Selasa, 27 Oktober 2009

BERANI MALU KARENA MATERI

Jika Dewi Sandra dengan "Kapan lagi bilang I love You", maka Anang Hermansyah kini tengah mempopulerkan hits "Separuh jiwaku pergi". Kedua artis itu memang sungguh bisa memanfaatkan keadaan. Disaat para media mengekspose hidupnya yang tengah genting, karirnya pun tengah melambung dengan lagu yang memiliki latar belakang kisah hidupnya yang menyedihkan. Memang sungguh ironis, kenapa kisah hidup yang merupakan aib dalam keluarganya mesti dipublikasikan melalui lagu yang pemasarannya lebih mudah. Apakah cuma karena materi yang mereka kejar melalui larisnya lagu-lagu tadi, atau ada maksud lain dari peluncuran single yang bertepatan dengan peliknya konflik rumah tangganya?. Hingga mereka tidak sedikitpun malu dengan melubernya aib keluarga dengan sebuah lagu melow curahan ?.

Selasa, 08 September 2009

opini

Ketika tim kreatif tak lagi kreatif

Acara TV saat ini memang tak hanya satu macam yang bisa disaksikan. Program berita, musik, sinetron, infotaiment bahkan reality show telah menjamur dengan berbagai judul dari beberapa TV swasta di Indonesia. Dengan banyaknya acara tersebut, masyarakat dipusingkan dengan berbagai alternative tontonan yang tak monoton pada satu jenis saja. Namun, di tengah kemeriahan kreatifitas para lakon dibalik layar TV, ada satu hal yang dirasa ganjal bila diperhatikan. Satu hal yang mengarah pada menumpuknya judul dengan genre yang sama. Ketika satu program muncul di sebuah stasiun TV swasta dan program itu laris di pasaran, maka program tersebut akan ditiru oleh TV swasta yang lain. Ini menandakan bahwa tim kreatif TV tidak lagi mengandalkan kreatifitasnya untuk menghasilkan acara-acara yang lebih variatif dan fres. Hanya mengedepankan kadar komersil yang dapat diserap oleh mereka yang bekerja sebagai pengelola acara TV. Selain itu, terkadang pada suatu waktu layar TV hanya disesaki oleh satu acara yang itu-itu saja. Lama-kelamaan masyarakat akan bosan dengan tontonan yag tidak menyuguhkan keragaman.

opini

Mana Penegakan Keadilan di Negeri Kita?


Nama Prita Mulyasari mengemuka ketika dirinya terseret kasus hukum terkait pencemaran nama baik sebuah Rumah Sakit swasta di Tanggerang karena tulisannya yang berisi sebuah keluhan saat Prita berobat di Rumah Sakit tersebut. Ironis, bila kita melihat peristiwa di atas, yang seakan mengingatkan kita pada penegakan HAM di Indonesia yang tidak terealisasi dengan baik. Para petinggi hukum kita seolah memperlihatkan sempitnya ruang dalam kebebasan menyatakan pendapat. Padahal, Hak seseorang untuk berbicara dan mengeluarkan opini merupakan hak asasi manusia yang harus dilindungi Negara. Artalyta saja yang jelas-jelas bersalah dalam kasus suap BLBI hanya diganjar 5 tahun penjara, namun mengapa Prita yang seorang ibu rumah tangga yang ingin mengungkap buruknya sistem pelayanan publik di Indonesia harus mendapatkan hukuman 6 tahun penjara. Ini benar-benar tidak adil, Indonesia mesti bercermin soal penegakan hukum, termasuk kasus-kasus HAM yang banyak merugikan masyarakat tak berdosa.

Rabu, 06 Mei 2009

opini

Pejabat kita dibutakan cinta

Kasus pembunuhan Direktur PT. Putra Rajawali Banjaran (PRB), Nasrudin Zulkarnaen maret lalu harus menyeret nama beken di podium teratas KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Saat ini Antasari yang menjadi ketua nonaktif KPK tersebut disinyalir menjadi otak dari pembunuhan terencana itu. Motif pembunuhan yang masih terdengar ke permukaan adalah cinta segitiga antara kedua pejabat tersebut dengan seorang gadis 22 tahun yang tercatat sebagai mahasiswi STIMIK Raharja Tangerang jurusan manajemen komputer, Rani Juliani. Pertemuan Antasari dan Nasrudin dengan Rani berawal di sebuah padang golf modern Tanggerang. Rani yang lebih cantik diantara semua caddy di padang golf tersebut membuat kedua petinggi tersebut tertarik. Dan peristiwa cinta segitiga tersebut harus berujung dengan kematian. Memang sungguh ironis bila kita melihat fenomena yang saat ini menjadi topik terlaris di media. Hanya karena wanita dan cinta buta, Antasari harus rela menghapus segala kewibawaannya di KPK dan Nasrudin mesti pergi ke lain dunia. Semoga saja kejadian seperti ini tak lagi terdengar dari pejabat-pejabat negara yang notabene memiliki keintelektualan yang patut diperhitungkan oleh masyarakat luas

Jumat, 27 Maret 2009

cerpen

PAHLAWAN KESIANGAN

“Krriiiinnggg.........” suara dering jam beker yang ada di kamar Refand. Ternyata, tak disadari hari sudah larut pagi. Matahari cerahnya sudah nangkring di ufuk timur. Refand membuka matanya dengan segera dan terasa paksa. Sesaat Refand terhentak, matanya melotot dengan raut wajah yang terlihat gelisah.
“Ya ampun!!!udah jam 7”gerutunya penuh kecewa.
Refand pun tak ingin lama-lama di ranjangnya. Ia segera beranjak dari keberadaannya dan ia pun dengan tangkas melompat ke kamar mandi. Dari kamar mandi, Refand langsung bergegas siap-siapdengan segala kebutuhannya pagi ini.
“Tap…tap…tap…!!!” dengan sigap Refand langsung pergi ke sekolah tanpa harus belok ke ruang makan, karena dia sudah menemuai keadaan yang amat genting. Hanya jabatan singkat tangan sang ibu membuat Refand ingin cepat-cepat bertatap muka dengan wajah sekolah yang masih ada dalam pikiran.
“Aduh!! gawat, pasti aku telat nih!!” batinnya menggumam seraya berlari mengejar waktu yang jadi musuh bebuyutannya pagi ini. Dia berlari dan cepa-cepat berlari, namun sesaat langkah Refand terhenti, ketika ia melihat pria yang sudah lanjut usia. Pria renta itu mengalami kesulitan menyebrangi jalan yang terasa sesak akan keramaian. Hatinya terketuk tuk membantukakek-kakek yang sudah tak berdaya untuk menapak jalanan itu. Dia langsung memegang pundak pria tua tersebut dengan berkata”Mari kek saya bantu” sang kakek pun tersenyum simpul. Lantas, Refand membantunya meniti trotoar yang terlihat kepadatan ibukota. Perlahan dekapkaki kakekl dan Refand melewati zebracros yang di kedua sampingnya terlihat kendaraan-kendaraan terhenti karena lampu merah sudah menyala.
Setelah tiba di tujuan, yang ada di seberang jalan . Refand tak sadar, waktu sudah terlalu siang untuk ia berangkat ke sekolah. Dia pun langsung cepat-cepat pergi meninggalkan pria renta tadi.”Maaf kek. Aku pergi dulu ya…”
“Tri-ma-ka-sih-ya…”ujar kakek terletup-letup.
“Iya kek!”balas Refand dengan tergopoh-gopoh dan berlari dengan laju yang melebihi ljukuda liar. Akhirnya Refand tiba juga dengan mata terpejam dan nafas yang tertatih-tatih disertai penuh harap agar ia masih bisa masuk ke dalam sekolahnya.
Namun sungguh malang, sesaat matanya terbuka, ia melihat pintu gerbang sudah dalam keadaan tertutup.”Astagfirullahhaladzim!! aku benar-benar telat!!”seru Refand sembari menepuk keningnya.

artikel

KITA LEBIH BERUNTUNG


Di negeri Indonesia yang kaya ini banyak bibir yang masih bisa tertawa, tersenyum, memuji dan mengagumi. Di sini pula diri ini masih tebal akan perlindungan. Masih tenang memikirkan kehidupan esok. Masih tak merasa was-was menatap waktu yang terus berjalan ke depan. Masih bebas bermain ke sana ke mari tanpa dikejar-kejar rasa ketakutan yang mendalam. Masih nyenyak tidur dan menikmati lezatnya makanan tiap kali kita menyantap hidangan tanpa perasaan gelisah, gugup dan khawatir.
Tapi, kita tidak pernah tahu bagaimana goyahnya rasa ketenangan banyak saudara islam kita di negeri seberang Palestina. Mereka seperti semut-semut yang dengan gampang dilenyapkan seketika berjuta nyawa melayang di tengah kebiadapan tentara Israel. Segudang teriakan, tangisan serta rintihan terus bergemuruh dari warga sipil Palestina yang tengah dikepung oleh bombardiran iblis Israel. Telah sering kita saksikan bagaimana sejarah perang 2 negara tetangga itu di televisi. Hampir sepertiga korban tak berdosa serangan Israel adalah anak-anak. Anak-anak dengan melan kholisnya melihat tanah airnya luluh lantah menyatu tanah dengan kepedihan tiada tara. Mereka tak pernah mudah mendapatkan ilmu yang semestinya mereka dapatkan seperti anak-anak di belahan dunia lainnya. Bibir mereka pun seolah amat sulit tuk dilengkungkan kembali. Hanya air mata yang setia menemani malam-malam tiada ketenangan.
Mungkin salah satu dari mereka sudah tiada nafas, tiada lagi kasih dari kedua orang tua, tiada pelukan dari kakak atau adik mereka yang senantiasa memberi cinta yang tulus. Masa depan mereka tiada guna untuk terus diukir. Tiada keleluasan dalam menatap cerah cita-cita mereka. Tiada harapan dan mimpi besar untuk dikepakkan di usia mereka mereka mendatang. Anak-anak kecil Palestina hanya bisa merenungi nasib tanpa bahagia sedikitpun. Tua, muda, remaja, anak-anak, bahkan bayi sekalipun harus menanggung penderitaan dari pertikaian 2 negara yang sudah di nashkan di Al qur’an.
Kita sebagai rakyat Indonesia mungkin lebih beruntung daripada nasib anak-anak Palestina yang tengah dilanda konflik. Meski negeri ini juga tak lepas dari masalah, namun setidaknya kita bisa tersenyum, tertawa dan ada harapan untuk mencapai masa depan yang lebih cerah.



SUSAHNYA JADI REMAJA

Usia remaja adalah tahap awal dari pengenalan dunia usia dewasa. Belajar untuk memulai kemandirian diiringi pencarian kualitas diri sebagai bekal di masa datang. Namun, banyak masyarakat yang terkadang menganggap remeh para remaja. Mereka hanya melihat dari sisi negatif yamg sering menjadi menu hangat permasalahansosial di berbagai media yang timbul akibat masih labilnya emosi dan daya pemikiran.
Remaja dituntut memiliki kemampuan dan keseriusan dalam mempersiapkan kepemimpinan ataupun rasa tanggung jawab yang besar.Di usia itu, bakat dan minat disaring dari beberapa komunitas baik di luar maupun di dalam sekolah. Diharapkan sanggup mengembangkan potensi diri yang mungkin masih tersimpan rapat-rapat.. Melalui komunitas tersebut, para remaja bisa menggali dalam-dalam keutamaan bakat yang dimiliki demi kelangsungan hidup di waktu yang akan datang.
Tak sedikit remaja yang lalai akan tanggung jawab untuk mengenal hidup lebih realistis. Mereka hanya menyatu dalam pemikiran hedonis, glamor, mewah, dan tanpa pertimbangan untuk menyerap hidup kebarat-baratan. Lingkungan tanpa sadar meminta kewajiban seorang remaja untuk terusa dapat mengikuti trend sesuai era yang ada. Banyak trend di kalangan remaja yang mampu membawa mereka ke dalam identitas ketidakpercayaan sebagai fase awal kehancuran mental untuk berbuat kebenaran.
Beberapa tuntutan nihil makna dalam kehidupan remaja :
 Memiliki someone lebih dari teman alias pacar
Yang satu ini sering dikait-kaitkan sebagai pengenalan kehidupan pranikah. Berhubung individu remaja yang kerap dihinggapi syndrom jatuh cinta, mereka berani meneruskan rasa tertarik kepada lawan jenis mereka tanpa tahu bahwa yang dilakukan hanya sekedar jalan pelurus menuju lubang kemaksiatan. Dan dalam dunia remaja, istilah pacaran sering dihubung-hubungkan dengan anak gaul. Jika mereka ingin dikatakan anak gaul, pacaran pun dipilihnya tanpa dasar cinta dalam hati.
Islam tak mengkategorikan dosa pada rasa tertarik kita pada lawan jenis. Hanya saja islam memiliki batasan-batasan dalam mengendalikan rasa tertarik itu dalam diri kita. Rasa tertarik(rasa kagum) tersebut adalah kewajaran dan merupakan bentuk kenormalan kita sebagai remaja yang melalui fase pubersitas. Namun sebagai remaja islam, kita harus pintar-pintar dam menghandle rasa istimewa itu. Memandangnya dengan lekat-lekat + nafsu ingin memilikinya bisa dikodekan sebagai bentuk dosa atau dosa mereka. Apalagi mengekspresikan rasa itu secara berlebihan. Sebagai manusia ciptaan-Nya, manusiawi bila rasa itu sering menghinggapi kita. Tinggal bagaimana kita bisa mengatur semua rasa suka, kagum, tertarikpada lawan jenis kita tanpa meninggalkan noda-noda dosa dalam diri kita.
 Jadi remaja super fashionable
Fashion yang terus memetamorfosa setiap masanya akan menuntut remaja mengikuti itu semia. Dari pakaian ataupun aksesoris yang melengkapi menjadi daya tarik anak-anak muda untukdikenakan. Meski dengan budget melangit, mereka tetap bersikukuh melawan rasa keraguan untukmemilikinya. Hanya berdalih ingin di cap anak gaul. Mereka tak berpikir dampak negatif atau pengaruh sia-sia yang akan menimpa mereka. Terkadang pakaian eranya sudah menyepuh akan ditumpuk rapat-rapat dalam almari tanpa guna. Bagi yang berduit, tak apalah itu semua, tapi bagi remaja dengan keadaan ekonomi pas-pasan, rugi besar baginya. Ini pun yang menjadi faktor dimana remaja ingin diakui identitasnya melalui fashion yang selalu happening di masanya. Dan berhati-hatilah bagi remaja yang tak ingin terjerumus dalam dunia hedonis masa kini lewat cepatnya perkembangan dunia fashion tiap era dengan tetap berpegang teguh pada tali Allah.
 Menuntut remaja dengan IT tinggi
Sama halnya dengan perkembangan dunia fashion yang cepat berganti masa, dunia IT juga tak kalah fantastis dalam sisi perputaran kualitasnya. Pengaruh pada remaja pun juga super besarnya. Bisa dikatakan kulitas remaja saat ini ditimbang melalui kemampuannya dalam pemahaman terhadap dunia teknologi dan informasi bukan kemampuannya dalam menguasai pelajaran di bangku pendidikan. Dari perkembangan dunia IT, remaja bisa memperoleh ilmu dari berbagai sumber yang tak sedikit. Sehingga, remaja tidak cenderung pada satu literatur yang kandungannya mungkin sangatlah kurang. Namun, yang membuat ironis adalah efek buruk yang timbul tanpa sadar dari perkembangan dunia IT, remaja hanya fokus pada kandungan dunia teknologi dan informasi yang mampu menjerumuskan pada lubang kemurkaan.

puisi

GAZA DI MALAMNYA...

Gaza… di malammu…
Gelap…
Hitam…
Remuk redam bangunannya
Menyatu tanah tak berguna… tak berupa…

Gaza… di malammu…
Gelap…
Hitam…
Malamnya bagaikan hutan belantara
Ataukah…
Selayak jurang penuh liang kematian

Gaza… di malammu…
Hitam… dan gelap…
Sunyi dari tawa dan canda mulutnya
Mungkin tangisan akan menyimpul rekaman otaknya
Pandangannya menyatu warna hitam…
Tak ada lainnya…
Mungkin hanya gencatan warna mengkilat
Seakan jembatan pintu ajalnya

Gaza… di malammu…
Hitam…dan gelap…
Ku menatapmu… aku takut…
Linangan darah menyengat hidungku dengan baumu
Entah darah jiwa tak berdosa siapa ?
Ku membayangkanmu… aku iba…
Tangan kecilku tak mampu terangkat untukmu
Hanya bibirku terangkat tuk sanggup do’akan dari kejauhan

Gaza… di malammu…
Hitam… dan gelap…
Esokkah kau akan ada ?
Esokkah kau pasti berdiri ?
Esokkah jahatnya masih mengintaimu ?
Esokkah dunia kan bersamamu ?

Gaza… di malammu…
Hitam… dan gelap…
Masihkah kau punya kekuatan ?
Masihkah kau mampu bertahan ?
Masihkah kau berdaya dengan segala keadaan ?
Masihkah sosokmu kan ku lihat di masa datang ?
Gaza… di malamu…
Hitam… dan gelap…



APA ARTI MIMPI ITU ?

Tak bertanda sebelum aku menutup mata
Tak berisyarat ketika ingin melepas lelah
Peluhku hanya terasa dalam jiwa
Jalani hariku yang biasa terkira

Dalam lelapku…
Ku tersenyum kala ada wajahmu
Berkata di tengah semu bayanganmu
Bercanda saat suasana kabur malamku

Dalam lelapku…
Hatiku bergetar dengan lekuk bibirnya
Terasa punah dalam kesedihan dan lara
Terasa indah pandanganelok matanya

Dalam lelapku…
Mimpi itu berkali hadir menjamuku
Dan parasnya tak berhenti terusir
Dari bunga tidurku yang tak ku mengerti

Apa arti mimpi itu ?
Ketika wajahmu datang tak ku inginkan
Kala hadirmu muncul tak ku harapkan
Saat parasmu menyelinap dalam keheningan malam

Oh… sungguh kaya teka-tekihati ini
Apakah aku ada rasa padanya ?
Entah mimpi itu mengisyaratkan apa…?
Entah rasa apa yang tumbuh tak ku duga…

Ya Allah arahkan hati ini…
Agar zina tak mengalir dalam jiwa ciptaan-Mu itu


SYAIR SAHABAT

Sahabat…
Sahabat adalah setitik cahaya kasih pada satu jiwa yang mati
Sahabat adalah setetes air murni di tengah gurun pasir tanpa tepi
Sahabat adalah malaikat, bersayap, tersenyum, dan menggapai kita dari keputusasaan

Sahabat…
Sahabat adalah bayangan semu yang mendekap aku dikala air mata bercucuran
Sahabat adalah diary yang selalu tanpa pamrih jika hati ingin bicara
Sahabat adalah hujan yang menyejukkan
Sahabat adalah segalanya


HUJAN...

Kulihat hitam mengepul
Satu awan tengah mengumpul
Sesekali halilintar membelah langit
Mengisyaratkan lautan air meneropong daratan

Badai kencang mengguncang
Tandai putusnya penopong awan hujan
Roboh dan jatuh deras menyegarkan bumi
Rintik-rintiknya menyatukan celah tanah kemarau

Wujudnya yang sejuk terkadang buatku menangis
Memohon tak ada bahaya siang itu
Mengharap petir dan angin jahat jauh dari mataku
Meminta ampunan dengan adanya itu

Hujan… Kau rizki-Nya yang maha ku butuhkan
Meski kau hanya setitik air
Namun lidahku terus menjerit-jerit mengajakmu pergi
Hujan… kau seakan buih rindu yang membuncah
Berjuta paras menunggumu di tengah gersangnya pepohonan meranggas
Hujan… kau seolah ratu yang dicari
Kehidupan mati tanpamu, meski dengan setetes air yang kau beri