cari yukkk....

Jumat, 20 Agustus 2010

Renungan untuk Aktivis Dakwah

Kini, Palangkaraya pun menjadi sorotan


Semenjak wacana pemindahan Ibukota gencar disiarkan media, tiba-tiba pusat dari Propinsi Kalimantan Tengah itu jadi perhatian khalayak negeri ini. Ya, Palangkaraya tak ubahnya menjadi pilihan banyak kalangan untuk memindah lokasi Ibukota Republik Indonesia.
Motivasi itu pun bermula dari inisiatif Presiden pertama kita, yakni Ir. Soekarno. Banyak pihak memandang Palangkaraya memiliki beberapa nilai plus untuk dijadikan Ibukota sebuah Negara.
Palangkaraya terletak di tengah-tengah wilayah NKRI dan memiliki posisi yang strategis sebagai pusat pemerintahan. Selain itu, kota yang menjadi bagian dari pulau Kalimantan ini mengapung di atas kulit bumi yang tidak terdapat patahan lempeng. Hal lain yang menjadi kelebihan Palangkaraya adalah, kota ini tidak dilewati oleh rangkaian gunung api dunia, baik dari jalur sirkum pasifik maupun sirkum mediteran.
Sehingga, jika prediksi bencana alam berupa gempa bumi, seperti gempa tektonik ataupun gempa vulkanik, Kalimantan dan terkhusus Kota Palangkaraya sendiri, tidak menjadi wilayah rawan akan hal tersebut.
Dan bagaimana sekarang pemerintah dalam menanggapi wacana ini, semoga menjadi pertimbangan.

Sabtu, 13 Maret 2010

Geografi pada kenyataannya

Geografi, mata pelajaran ini sempat akan dihapus dari daftar penentu UNAS siswa SMA jurusan Ilmu Sosial yang keberadaannya sedikit terdengar miris. Keberadaanya pun agak tidak diutamakan di sekolah menengah baik menengah atas maupun menengah pertama. Lebih miris lagi bahwa pelajaran ini hanya menjadi pelengkap kurikulum dan guru yang memberi materi berasal dari lulusan yang bukan murni geografi. Sehingga sang pengajarnya pun tidak professional seperti yang diharapkan.
Namun, dibalik kemalangan nasib geografi yang seakan dianaktirikan itu sebenarnya mengandung sejuta manfaat yang orientasinya pada kecintaan alam serta pengenalan masyarakat sebagai penghuni bumi. Jika saja geografi jadi salah satu mata pelajaran utama dan jamnya diperbanyak, maka pengetahuan pelajar tentang wilayah-wilayah NKRI yang diungkap melalui penyajian peta, potensi alam Indonesia yang banyak diutarakan pada sumber daya alam ataupun seluk beluk geosfer yang tersaji sepenuhnya, akan sanggup menggulingkan kekrisisan pemahaman generasi muda tentang tanah airnya saat ini. Serta, mampu meminimalisasi kemungkinan masyarakat awam acuh pada pengembangan kekayaan alam Indonesia yang begitu luar biasa. Orang asing pun tidak akan lagi dengan mudah membodohi penduduk nusantara jika kita benar-benar tahu potensi dan ketahanan alam Indonesia melalui pelajaran geografi yang pada dasarnya akan menguliti kandungan wilayah bumi dan semesta ini.

Aku ingat luar biasanya Ibu

Aku masih ingat. Dulu, ibu selalu memarahiku jika hujan tiba, entah itu hujan lebat atau hanya hujan biasa, aku masih berkeliaran di luar rumah mencari kesenangan bersama temen-teman sebayaku. Ibu juga selalu marah jika aku selalu membangkang ketika ogah-ogahan potong rambut. Atau, ketika ibu menasehatiku dengan serius tapi tiba-tiba aku menyelanya tanpa sopan-santun, atau mungkin aku sering tidak percaya terhadap apa yang beliau bicarakan karena lebih percaya pada omongan orang lain dari topik yang sedang dibicarakan. Aku masih ingat betul bagaimana raut muka ibu ketika marah, wajahnya merah padam serta nada suara yang agak meninggi yang kerap terdengar hingga ke telinga tetangga. Aku memang sering melakukan kesalahan, kelalaian ataupun kebodohan yang membuatku di mata Ibu sebagai anak yang biasa saja dan tidak sepertia apa yang beliau harapkan. Dulu, aku dan kakak selalu berada di bawah pantauannya di saat bapakku pergi merantau ke Surabaya demi memenuhi kebutuhan kami di desa. Ibu sekaligus berusaha menjadi bapak yang tanggung jawabnya lebih besar. Dengan keadaan rumahku yang banyak kekurangan di mana-mana, entah itu atap yang bocor ketika hujan atau seringnya sarang rayap muncul berturut-turut di sebelah tembok yang tepat berada di tepian lantai rumah kayuku. Aku sering iba melihat ibu yang dengan susah payahnya berkorban melindungi kita dari hujan lebat yang membuat atap rumahku seperti langit yang menumpahkan air di mana-mana, di setiap sudut runah. Karena aku masih kecil, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa melihat ibu yang lalu lalang bersama kakak mencari wadah yang mampu menampung air hujan agar tidak membanjiri rumahku yang kala itu masih berlantaikan tanah. Ironisnya, meski ibu dan kakak sudah berusaha menghalangi air hujan tadi, lantainya tetap saja basah, becek dan perasaan tidak nyaman mau tidak mau memenjara aku, kakak serta ibu dengan kondisi rumah yang seperti dataran banjir. Aku benar-benar tidak nyaman, sungguh tidak nyaman. Dan aku sangat percaya, bahwa ibu lebih tidak nyaman. Namun, kekuatan dan ketegaran yang penuh terlihat dari kedua mata ibu.
Dan aku masih menyimpan memori dalam otakku sebuah perjuangan ibu dahulu yang besar kepada kami. Misalnya saja, saat kakak menginjak bangku SMA,waktu itu kakak yang bersekolah di sebuah SMU Muhamadiyah di Kecamatan kami yang jaraknya jauh dari rumah. Dan di kala musim penghujan yang hujannya datang di sore hari, petaka datang tak diundang ke benak ibu. Ibu merasa was-was luar biasa ketika kakak tak kunjung pulang. Lantas dengan jiwa besarnya, ibupun tanpa pikir panjang dengan mengambil sepeda tetangga dan dikayuhnya untuk memastikan keberadaan kakak di maghrib yang lama-kelamaan kian gelap. Tak hanya sekali Ibu menemui keadaan seperti ini, bahkan hampir di tiap hari di waktu penghujan datang. Meski saat itu aku kecil dan masih sangatlah polos, tapi aku mampu membaca ketabahan yang tercermin dari tiap derap langkahnya mengambil keputusan.
Saat aku SD dulu. Aku pernah merasakan keharuan ketika berpisah sementara dengan ibu. Waktu itu aku diberi amanah oleh sekolah bersama teman-teman saya untuk mengikuti perkemahan selama tiga hari di sebuah desa yang cukup jauh dari desa kami, sehingga guru kami berpesan agar para orang tua tidak perlu susah-susah untuk menjenguk kami di bumi perkemahan itu. Aku pun spontan mendoktrin ibu agar tak usah melihatku. Namun, kenyataan berjalan lain, tiba-tiba di suatu siang kala perkemahan sudah menemui hariku, ibu berjalan mendatangi tenda kami dengan menjinjing satu bungkus makanan yang sebelumnya aku tidak tahu itu apa. Aku pun terkejut bukan kepalang saat aku menemui beliau. Yang kukatakan pertama saat beliau menatapku adalah kata-kata dengan nada marah-marah.
“Bu…, kenapa kesini??” Ibu hanya terdiam melihatku dengan sorot kerinduan di matanya.
“Ibu kangen Yu, sama kamu. Tadi malam ibu tidak bisa tidur.” Kata-katanya datar, namun entah mengapa aku jadi terharu sendiri.
“Aku kan sudah bilang sama ibu, ibu nggak usah jauh-jauh kesini. Tadi ibu dianterin siapa?”
“Dianterin cak Jainun. Ini ada jeruk makan sana sama teman-temanmu.”ujarnya sedari menyerahkan sebungkus jeruk kepadaku.
Beberapa menit kemudian, ibu diajak bicara oleh beberapa guruku. Tapi, tidak berselang lama, ibu jadi agak pendiam. Wajahnya melas melihat keadaan sekitar. Ku tatap matanya dalam-dalam, aku melihat sirat kesedihan yang terpancar tanpa kesadarannya.
“Ibu sekarang pulang saja.” Beliau pun memandangku dengan gurat keanehan.”Ya sudah, ibu pulang saja.”
Mata ibu spontan memerah, sepertinya ingin menangis. Tapi aku tak menampakkan tanda-tanda selayaknya beliau. Aku malah menggiringnya untuk pulang. Mungkin aku kejam saat itu. Hanya memberi kesempatan sekian menit untuk melepas kerinduannya padaku. Entah mengapa kala itu paradigmaku membentuk suatu pemikiran bahwa ibu tak boleh menjengukku. Ibu jangan datang ke bumi perkemahan itu. Dan paradigma sadis itu membuat hati ibu hancur berkeping-keping. Akhirnya, sesaat setelah itu,ibu pun pergi dengan tangisan hati yang mendalam. Bibir kecilku telah membawanya pada jeritan hati yang tak pernah beliau sangka sebelumnya, niatnya ingin menemuiku untuk melenyapkan rasa kangen yang membuncah padaku, ternyata berakhir dengan kepedihan yang melilit jantungnya. Maafkan aku ibu, aku telah menyakiti hatimu.
Saat ibu sudah pergi, aku pun kebelakang tenda untuk mencuci piring. Di situ, entah apa yang sedang terjadi dengan diriku. Tiba-tiba aku menangis, meneteskan air mata penyesalan yang luar biasa. Di tempat itu aku baru menyadari, kalau sosoknya sudah tak nampak lagi di depan kedua mataku. Aku benar-benar menyesal. Aku hanya bisa menjatuhkan tetesan penyesalan tentang kebodohan yang ku perbuat di depan ibuku sendiri, ibu yang sembilan bulan telah mengasihiku dalam susah payahnya, dalam peluh pengorbanannya serta dalam naungan rindu tulusnya yang tidak akan pernah bertepi hingga kapanpun.
Tapi, aku tetap menganggap ibu adalah ibu yang luar biasa. Kerja kerasnya tak akan luntur hingga tubuhnya masih kuat untuk menopang segala jenis amanah yang membebani pundaknya. Ketika memasuki masa-masa akhir di SD, bibir ibu sedikit bisa terangkat dan melengkung dengan manisnya wajah yang beliau persembahkan. Hal Ini berawal ketika kakak sudah dipinang oleh seorang laki-laki yang hampir tiga tahun menjadi wali kelasku saat SD dulu. Ya…,kakak menikah dengan guru SDku. Meski begitu, beban ibu masih saja menggelantung di pundaknya yang kerap menimbulkan air mata di setiap munajat malamnya. Pernikahan kakak yang seharusnya diliputi perasaan bahagia, ternyata membuat perasaan ibu kalang kabut. Ada suatu omong-omongan yang mengganjal di hati ibu dan itu sudah menyebar di masyarakat. Lantaran memikirkan hal itu, air mata beliau sering jatuh seraya gelisah yang memadati ruang hatinya. Namun sejalan dengan waktu tak mungkin kembali lagi, isu yang berkembang di masyarakat lama-kelamaan hilang dan beban ibu pun tak lagi terasa. Ibu senantiasa memohon pada-Nya tentang segala hal yang menjadi benalu dalam pikirnya, termasuk masalah tadi yang amat membuat tidur beliau berhari-hari tak nyenyak.
Dan, pengorbanan ibu tidak berhenti begitu saja. Ibu semakin terlihat perjuangannya ketika naluri bersekolahku sangat tinggi. Yang kulihat perjuangan ibu begitu besar adalah di waktu aku duduk di bangku SMA. Peluhnya terasa mengalir amat deras seiring do’a tulusnya untukku. Dengan penghasilan bapak yang pas-pasan, peran ibu pun menjadi dominan.
Ku ingat sungguh ketika ibu semangat menerima pekerjaan sebagai buruh tani di setiap hari-harinya, tapi ibu juga tidak melepas tanggung jawabnya merawat sawah yang merupakan warisan dari nenek dulu. Pekerjaan buruh tani yang mungkin dianggap remeh orang lain, ternyata malah berpotensi menjadi jembatan bagi beliau untuk menyekolahkanku. Gaji sepuluh ribu perak hanya beliau terima dalam setengah hari. Dan setengah hari itu, ibu harus bertarung dengan panas, keringat yang menggerahkan tubuh serta rasa penat yang kian menggangu ketika lelah mulai menempel di setiap persendian kaki dan tanganya. Di waktu malam pun tiba, sering ku dengar keluhan dari bibir tebalnya dan ku lihat guratan keletihan yang mengantongi raut tuanya. Juga tak jarang ku perhatikan di waktu senja menjemput berjuta bintang di langit malam, rasa pening akan beban hidup juga tergambar jelas dari gerak-gerik tubuhnya yang lemas.
Ku ingat betul kebiasaan ibu ketika bangun pagi-pagi mendahului kokokan ayam jantan bersahut-sahutan, ibu bangun bukan dengan kesejukan mata yang terpancar, melainkan dengan kepenatan agenda harian yang menuntutnya untuk terus produktif dan tegas dalam memahami waktu. Meski berat, tapi ibu tetap bersemangat. Lantas pagi pun mengajaknya untuk terus bergerak dan bergerak, tanggung jawab masak di setiap pagi-paginya memaksa beliau untuk tahan banting meski tubuhnya tengah memeluk keletihan, apalagi ketika saya dituntut mengikuti kegiatan yang mau tidak mau mengharuskan saya membawa bekal ke sekolah. Itu yang membuat beliau harus bangun sejak fajar masih terlalu dini untuk muncul. Segala macam bahan masakan yang sudah dipreparekan juga dengan lihai diolahnya. Meski peluh bercucuran, otot dan urat kencang dengan jelas terlihat hingga menunjukkan begitu besar pengorbanan beliau padaku. Setelah siap hidangan pagi, ibu pun tidak lantas berhenti begitu saja. Beliau memang sungguh luar biasa, sepetak sawah juga telah menunggunya di saban mentari merotasi hingga siang jua datang dengan lamban.
Ibu memang selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga, termasuk juga aku. Aku masih ingat kala aku terpaksa pulang sampai menjelang maghrib. Dengan tubuh yang sangat lemah dan kepenatan yaang mulai menyempitkan semangat diri. Ibu datang dengan senyum seraya perintah lewat tuturnya yang hangat dari bibirnya. ”Yu...mandinya dengan air hangat ya...?”ternyata beliau sudah menyiapkan air hangat untuk aku mandi. Itu yamg membuat aku selalu tersenyum dengan satu pepatah, ”Kalau mandi di malam hari pakai air dingin, nanti kena rematik” ya...aku sedikit tersenyum dengan kata-kata ibu itu. Tapi di balik itu, ibu ingin memberikan perlindungan untuk aku maupun untuk semuanya.
Ibu memang sangat protektiv, karena sifat protektiv itulah ibu sangat memperhatikan dan menyayangi kami. Mungkin dengan naluri keibuannyalah, tindak tanduknya yang protektiv tadi muncul dengan sendirinya dalam bentuk respon di setiap kejadian yang terjadi di sekitar. Ya...terkadang respon itu terasa berlebihan padaku, sehingga memicu image”Anak mami”melekat erat padaku. Sebenarnya...agak risih sih, tapi lama-kelamaan aku menyadari kalau kata-kata itu benar-benar ku butuhkan seiring kecilnya kesempatan bersama beliau dan memandang wajahnya yang bersahaja. Mataku hanya bergelut dengan keseharian di sekolah yang terkadang menyita waktu. Tapi aku sangat bangga ketika diberi julukan ”Anak mama”, ketika aku membutuhkannya, ibu tanpa pamrih membantuku dengan tangan suciya. Contohnya saja ketika aku terjatuh sakit. Ibu tanpa segan langsung membawaku ke bidan untuk mengecek keadaanku. Dan disaat itulah peran ibu sangat ku butuhkan. Banyak petuah yang keluar dengan sendirinya demi kesehatanku yang tengah drop. Dan siapa lagi yang dengan tulus memberikan itu, hanya Ibulah yang bisa semuanya. Hanya Ibu dan hanya Ibu dengan kendali di bawah kekuasaan-Nya.
Selepas aku SMA, tidak hanya aku yang merasa kebingungan atas kemanakah arah aku selanjutnya setelah jenjang pendidikan 12 tahun ku tunaikan. Dalam hati kecilku selalu menyerukan ”Ingin kuliah...ingin kuliah...ingin kuliah...”. Bukannya aku terlalu berambisi, tapi dorongan niat yang kuat memacuku untuk segera menamatkanku sebagai seorang mahasiswa. Tapi dibalik itu semua, ada sesuatu yang mengganjal di hati ibu. Pertanyaan-pertanyaan sering muncul mendatangkan duri yang mengganggu hati ibu. Seperti satu pertanyaan mengharukan ini ”Apa aku punya tabungan untuk menguliahkan anakku ini?? Darimana nanti uang yang aku dapatkan jika anakku benar-benar kuliah. Darimana?? Aku tak punya bekal apa-apa untuk aku jual. Meski ada sawah, tak bisa dengan mudah mendatangkan uang di genggamanku” uraian perasaan ibu membuat hatiku sungguh iba. Satu momem di mana jiwa Ibu merasa perih ketika mendengar tanpa sengaja perbincangan dua orang Ibu wali murid ketika acara purnawisma (keluusan) berlangsung di sekolahku. Salah satu Ibu itu berkata ”Sampeyan sudah menyiapkan tabungan berapa untuk anak sampeyan kuliah??”, Ibu yang satunya menjawab ”Ya...kira-kira sepuluh jutaan...”. Spontan kata-kata tadi menyusup sendirinya ke hati Ibu. Pertanyaan kembali muncul, ”Lantas sudah berapa nominal yang sudah kupersiapkan untuk kuliah anakku”. Ya Allah, sugguh pertanyaan yang amat ironis di tengah-tengah krisis finansial yang melilit ekonomi keluarga kami meski kakak terkadag mumbuka tangan untuk membantu. Dan dengan kesungguhannya berdo’a, akhirnya aku diberikan kemudahan bisa diterima di sebuah negeri Universitas di Surabaya. Hingga saat ini, Ibu masih menjadi sososk yang begitu luar biasa. Dari aku tertidur pulas dalam gendongan perut buncitnya sampai sekarang aku bisa sedikit demi sedikit meraih bintang kehidupan yang cemerlang walau belum berwujud sebuah materi di hadapannya. Ibu, ku selalu ingat jamahan tangan darimu yang tanpa lelah, pengorbanan hati dan pikiran yang tak pernah kering serta nasehat-nasehat mutiara yang membangun semagat jiwa ini. Ibu, kau benar-benar luar biasa. Aku akan selalu ingat itu.

Aku ingat luar biasanya Ibu



Aku masih ingat. Dulu, ibu selalu memarahiku jika hujan tiba, entah itu hujan lebat atau hanya hujan biasa, aku masih berkeliaran di luar rumah mencari kesenangan bersama temen-teman sebayaku. Ibu juga selalu marah jika aku selalu membangkang ketika ogah-ogahan potong rambut. Atau, ketika ibu menasehatiku dengan serius tapi tiba-tiba aku menyelanya tanpa sopan-santun, atau mungkin aku sering tidak percaya terhadap apa yang beliau bicarakan karena lebih percaya pada omongan orang lain dari topik yang sedang dibicarakan. Aku masih ingat betul bagaimana raut muka ibu ketika marah, wajahnya merah padam serta nada suara yang agak meninggi yang kerap terdengar hingga ke telinga tetangga. Aku memang sering melakukan kesalahan, kelalaian ataupun kebodohan yang membuatku di mata Ibu sebagai anak yang biasa saja dan tidak sepertia apa yang beliau harapkan. Dulu, aku dan kakak selalu berada di bawah pantauannya di saat bapakku pergi merantau ke Surabaya demi memenuhi kebutuhan kami di desa. Ibu sekaligus berusaha menjadi bapak yang tanggung jawabnya lebih besar. Dengan keadaan rumahku yang banyak kekurangan di mana-mana, entah itu atap yang bocor ketika hujan atau seringnya sarang rayap muncul berturut-turut di sebelah tembok yang tepat berada di tepian lantai rumah kayuku. Aku sering iba melihat ibu yang dengan susah payahnya berkorban melindungi kita dari hujan lebat yang membuat atap rumahku seperti langit yang menumpahkan air di mana-mana, di setiap sudut runah. Karena aku masih kecil, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa melihat ibu yang lalu lalang bersama kakak mencari wadah yang mampu menampung air hujan agar tidak membanjiri rumahku yang kala itu masih berlantaikan tanah. Ironisnya, meski ibu dan kakak sudah berusaha menghalangi air hujan tadi, lantainya tetap saja basah, becek dan perasaan tidak nyaman mau tidak mau memenjara aku, kakak serta ibu dengan kondisi rumah yang seperti dataran banjir. Aku benar-benar tidak nyaman, sungguh tidak nyaman. Dan aku sangat percaya, bahwa ibu lebih tidak nyaman. Namun, kekuatan dan ketegaran yang penuh terlihat dari kedua mata ibu.
Dan aku masih menyimpan memori dalam otakku sebuah perjuangan ibu dahulu yang besar kepada kami. Misalnya saja, saat kakak menginjak bangku SMA,waktu itu kakak yang bersekolah di sebuah SMU Muhamadiyah di Kecamatan kami yang jaraknya jauh dari rumah. Dan di kala musim penghujan yang hujannya datang di sore hari, petaka datang tak diundang ke benak ibu. Ibu merasa was-was luar biasa ketika kakak tak kunjung pulang. Lantas dengan jiwa besarnya, ibupun tanpa pikir panjang dengan mengambil sepeda tetangga dan dikayuhnya untuk memastikan keberadaan kakak di maghrib yang lama-kelamaan kian gelap. Tak hanya sekali Ibu menemui keadaan seperti ini, bahkan hampir di tiap hari di waktu penghujan datang. Meski saat itu aku kecil dan masih sangatlah polos, tapi aku mampu membaca ketabahan yang tercermin dari tiap derap langkahnya mengambil keputusan.
Saat aku SD dulu. Aku pernah merasakan keharuan ketika berpisah sementara dengan ibu. Waktu itu aku diberi amanah oleh sekolah bersama teman-teman saya untuk mengikuti perkemahan selama tiga hari di sebuah desa yang cukup jauh dari desa kami, sehingga guru kami berpesan agar para orang tua tidak perlu susah-susah untuk menjenguk kami di bumi perkemahan itu. Aku pun spontan mendoktrin ibu agar tak usah melihatku. Namun, kenyataan berjalan lain, tiba-tiba di suatu siang kala perkemahan sudah menemui hariku, ibu berjalan mendatangi tenda kami dengan menjinjing satu bungkus makanan yang sebelumnya aku tidak tahu itu apa. Aku pun terkejut bukan kepalang saat aku menemui beliau. Yang kukatakan pertama saat beliau menatapku adalah kata-kata dengan nada marah-marah.
“Bu…, kenapa kesini??” Ibu hanya terdiam melihatku dengan sorot kerinduan di matanya.
“Ibu kangen Yu, sama kamu. Tadi malam ibu tidak bisa tidur.” Kata-katanya datar, namun entah mengapa aku jadi terharu sendiri.
“Aku kan sudah bilang sama ibu, ibu nggak usah jauh-jauh kesini. Tadi ibu dianterin siapa?”
“Dianterin cak Jainun. Ini ada jeruk makan sana sama teman-temanmu.”ujarnya sedari menyerahkan sebungkus jeruk kepadaku.
Beberapa menit kemudian, ibu diajak bicara oleh beberapa guruku. Tapi, tidak berselang lama, ibu jadi agak pendiam. Wajahnya melas melihat keadaan sekitar. Ku tatap matanya dalam-dalam, aku melihat sirat kesedihan yang terpancar tanpa kesadarannya.
“Ibu sekarang pulang saja.” Beliau pun memandangku dengan gurat keanehan.”Ya sudah, ibu pulang saja.”
Mata ibu spontan memerah, sepertinya ingin menangis. Tapi aku tak menampakkan tanda-tanda selayaknya beliau. Aku malah menggiringnya untuk pulang. Mungkin aku kejam saat itu. Hanya memberi kesempatan sekian menit untuk melepas kerinduannya padaku. Entah mengapa kala itu paradigmaku membentuk suatu pemikiran bahwa ibu tak boleh menjengukku. Ibu jangan datang ke bumi perkemahan itu. Dan paradigma sadis itu membuat hati ibu hancur berkeping-keping. Akhirnya, sesaat setelah itu,ibu pun pergi dengan tangisan hati yang mendalam. Bibir kecilku telah membawanya pada jeritan hati yang tak pernah beliau sangka sebelumnya, niatnya ingin menemuiku untuk melenyapkan rasa kangen yang membuncah padaku, ternyata berakhir dengan kepedihan yang melilit jantungnya. Maafkan aku ibu, aku telah menyakiti hatimu.
Saat ibu sudah pergi, aku pun kebelakang tenda untuk mencuci piring. Di situ, entah apa yang sedang terjadi dengan diriku. Tiba-tiba aku menangis, meneteskan air mata penyesalan yang luar biasa. Di tempat itu aku baru menyadari, kalau sosoknya sudah tak nampak lagi di depan kedua mataku. Aku benar-benar menyesal. Aku hanya bisa menjatuhkan tetesan penyesalan tentang kebodohan yang ku perbuat di depan ibuku sendiri, ibu yang sembilan bulan telah mengasihiku dalam susah payahnya, dalam peluh pengorbanannya serta dalam naungan rindu tulusnya yang tidak akan pernah bertepi hingga kapanpun.
Tapi, aku tetap menganggap ibu adalah ibu yang luar biasa. Kerja kerasnya tak akan luntur hingga tubuhnya masih kuat untuk menopang segala jenis amanah yang membebani pundaknya. Ketika memasuki masa-masa akhir di SD, bibir ibu sedikit bisa terangkat dan melengkung dengan manisnya wajah yang beliau persembahkan. Hal Ini berawal ketika kakak sudah dipinang oleh seorang laki-laki yang hampir tiga tahun menjadi wali kelasku saat SD dulu. Ya…,kakak menikah dengan guru SDku. Meski begitu, beban ibu masih saja menggelantung di pundaknya yang kerap menimbulkan air mata di setiap munajat malamnya. Pernikahan kakak yang seharusnya diliputi perasaan bahagia, ternyata membuat perasaan ibu kalang kabut. Ada suatu omong-omongan yang mengganjal di hati ibu dan itu sudah menyebar di masyarakat. Lantaran memikirkan hal itu, air mata beliau sering jatuh seraya gelisah yang memadati ruang hatinya. Namun sejalan dengan waktu tak mungkin kembali lagi, isu yang berkembang di masyarakat lama-kelamaan hilang dan beban ibu pun tak lagi terasa. Ibu senantiasa memohon pada-Nya tentang segala hal yang menjadi benalu dalam pikirnya, termasuk masalah tadi yang amat membuat tidur beliau berhari-hari tak nyenyak.
Dan, pengorbanan ibu tidak berhenti begitu saja. Ibu semakin terlihat perjuangannya ketika naluri bersekolahku sangat tinggi. Yang kulihat perjuangan ibu begitu besar adalah di waktu aku duduk di bangku SMA. Peluhnya terasa mengalir amat deras seiring do’a tulusnya untukku. Dengan penghasilan bapak yang pas-pasan, peran ibu pun menjadi dominan.
Ku ingat sungguh ketika ibu semangat menerima pekerjaan sebagai buruh tani di setiap hari-harinya, tapi ibu juga tidak melepas tanggung jawabnya merawat sawah yang merupakan warisan dari nenek dulu. Pekerjaan buruh tani yang mungkin dianggap remeh orang lain, ternyata malah berpotensi menjadi jembatan bagi beliau untuk menyekolahkanku. Gaji sepuluh ribu perak hanya beliau terima dalam setengah hari. Dan setengah hari itu, ibu harus bertarung dengan panas, keringat yang menggerahkan tubuh serta rasa penat yang kian menggangu ketika lelah mulai menempel di setiap persendian kaki dan tanganya. Di waktu malam pun tiba, sering ku dengar keluhan dari bibir tebalnya dan ku lihat guratan keletihan yang mengantongi raut tuanya. Juga tak jarang ku perhatikan di waktu senja menjemput berjuta bintang di langit malam, rasa pening akan beban hidup juga tergambar jelas dari gerak-gerik tubuhnya yang lemas.
Ku ingat betul kebiasaan ibu ketika bangun pagi-pagi mendahului kokokan ayam jantan bersahut-sahutan, ibu bangun bukan dengan kesejukan mata yang terpancar, melainkan dengan kepenatan agenda harian yang menuntutnya untuk terus produktif dan tegas dalam memahami waktu. Meski berat, tapi ibu tetap bersemangat. Lantas pagi pun mengajaknya untuk terus bergerak dan bergerak, tanggung jawab masak di setiap pagi-paginya memaksa beliau untuk tahan banting meski tubuhnya tengah memeluk keletihan, apalagi ketika saya dituntut mengikuti kegiatan yang mau tidak mau mengharuskan saya membawa bekal ke sekolah. Itu yang membuat beliau harus bangun sejak fajar masih terlalu dini untuk muncul. Segala macam bahan masakan yang sudah dipreparekan juga dengan lihai diolahnya. Meski peluh bercucuran, otot dan urat kencang dengan jelas terlihat hingga menunjukkan begitu besar pengorbanan beliau padaku. Setelah siap hidangan pagi, ibu pun tidak lantas berhenti begitu saja. Beliau memang sungguh luar biasa, sepetak sawah juga telah menunggunya di saban mentari merotasi hingga siang jua datang dengan lamban.
Ibu memang selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga, termasuk juga aku. Aku masih ingat kala aku terpaksa pulang sampai menjelang maghrib. Dengan tubuh yang sangat lemah dan kepenatan yaang mulai menyempitkan semangat diri. Ibu datang dengan senyum seraya perintah lewat tuturnya yang hangat dari bibirnya. ”Yu...mandinya dengan air hangat ya...?”ternyata beliau sudah menyiapkan air hangat untuk aku mandi. Itu yamg membuat aku selalu tersenyum dengan satu pepatah, ”Kalau mandi di malam hari pakai air dingin, nanti kena rematik” ya...aku sedikit tersenyum dengan kata-kata ibu itu. Tapi di balik itu, ibu ingin memberikan perlindungan untuk aku maupun untuk semuanya.
Ibu memang sangat protektiv, karena sifat protektiv itulah ibu sangat memperhatikan dan menyayangi kami. Mungkin dengan naluri keibuannyalah, tindak tanduknya yang protektiv tadi muncul dengan sendirinya dalam bentuk respon di setiap kejadian yang terjadi di sekitar. Ya...terkadang respon itu terasa berlebihan padaku, sehingga memicu image”Anak mami”melekat erat padaku. Sebenarnya...agak risih sih, tapi lama-kelamaan aku menyadari kalau kata-kata itu benar-benar ku butuhkan seiring kecilnya kesempatan bersama beliau dan memandang wajahnya yang bersahaja. Mataku hanya bergelut dengan keseharian di sekolah yang terkadang menyita waktu. Tapi aku sangat bangga ketika diberi julukan ”Anak mama”, ketika aku membutuhkannya, ibu tanpa pamrih membantuku dengan tangan suciya. Contohnya saja ketika aku terjatuh sakit. Ibu tanpa segan langsung membawaku ke bidan untuk mengecek keadaanku. Dan disaat itulah peran ibu sangat ku butuhkan. Banyak petuah yang keluar dengan sendirinya demi kesehatanku yang tengah drop. Dan siapa lagi yang dengan tulus memberikan itu, hanya Ibulah yang bisa semuanya. Hanya Ibu dan hanya Ibu dengan kendali di bawah kekuasaan-Nya.
Selepas aku SMA, tidak hanya aku yang merasa kebingungan atas kemanakah arah aku selanjutnya setelah jenjang pendidikan 12 tahun ku tunaikan. Dalam hati kecilku selalu menyerukan ”Ingin kuliah...ingin kuliah...ingin kuliah...”. Bukannya aku terlalu berambisi, tapi dorongan niat yang kuat memacuku untuk segera menamatkanku sebagai seorang mahasiswa. Tapi dibalik itu semua, ada sesuatu yang mengganjal di hati ibu. Pertanyaan-pertanyaan sering muncul mendatangkan duri yang mengganggu hati ibu. Seperti satu pertanyaan mengharukan ini ”Apa aku punya tabungan untuk menguliahkan anakku ini?? Darimana nanti uang yang aku dapatkan jika anakku benar-benar kuliah. Darimana?? Aku tak punya bekal apa-apa untuk aku jual. Meski ada sawah, tak bisa dengan mudah mendatangkan uang di genggamanku” uraian perasaan ibu membuat hatiku sungguh iba. Satu momem di mana jiwa Ibu merasa perih ketika mendengar tanpa sengaja perbincangan dua orang Ibu wali murid ketika acara purnawisma (keluusan) berlangsung di sekolahku. Salah satu Ibu itu berkata ”Sampeyan sudah menyiapkan tabungan berapa untuk anak sampeyan kuliah??”, Ibu yang satunya menjawab ”Ya...kira-kira sepuluh jutaan...”. Spontan kata-kata tadi menyusup sendirinya ke hati Ibu. Pertanyaan kembali muncul, ”Lantas sudah berapa nominal yang sudah kupersiapkan untuk kuliah anakku”. Ya Allah, sugguh pertanyaan yang amat ironis di tengah-tengah krisis finansial yang melilit ekonomi keluarga kami meski kakak terkadag mumbuka tangan untuk membantu. Dan dengan kesungguhannya berdo’a, akhirnya aku diberikan kemudahan bisa diterima di sebuah negeri Universitas di Surabaya. Hingga saat ini, Ibu masih menjadi sososk yang begitu luar biasa. Dari aku tertidur pulas dalam gendongan perut buncitnya sampai sekarang aku bisa sedikit demi sedikit meraih bintang kehidupan yang cemerlang walau belum berwujud sebuah materi di hadapannya. Ibu, ku selalu ingat jamahan tangan darimu yang tanpa lelah, pengorbanan hati dan pikiran yang tak pernah kering serta nasehat-nasehat mutiara yang membangun semagat jiwa ini. Ibu, kau benar-benar luar biasa. Aku akan selalu ingat itu.

London I’m Coming

London…London…
Ingin ku kesana…
London…London…
Sesaat lagu ini baru masuk ke gendang telingaku mengiringi otakku yang bekerja menekan bibirku agar lancar bicara ala-ala bule tulen yang biasa melancong ke Pulau Dewata Bali dengan sedikit menumpuk harapanku untuk berhasil besok. Yap…tinggal hitungan jam tubuhku bersiap mengepak jalan pikiranku guna bersahabat menancapkan angan-angan terpendam di langit-langit biru London.
Memang angan-angan itu teraneh selama aku hidup. Selama itupun aku tak kunjung sukses pergi melanglangbuana ke daratan Britania Raya. Aku masih ingat, dulu kala aku duduk di bangku sekolah strata SMP, Pak Ruyan pernah bercerita tentang London yang indah. Tentang megahnya pusat Inggris Raya yang penuh dengan tata kota yang menakjubkan mata.
Aku pun beranjak. Ku sunyikan suasana dan suara musik yang mendebur sudut kamarku. Lagu Hijrah ke London milik The Changcuters perlahan senyap menemani sunyinya malam ini. Mataku terpaksa masuk terbasahi oleh kelopak yang terasa berat seakan terpancung oleh beban seberat lima puluh kilogram. Lama-kelamaan tubuhku penuh pegal yang mendera. Entah berapa juta butir-butir persoalan yang masuk terpaksa ku pikirkan.
Akhirnya yang kulihat hanya hitam menggelayut bersama lembaran kantuk yang menghalus. Segala sesuatu yang mengunci dalam jendela otakku serasa hilang ditelan cepat oleh naluri kesunyian hati. Pelan-pelan malam demi malam diiringi oleh kumpulan embun sejuk mendatangkan pagi yang damai.
Ketika ku bangun dari ketenangan tempat tidur, serasa ku sangat kecewa. Rencana matang yang ku tulis dalam hati dan ku panjatkan sebelum tidur, harus pupus lantaran waktu yang menjeratku dalam kedinginan. Ku ingin bangun di tengah malam itu. Awal pagi atau sebelum subuh mataku siap mengucap harapan indah seraya membersihkan dosa dan melantunkan selaksa do’a dengan sholat bersimpuh pada-Nya. Aku tak sempat mencurahkan hatiku pada Rabb, Dzat yang benar-benar sempurna. Ku ingin Dia tahu lebih jauh tentang harapanku siang nanti, meski Dia lebih tahu soal seluk beluk hatiku dan pikiranku. Namun, semoga aku mampu menggenggam anugrah terindah dalam hidupku. Menggenggam mimpi yang tak sekedar mimpi, merenggut semangat yang tak hanya terbukti dalam bibir semata.
Lantas, penuh daya ku bangun dari kemalasan yang sempat terlintas dan secepatnya kupudarkan segalanya yang menghambat nyali diri ini. Ku segerakan menjamah air wudlu dan mengambilnya, kemudian shalat subuh di atas sajadah merah pemberian ayah di masa kecilku dulu. Akhirnya, ku bergegas menyiapkan satu stel baju rapi plus jilbab putih bercorak kupu-kupu yang baru dibelikan Ibu kala lebaran lalu. Menghias wajah walau tak perlukan sepotong lipgloss dan sebotol parfum impor dari luar negeri. Hanya bermodal bedak bubuk yang sering dipakai Ibu dan semprotan minyak wangi yang kubeli di sebuah toko tua milik Pak Ling di depan gang rumahku.
Sebelum ku melangkahkan kaki keluar rumah, ku membelokkan tujuan untuk shalat dhuha terlebih dahulu. Mengucap sejuta harapan yang melecutkan keyakinanku pagi ini, “Bismillah, ikhtiar ini akan di mulai..!!!” Suara hatiku membisik. Dengan segenggam harap turun dari naluri Ibu, ku sempatkan mencium punggung tangannya dan ku berjalan keluar dengan diawali panjatan do’a keluar rumah serta keinginan besar siang nanti. Langkahku serasa ringan terdorong keinginan setinggi langit dan sejauh mendaki Gunung Himalaya di India. Kususuri tepian gang rumahku menuju jalan raya yang telah menungguku hadir di sana seraya bercengkrama dengan suasana pagi yang masih menghangatkan mata.
Sesampainya, tak menyangka mikrolet yang sedikit lusuh akibat puluhan penumpang duduk berdesak-desakan sejenak berhenti di depanku. Kardus-kardus besar jua telah menumpuk di atap mikrolet tadi. Maksud hati ingin menolak, tapi supirnya malah tersenyum lebar padaku. Dengan berat hati, aku pun naik meski tak nyaman diri. Selama perjalanan melewati kesibukan kota, tubuhku seakan kaku akan posisiku yang entah bagaimana harus kugambarkan. Setelah perjalanan hampir satu jam, akhirnya ku tiba juga di tempat tes beasiswa yang membuka kesempatan untuk bersekolah ke Inggris yang jua amat ku harapkan.
Hawa panas yang menyelimuti dinding-dinding hati ternyata tak sejalan dengan hawa dinginnya di ruangan tes saat ini. Perasaan takut, gelisah dan tak tenang mendekat kala soal tes ada di genggaman. Melihat ujung kertas dari bagian atas sampai bawah, kosakata bahasa inggris terus nampak tak bercelah. Mataku kerap berkedip tak percaya. Do’apun refleks tercipta dari pusat otak dan terus teryakini dalam hati hingga terpanjatkan dari bibir yang penuh keinginan besar. Lantas, tanpa pikir panjang tanganku bergerak cepat setelah pikirku berputar tangkas menyelesaikan soal demi soal. Walau sukar bagiku, dengan susah payah ku gali semua potensi diri guna merampungkan soal-soal yang tak gampang dicerna pikiran.
Selesainya, akupun mengucap Alhamdulillah meski kesulitan acap datang tak diundang selama dua kali enam puluh menit berlangsung. Setelah itu, setelah satu setengah istirahat dan waktu menunggu yang telah amat menyebalkan bagiku, kini tes wawancara yang menjadi bagian penting dalam jadwal hari ini akhirnya tiba juga. Sesekali ku biarkan otakku bernafas bebas. Ku keluarkan beban pikirku yang memberatkan. Mencoba tenang dengan menghirup udara dalam-dalam, menghilangkan keletihan badan yang terus melekat pada tulang-tulang dan persendian.
Sejalan dengan detik yang tak pernah berhenti berputar di lingkar waktu yang abadi, tiba saatnya momen yang sanggup mengkokohkan batu-bata keberanianku. Tapi, sesekali nyaliku menciut lantaran getaran nadi-nadi dalam jantungku bekerja ekstra mengalirkan darah, urat-urat yang kuat pada telapak kaki serasa terbakar api ketakutan yang merasuk hingga ke tulang betis dan tulang keringku yang hingga kini menegakkan tubuhku. Pelan-pelan kurebahkan badan ini di atas tempat duduk yang berada di depan satu meja yang kulihat beberapa tumpuk berkas yang tengah dibaca seseorang berkacamata seraya menyeruput secangkir kopi hangat.
Dibacanya sekitar dua tiga menit paragraf tulisanku yang mengekspresikan keinginan agar bisa terbang ke London, merasakan nikmatnya menimba ilmu di negeri bertanah kapur itu. Sesaat setelah itu, beliau memandangku lekat-lekat. Lantas menatap plafon ruang di gedung bertingkat yang berhiaskan beberapa lampu neon berjajar rapi di atap putih halus itu.
Aku hanya diam melihat beliau yang bertingkah semaunya. Tiba-tiba suaranya yang serak menggaung di telingaku. “Pramesti Hamida Alsyifa. Luar biasa. Esaimu ini runtut, padat, berisi serta tajam dalam mengekspresikan setiap keinginanmu yang besar itu.”
Sejenak keadaan diam, ruangan hampa tanpa suara. Perasaanku sedikit tersanjung dengan ucapan pria paruhbaya itu. Namun secara mendadak, timbul suasana hati yang agak gelisah sesaat beliau mengeluarkan nada ragu dari bibirnya. “Tapi sayang, ada sedikit keganjalan dalam esai ini yang patut dipertanyakan.”
Aku tersentak. Penuh daya aku meluapkan anganku untuk berkhayal ke London dan aku merasa tak ada keganjalan sedikitpun. Semuanya kutulis dengan kejelian otakku yang terus bekerja dengan kemampuan hingga pentium empat. Aku selalu meneliti setiap kata yang kutulis, berfikir agar rangkaian kataku terdengar indah seindah rangkaian kata tulisan Khalil Gibran. Merapikan runtutan kalimat yang rapi dengan kuatnya dasar pemikiran seperti runtutan kalimat demi kalimat dalam tulisan Habiburrahman El Shirazy yang begitu ekstensif. Menajamkan gambaran saban kata agar mampu membangun visualisasi dalam pikiran pembaca selayak karangan non fiksi Andrea Hirata yang sarat dengan ketelitian kata pelukisan ekspresi.
Sementara itu, kulirik sedikit papan nama berdasar warna hitam bertuliskan Dr. H. Abdullah Syahrial, M.Si. tergletak di atas meja. Penampilannya bersahaja dengan paras yang teduh nan sejuk itu. Dari suasana diam yang tercipta cukup lama, akhirnya terdengar juga perkataan beliau yang menemukan titik kelemahan dari esaiku yang terbentang dalam bahasa inggris itu. “Di tulisanmu ini kamu menyebutkan, bahwa kamu ingin merasakan keramahan kaum muslim di London. Kamu juga ingin mengembangkan potensi Islam di sana. Sedangkan kamu tahu sendiri, Islam bisa disebut kaum minoritas. Begitu juga di London, muslim di kota itu cukup sedikit. Kalau kamu ingin merasakan kenikmatan Islam yang lebih maksimal, mengapa kamu tidak saja melanjutka kuliah ke Mesir, Malaysia ataupun negara timur tengah yang mempunyai banyak Universitas berkualitas dunia. Warga muslim di sana juga cukup dominan?”.
Pernyataannya cukup menyudutkanku. Pernyataannya pula membuat otakku terpenjara. Namun, perlahan bibirku mengajak berterus terang sesuai uraian pikiran yang telah memaparkan sesuatu yang ingin ku katakan. “Mengembangkan potensi Islam itu tidak mengharuskan sanggup direalisasikan di area atau Negara yang mayoritas Islam. Kalaupun di London tidak dominan masyarakat muslimnya, niat saya ini tidak akan surut memperjuangkan agama saya. Agama yang selama ini dilihat sebelah mata oleh orang-orang non-muslim.
Anda tentu masih ingat kejadian yang sudah cukup lama beredar, Islam diinjak-injak oleh film pendek buatan politisi Belanda di suatu situs internet. Saya pribadi sebagai muslim merasa sangat sakit hati. Islam sering dikait-kaitkan dengan teroris.” Aku terdiam spontan setelah berbicara panjang lebar.
“Maka dengan ambisiku ini, Insya Allah aku akan berusaha menolong Islam di London, meski hasil usahaku nanti mungkin tak akan besar, tak akan menghapus sepenuhnya pikiran negatif orang-orang non-muslim sedunia tentang Islam.” Lanjutku berbicara seraya melihat keseriusannya mendengarkan ucapanku.
“Tapi niat kamu tidak segenapnya bukan karena masalah itu kan?”. Pria itu berusaha menjebak.
“Tentu saja bukan karena itu, kita hidup tidak hanya untuk memenuhi tuntutan akhirat. Namun juga untuk dunia. Keduanya harus dijalankan dengan seimbang. Mengejar pendidikan emas di London, sekaligus menambah keimanan diri pada-Nya. Apalagi London adalah kota yang indah. Inggris seperti istana Eropa. Dengan itu pula, seyogyanya menjadikan hati kita terus bertaut pada rasa syukur yang luar biasa pada Yang Maha Sempurna, Allah azza wa jalla yang telah menciptakan otak berlian pada kaum bangsawan sana, kaum bangsawan dengan segala kekayaan potensi membangun arsitektur megah nan elok di tiap sudut kota London. Subhanallah, Allah lah Yang Maha Hebat, Allah jualah yang menjadi dalang kepandaian sumber daya manusia di sana dan juga menjadi kreator hebat pada alam Inggris yang mempesona.” Suasana tiba-tiba jadi hening. Beliau tersenyum tipis melihat mataku yang nampak tergenang air mata keharuan yang mendadak menjamah hatiku.
“Baik, Mungkin itu saja yang bisa saya gali dari kamu,”
Kata-kata itu terakhir ku dengar darinya. Kesahajaannya ku lihat terus melekat di seluruh lekuk wajahnya yang tak lagi muda. Isyarat pun diberikannya padaku menandai berakhirnya sesi wawancara ini.

Satu bulan kemudian…
Sebuah surat bersampul coklat muda tergletak di bawah pintu rumahku yang sepi sepertinya tak berpenghuni. Dengan membenarkan jilbab, aku lekas meraih satu bendel surat tebal itu. Ku buka dengan perlahan diiringi detak jantungku yang kian berdebar cepat diikuti desiran tangan yang penuh kekuatan. Setiap kata yang menyatu dalam kalimat ku baca dengan jelinya setengah mati. Kuserapi makna tiap paragraf dengan sarat konsentrasi.
Bibirku sejalan melengkung sembari terasa getaran hebat dari kedua tanganku yang tiba-tiba dingin diiringi aliran air mata kebahagiaan. Tak kuduga sebelumnya, sepucuk surat yang tengah digenggaman ini berisi pemberitahuan soal beasiswa berharga itu.. Ku baca berulangkali, kulihat dengan teliti urutan sepuluh nama yang berhasil menancapkan impian emasnya di atap luas Inggris Raya.
Nafasku cepat, aliran darahku bagai dikejar setan. Tak tahan suhu tubuhku naik tinggi. Spontan kegembiraanku kuluapkan sesaat setelah namaku jelas ku dengar dari bibirku sendiri. “Pramesti Hamida Alsyifa…, selamat!!! anda berhasil menjadi mahasiswi di Universitas London (London of University). Dimohon kehadirannya…….” Belum sempat kubaca semuanya, teriakanku mendadak lepas dari genggaman lidah dengan suara lantang menyudut dan mengudara di saban telinga mendengar. Sesosok anak kecil bersepeda roda tiga tertawa cekikikan melihatku tersenyum lebar. Sebuah mobil hampir berhenti kala melihatku melonjak-lonjak layaknya anak gadis yang tengah gila.
Lantas, mobil itu kembali melaju saat ku diam dari tingkahku yang aneh. Senyum simpulku ku persembahkan pada penumpang mobil itu sambil terus menggenggam surat penghantarku untuk terbang ke Negara sepak bola itu.
Entah bagaimana ku bisa meluapkan kegiranganku tiada tara ini. “LONDON…I’M COMING…!!!” Hanya ucapan keras ini ku bisa bergejolak riang menerima satu paket hadiah kehidupan yang benar-benar ku tak menyangka. Tak sia-sia do’a demi do’a ku lantunkan sepanjang satu bulan terakhir ini. Kesabaran dan keyakinan besar telah membuahkan nyanyian hati yang penuh bunga-bunga harapan, dan harapan ini akan terus mengembang di sepanjang jejak kehidupan berjalan.

Selasa, 27 Oktober 2009

BERANI MALU KARENA MATERI

Jika Dewi Sandra dengan "Kapan lagi bilang I love You", maka Anang Hermansyah kini tengah mempopulerkan hits "Separuh jiwaku pergi". Kedua artis itu memang sungguh bisa memanfaatkan keadaan. Disaat para media mengekspose hidupnya yang tengah genting, karirnya pun tengah melambung dengan lagu yang memiliki latar belakang kisah hidupnya yang menyedihkan. Memang sungguh ironis, kenapa kisah hidup yang merupakan aib dalam keluarganya mesti dipublikasikan melalui lagu yang pemasarannya lebih mudah. Apakah cuma karena materi yang mereka kejar melalui larisnya lagu-lagu tadi, atau ada maksud lain dari peluncuran single yang bertepatan dengan peliknya konflik rumah tangganya?. Hingga mereka tidak sedikitpun malu dengan melubernya aib keluarga dengan sebuah lagu melow curahan ?.