang tanpa batas, alat-alat elektronik menyebar hingga ke pelosok desa dengan bentuk dan kegunaan yang berbagai macam. Alat-alat canggih itu pun dengan mudah terealisasi sampai ke penjuru dunia. Pemikiran yang kian odern telah menciptakan beberapa motif benda yang multiguna. Tak dipungkiri negara-negara yang merupakan pusat dari pembuatan benda-benda menakjubkan itu pantas untuk diacungi jempol. Sebut saja JEPANG, negara matahari terbit itu tak henti-hentinya menguraikan beribu-ribu produk mutakhir hingga mampu mmbentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan dapat diandalkan .&lt;br /&gt;Namun sungguh disayangkan, tigkat pertambahan benda-benda intelektual yang semakin tinggi itu, kontras tak membuat tingkat perubahan akhlak-akhalk manusia penghuni bumi kian baik. Mental terjajah, pemikiranterbantai dengan pesona-pesona perkembangan alat-alat teknologi darisisi negatif. Harusnya insan-insan dunia berpikir lebih jauh, untuk mampu menyiasati hadirnya alat-alat canggih di masa sekarang ini yang pengaruhnya sebagian besar ke lubang kemurkaan.&lt;br /&gt;Mungkun sejauh ini, tak banyak orang sadar, bahwa rohani kita sudah ternodai dengan penayangan program-program TV yang tak sepantasnya menjadi tontonan semua khalayak. Ada batas-batas yang harus membentengi setap acar yang akan disiarkan. Sinetron-sinetron yang ada kandungan yang tak baik juga banyak dicerna anak-anak yang masih di bawah umur. Gaya hidup yang glamor, perlakuanyang mengimitasi budaya barat telahmenjadi faktor utama dari parahnya  akhlak generasi-generasi muda sekarang. Dan mungkin semua ada, karena keberadaan acara-acara televisi yang tak banyak mendidik.&lt;br /&gt;Tak hanya televisi, alat-alat cangih yang lain pun ikut menjadi pembunuh mental kita. Internet jua salah satunya, benda itu mampu memberikan wawasan yang luas. Memang, tak semua orang bisa menikmati keberadaan internet. Dan parahnya, dari sekian orang itu, tak memanfaatkannya dengan baik.Situs0situs yang tak semestinya mereka buka, dengan dorongan dari syetan situs murka itupun akan hadir di depan mata mereka.&lt;br /&gt;Kalau sudah begini, bagaimana kita semua berusaha agar akhalak pertiwi ini bisa terselamatkan dari pembunuh-pembunuh mental yang tak bernyawa itu. Hanya manusialah yang harus membuka mata, membuka telinga, lantas membuka hati, untuk sadar akan dampak teknologi yang takbisa dikendalikan dari bahaya-bahaya sang sekutu setan. Kalau para pemuda-pemudanya tak jadi tombak keberhasilan negri ini, lalu…..siapa lagi?? Maukah Indonesia senantiasa di beri cap buruk di mata dunia.&lt;br /&gt;Namun, masih banyak lagi pembunuh mental kita yang lain. Tinggal kita saja yang harus mengontrol semua itu agar negri kita tercinta ini bisa menumbuhkan SDM yang lebih baik serta akhlak dan kualitas otak yang tinggi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-2262347559480739409?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/2262347559480739409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=2262347559480739409' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/2262347559480739409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/2262347559480739409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2008/10/artikel_2279.html' title='artikel'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-1960339888266799021</id><published>2008-10-03T21:22:00.000-07:00</published><updated>2008-10-03T21:34:20.469-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karya untuk nasehat'/><title type='text'>artikel</title><content type='html'>Jum’at, 3 oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih sayang yang tak terbaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin selama ini kita sering marah, kecewa bahkan bisa memberontak dikala kedua orangtua kita tak sepaham dengan pendpat kita. Kita mau ini, mereka melarang dengan segudang alasan yang susah tuk anak yang berusia belasan tahun mencerna semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orangtua ingin yang terbaik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Nana bingung mencarijurusan di jenjang SMA kelas 2. Pilihan IPA, IPS, atau  bahasa. Dalam benaknya terselip keinginan untuk jadi akuntan hebat, dselain tak suka berhitung semacam fisika, kimia, dan matematika. Nana ingin menjauhi pelajaran yangberbau alam. Ia merasa tak suka. Ia hanya hanya suka pelajaran yang berhubungan dengan ilmu sosial yang kerap kali mengundang tugas menghafal.&lt;br /&gt;Adai tengah perjalanan, batu menghadang. Sang Ibu dan Ayah ingin menjadikan Nana ilmuwan hebat atau dokter dengan uang melimpah . Keduanya sering menceramahi Nana bahwa jadi dokter tuch hidupnya akan terjamin di masa depannya. Jadi ilmuwan akan tentram hidupnya dan sejuta dasar pemikiran yang jadi pedoman.&lt;br /&gt;Nana pun semakin tak tenang, kemaunnya bertabrakan dengan keinginan Ayah &amp; Ibunya. Maksud hati seorang ibu dan sesosok Ayah ingin membei yang terbaik bagi Nana, namun apadaya Nana kian tersiksa. &lt;br /&gt;Ini mungkin seklumit cerita problem dari banyak anak terlebih pelajar. Kemaun kita ditentang oleh pendapat mereka. Mungkin mereka ingin memberikan yang terbaik, tapi bagi kita itu bukan yang terbaik dan ada hal yang lain yang lebih baik dari apa yang mereka maksud.&lt;br /&gt;Sungguh disayangkan jika kejadian ini banyak pelajar mengalaminya. Mungkin sepintar-pintarnya kitamembujuk mereka, memberikan pengertian sebaik-baiknya pada keduanya. Namun itu harus sejalan dengan sikap halus dan penuhsantun pada kedua orangtua kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lingkungan dan kondisi yang tak mendukung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak anak yang merintih sedih ketika seusai SMA, tak dapat melanjutkan masa pendidikannya kejenjang yang lebih tingi. Dalam hati meneriakkan keinginan serupa. Tapi, kondisi memaksa tidak untuk itu.&lt;br /&gt;Masalah utama adalah kedua orangtua sudah angkat tangan soal biaya. Banyak yang bekerja sambil kuliah karena kedua orangtua tak mampu &amp; tak sanggup membiayai. Cita-cita yang seorang anak ingin diraih, harus pupus hanya lantaran lingkungan berupa keluarga atau kedua orangtua tak mendukung dan bahkan menentang keras, maupun kondisi ekonomi yang kian tak menjangkau kebutuhan seorang anak jika sudah duduk di bangku kuliah.&lt;br /&gt;Sehingga, kemungkinan banyak anak yang sering menuding kedua orangtua tak sayang lagi sama anaknya. Tak memiliki empati yang lebih kepadanya. Harus bagaimana, toh ini juga keadaan orangtua yang banyak anak harus menangis lantaran maksudnya tak sejalan dengan apa yang dipunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keduanya “over protektive”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makdsud hati inginmelindungi. Ituyang sering menjadi dalih orangtua untuk sering melarang anaknya begini begitu. Menjadikan anak terlindungi dari hal-hal yang semacam pergaulah bebas, ikut genk-genk pecandu narkoba, dan el-el.&lt;br /&gt;Sehingga banyak anak yang acapkali dikurung di rumah, disuruh belajar dan belajar. Dan efek yang timbul, mungkin tekanan batin dan jiwa terpenjara. Anak sulit bersosialisasi pada lingkungan luas. Sulit beradaptasi pada keadaan baru diluar rumah. Sulit untuk bergaul, mengenal banyak orang yang tak pernah dikenal sebelumnya. Lantaran tak banyak pengalaman dlam hal berkontak langsung dengan kondisi di seberang sana.&lt;br /&gt;Dan tak seharusnya kedua orangtua terlalu ingin melindungi dengan memenjara di dalam rumah. Dan itu bukan jalan yang baik untuk bisa membangun jiwa anak yang modern, terdidik dan terpelihara sesuai dengan keinginan mreka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya keseimbangan dalam mendidik anak diwajibkan. Tak ada tekanan maupun kebebasan yang akan jadi pedoman dalam membentuk jati diri anak. Tak luput pula ajaran agama disiarkan pada perkembangan diri seorang titipan-Nya_-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-1960339888266799021?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/1960339888266799021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=1960339888266799021' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/1960339888266799021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/1960339888266799021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2008/10/artikel.html' title='artikel'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-7045727832717303674</id><published>2008-09-27T22:22:00.000-07:00</published><updated>2008-09-27T22:35:24.716-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ketika pikiran ada wajahnya'/><title type='text'>puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Senandung sang pengagum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak ku terdiam dari bicaraku&lt;br /&gt;Sesaat ku tertenang dari gelisahku&lt;br /&gt;Aku terpaku karena parasmu&lt;br /&gt;Sosok rupawan menjangkau khayalku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirmu  begitu mengilhami&lt;br /&gt;Bayangan kesejukan&lt;br /&gt;Mematahkan kenistaan&lt;br /&gt;Tak kupungkiri adanya aura terang&lt;br /&gt;Menghancurkan kegelapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon musim itu mengingatkanku&lt;br /&gt;Pada musim adanya engkau&lt;br /&gt;Yang tak sedikitpun mencercahkan&lt;br /&gt;Meski terbatas kebahagaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau tetap sosok yang mengagumkan&lt;br /&gt;Semoga hati ini selalu bertaut pada jejakmu&lt;br /&gt;Dan menjelma di sisi fantasimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petikan bunga surga kan tanamkan&lt;br /&gt;Mengharumkan nama dan kapribadian&lt;br /&gt;Bak perisai mangalahkan lawan&lt;br /&gt;Kau amat tangguh laksana pahlawan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-7045727832717303674?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/7045727832717303674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=7045727832717303674' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/7045727832717303674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/7045727832717303674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2008/09/puisi.html' title='puisi'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-5715632487193198972</id><published>2008-09-17T21:00:00.002-07:00</published><updated>2008-09-27T22:32:18.353-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musim ramadannya para artis'/><title type='text'>buah pikiran</title><content type='html'>Hanya ada di bulan ramadan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Sebulan penuh tv kita mungkin sesak dengan tobat musiman&lt;br /&gt;artis-artis muslim. Dengan pakaian sopan dibalut kerudung di kepalanya&lt;br /&gt;serta sangat bersahaja ketika satu-persatu wartawan melempar&lt;br /&gt;pertanyaan. Tak luput dengan bangga nampang di balik layar kala&lt;br /&gt;menyumbang sedekah ke panti asuhan maupun para gelandangan.&lt;br /&gt;      Ironisnya, pemandangan di atas hanya ada di bulan ramadan.&lt;br /&gt;Lihat saja di 11 bulan lainnya, pakaian kurang bahan tak malu mereka&lt;br /&gt;tontonkan dengan pola tingkah glamor dan berkelas. Jika bulan ramadan&lt;br /&gt;hanya sebagai batu loncatan untuk bersihkan muka di depan publik,&lt;br /&gt;sungguh begitu munafik para selebritis tanah air kita. Tak sedikit&lt;br /&gt;selepas ramadan perilaku dan gaya hidup kapitalis tak pernah hilang&lt;br /&gt;dari kehidupan artis negeri ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-5715632487193198972?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/5715632487193198972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=5715632487193198972' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/5715632487193198972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/5715632487193198972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2008/09/buah-pikiran.html' title='buah pikiran'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-8889215865325558777</id><published>2008-09-17T21:00:00.001-07:00</published><updated>2008-09-27T22:34:28.069-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='elegi  kehidupan'/><title type='text'>cerpen</title><content type='html'>Aku bukanlah Artis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Kuterbangun di pagi hari yang masih terdengar kokokan ayam&lt;br /&gt;menyudut.Merasakan udara pagi yang masih lembut kuhirup, masih kulihat&lt;br /&gt;sisa-sisa embun sejuk tergerai di lekukan daun-daun muda yang berbanjar rapi&lt;br /&gt;di tiap ranting pohon-pohon di sekelilinh rumahku.&lt;br /&gt;Tak ku sadari hari sudah beranjak dari malam yang sunyi, tak kupahami&lt;br /&gt;aku sudah bergegas dari usiaku yang dulu masih belia.Layaknya seperti&lt;br /&gt;mimpi, diriku saat ini telah jadi bumbu sedap di berbagai&lt;br /&gt;infotaiment. Kehidupanku bak sayuran segar tuk jadi bahan menu konsumsi&lt;br /&gt;saban hari masyarakat penikmat TV.&lt;br /&gt;Aku tak menyadari 8 bulan lebih aku tinggal di kota Jakarta yang besar&lt;br /&gt;ini.Aku sudah menjadi bintang terang penghias layar kaca.Jalanku ke gerbang&lt;br /&gt;keartisan terbilang amat mudah.Dengan sekali casting, saat pertama&lt;br /&gt;menginjakkan kaki di kota monas ini meski dengan ketipisan budget saat itu,&lt;br /&gt;namaku langsung dipanggil untuk jadi tokoh utama di sebuah judul sinema&lt;br /&gt;elektronika yang akhir-akhir ini menduduki rating tertinggi di jajaran sinetron&lt;br /&gt;tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Karena rating tertinggi itupula, dengan nama samaranku-Novar Digna-&lt;br /&gt;seorang gadis muda asal desa di Tasikmalaya Jawa Barat menjadi wajah tenar&lt;br /&gt;di seluruh kalangan.Sosokku telah tak asing lagi di kancah entertaiment&lt;br /&gt;ibukota.Jadwal syutingku pun tiap hari, panggilan dari berbagai reality show T&lt;br /&gt;membludak schedulenya. Jumpa fans juga telah ku lalui hampir di saban kota di&lt;br /&gt;nusantara.Tak ada waktu untuk aku istirahat ataupun bersantai-santai ria di&lt;br /&gt;sebuah istana indah di kawasan Tebet Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;Diriku seakan angin yang berhembus ringan melayang di puncak&lt;br /&gt;kepopuleran. Tak heran jika kala wajahku hadir tiba-tiba di sebuah pusat&lt;br /&gt;perbelanjaan, semua orang dengan antusias berlari cepat ke arahku dan&lt;br /&gt;dengan berebut mengambil fotoku dan meminta tanda tangan jelekku.&lt;br /&gt;Aku seringkali pada diriku sendiri,sebenarnya aku hanya manusia&lt;br /&gt;biasa.Perempuan desa yang cuma lulusan SMA dan tinggal di sebuah gubuk&lt;br /&gt;tua samping sawah milik ayahku yang dari 8 bulan lalu belum sempat aku&lt;br /&gt;kunjungi.Keadaan keluarga di desa pun acapkali lari dari pikirku.Namun&lt;br /&gt;mengapa banyak jiwa yang seaakan gila bila melihat tampangku nangkring di&lt;br /&gt;balik TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Aku seolah tak mengerti, mengapa dunia begitu cepat beralih.Aku baru&lt;br /&gt;menyadari, bahwa diriku bukanlah artis sejati saat namaku disebut-sebut&lt;br /&gt;menjadi wanita ketiga dalam pernikahan pejabat pemerintahan dari petinggi&lt;br /&gt;senayan.Namaku saat inipun tengah hangat di berbagai media.&lt;br /&gt;Banyak pencari berita berkejar-kejaran memburuku.Tak sedikit kamer&lt;br /&gt;menangkap parasku.Tak jarang pun infotaiment menguraikan kisahku itu&lt;br /&gt;sampai titik yang teramat membuat telingaku panas.Kata-kata pedas&lt;br /&gt;menyudutkanku, cercaan tak sedap sering berlabuh padaku dan hujan hinaan&lt;br /&gt;pengganti pujian manis setelah itu.&lt;br /&gt;Setelah gosip yang tak tahu dari mana asalnya menerpaku.Entah hanya&lt;br /&gt;sebuah terkaan semata karena beberapa waktu lalu aku sempat diundang di&lt;br /&gt;sebuah pertemuan resmi dengan pejabat DPR yang dimaksud terkait acara&lt;br /&gt;sosial yang saat itu akupun tak sendiri, lantas banyak wartawan yang kala itu&lt;br /&gt;hadir dengan berani pernyataan salah.Atau justru ingin meruntuhkan namaku&lt;br /&gt;yang tak lama terbangun megah di ketinggian menara.&lt;br /&gt;Tapi, aku tak mau beprasangka buruk dulu, aku tak mau hanya terlaru&lt;br /&gt;dalam air kesedihan.Akupun jadi sedikit sadar , aku sudah tertipu oleh dunia&lt;br /&gt;selebritis yang awalnya terlihat terang benderang bak bintang yang&lt;br /&gt;menggantung indah di langit malam.Namun selanjutnya siapa yang berani&lt;br /&gt;menjamn hidupku akan berubah begitu cepat.&lt;br /&gt;Sejak gosip panas itu, banyak mata yang melihat angkuh ke&lt;br /&gt;arahku.Banyak sikap acuh padaku.Keluargaku pun tak meneimaku ketika aku&lt;br /&gt;kembali pulang setelah semua itu terjadi.Ketika semua kebahagiaan semu ini&lt;br /&gt;hanya tinggal kepedihan tangisan yang tersisa.&lt;br /&gt;Yang pasti, pada akhirnya aku tak mau lagi mengakui bahwa aku&lt;br /&gt;bukanlah selebritis.Aku bukanlah artis yang dulu berlimpah uang, yang dulu&lt;br /&gt;dengan mudah disapa orang penuh senyum telempar ke rona wajahku.Yang&lt;br /&gt;dulu penuh segan dan keanggunan.Dan ku tak akan lagi menyudi menyadari&lt;br /&gt;diri dalam hati, bukanlah selebritis dengan kebahagiaan utuh menyertai&lt;br /&gt;langkahku setiap waktuku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-8889215865325558777?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/8889215865325558777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=8889215865325558777' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/8889215865325558777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/8889215865325558777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2008/09/cerpen.html' title='cerpen'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6184744215673925976.post-2749855737082708807</id><published>2008-09-17T21:00:00.000-07:00</published><updated>2008-09-27T22:35:46.324-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mutiara kata untuk kehidupan'/><title type='text'>puisi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_0"&gt;Deburan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1"&gt;kehidupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_2"&gt;Jejak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_3"&gt;kaki&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_4"&gt;mengukir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_5"&gt;desiran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_6"&gt;debu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_7"&gt;pagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_8"&gt;Getaran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_9"&gt;nadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_10"&gt;mengalun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_11"&gt;amarah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_12"&gt;penyusut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_13"&gt;hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_14"&gt;Terkaman&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_15"&gt;kehidupan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_16"&gt;menjerit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_17"&gt;menyelubungi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_18"&gt;tubuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_19"&gt;ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;paras &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_20"&gt;anggun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_21"&gt;bak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_22"&gt;semu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_23"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_24"&gt;bayang&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_25"&gt;bayang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_26"&gt;pandangan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_27"&gt;masi&lt;/span&gt;h &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_28"&gt;samar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutulis satu kata untuk seribu tahun ke depan&lt;br /&gt;Selayang angan menari-nari di ambang pikiran&lt;br /&gt;Akankah bibir ini kan sanggup bicara&lt;br /&gt;Di tengah ketidakjujuran merajalela&lt;br /&gt;Sanggupkah tubuh ini kan rela hadir&lt;br /&gt;Di tengah insan-insan yang tak lagi berjiwa adil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan iman kan jadi tonggak&lt;br /&gt;Melawan segudang nafsu yang menjebak&lt;br /&gt;Kebesaran hati kan jadi pegangan&lt;br /&gt;Menerima sejuta takdir yang meraung kejam                                                                                                                                                                  &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6184744215673925976-2749855737082708807?l=wafuyusay.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wafuyusay.blogspot.com/feeds/2749855737082708807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6184744215673925976&amp;postID=2749855737082708807' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/2749855737082708807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6184744215673925976/posts/default/2749855737082708807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wafuyusay.blogspot.com/2008/09/puisi_17.html' title='puisi'/><author><name>say wafuyu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01754492482004936054</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-eynQKta9ptQ/TkP5qHbrqAI/AAAAAAAAAE4/wueLECMcdaE/s220/akhwat2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
